Kapan Pulihnya Negeri Ini?

Catatan : Sadra Munawar.
Dalam perjalanan menuju desa dampingan, Kampung Arul Cincin dan Kampung Blang Rakal Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kanupaten Bener Meriah kemarin ( 06 Mei 2026 ), saya menggunakan transportasi umum dari rumah. Tidak lama setelah naik, kebetulan sekali seorang rekan juga ikutan naik. Begitu dia melihat saya, dia langsung bertanya saya mau ke mana.
“ _Mau ke desa dampingan, bang, abang dari mana?” Saya balik bertanya_
“ _Tadi ada yang dibelanja” Jawabnya sembari menjabat tangan saya_ .
Banyak hal yang kami bicarakan di perjalanan, mulai dari hal sederhana hingga yang sangat penting sekali. Tentu saja menjadi latar belakang ulasan ini tersaji ke layar handphone pembaca, karena dari keberagaman pembicaraan kami ada kalimat yang penting sekali di antara hal-hal yang tidak kalah penting lainnya yaitu “Kapan pulihnya negeri ini”.
Sadar atau tidak, kita telah melewati sekitar 161 hari pasca bencana ekologi yang meluluhlantakan negeri ini. Masyarakat tidak hanya rugi harta, bahkan nyawa. Mirisnya, ada mayat yang hingga kini tidak diketahui di mana jasadnya.
Menyedihkan sekali memang, namun kita juga tidak menutup mata dengan apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Beberapa jembatan bailey misalnya sudah terpasang, sembako yang sudah dibagikan, listrik yang sudah diperbaiki, dan lain-lain.
Kembali kita bertanya, apakah semua masyarakat sudah merasakan jembatannya sudah diperbaiki? j alan mereka mencari rezeki sudah bagus kembali? Air bersih mereka sudah mengalir? Rumah mereka yang sudah rusak bahkan hilang sudah terbangun? Bagaimana dengan sawah dan kebun mereka yang tidak hanya rusak, namun sudah hilang? Listrik mereka yang masih padam, kapan itu nyala kembali? dan pertanyaan lainnya yang kerap kali muncul.
Dari segudang pertanyaan itu wajar sekali kita merenung atas apa yang sudah dilakukan oleh pemangku kebijakan ini yang notabene merekalah yang sangat bertanggung jawab atas apa yang terjadi saat ini. Ironis memang, jika pemerintah tidak maksimal dalam melakukan pemulihan atas bencana Sumatera.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang kuat dan mampu menghadapi berbagai cobaan, termasuk bencana alam yang saat ini terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam sambutannya pada acara Doa Bersama dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-61 Partai Golkar, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat, 5 Desember 2025.
_“Kita berkumpul di saat sebagian saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sedang mengalami musibah. Saudara-saudara sekalian, musibah ini sesuatu yang memang kita rasakan penderitaan, kesulitan, tantangan daripada saudara-saudara kita di situ,” ujar Presiden Prabowo_ .
_“Namun di lain pihak, kita juga menyadari bahwa bangsa kita, negara kita ternyata adalah negara yang besar dan yang kuat. Kita mengalami cobaan-cobaan, kita mengalami badai, kita mengalami bencana, tapi bangsa kita kuat, utuh, dan bangsa kita mampu mengatasi semua cobaan yang kita hadapi,” lanjut Kepala Negara._
Saya melihat ungkapan seorang kepala Negara pada 05 Desember 2025 lalu itu tidak lebih dari “obat penenang”. Obat yang meredakan kecemasan masyarakat terdampak bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, terbukti dari yang sudah dikerjakan oleh para pembantunya di lapangan.
Harusnya jalan telah pulih, kita telah bangkit, roda perekonomian kembali normal, aktivitas pertanian, perkebunan masyarakat juga mestinya perlahan membaik, namun saat ini kita seolah dipaksa kuat, menghadapi cobaan yang terjadi.
Mestinya saat ini kita tidak lagi menyaksikan jembatan Enang-Enang putus, sehingga jika hendak berpergian keluar kota harus melewati jalan alternatif melalui Kampung Wih Porak memakan waktu 45 menit sampai dengan 1 jam atau bisa saja memakan waktu lebih lama jika macet panjang. Jalan alternatif ini tidak sepenuhnya bagus karena juga terdampak bencana. Ada beberapa titik yang rusak parah yang menjadi penyebab macet terjadi.
Kita juga menyaksikan jalan dan jembatan di KM 60 yang belum diperbaiki hingga saat ini pengendara masih menggunakan jembatan darurat, Jembatan di KM 62 Tenge Besi juga begitu kondisinya masih juga menggunakan jembatan bailey dan jembatan darurat, selanjutnya jembatan di Umah Besi juga masih belum diperbaiki.
Tentu saja masih banyak lagi jalan yang rusak dan jembatan yang masih menggunakan jembatan “sementara”, kita mengetahui bersama problema ini menjadi salah satu penyumbang terbesar atas melemahnya perputaran ekonomi di daerah ini. Turunnya penjualan usaha mikro kecil menengah (UMKM), turunnya pengunjung wisata ke kota Takengon, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Naiknya ongkos transportasi umum dan lain-lain.
Semoga saja dampak bencana ini cepat berlalu dan negri ini segera pulih. Aamiin
_Penulis adalah pemuda Bener Meriah, Aceh_













