Artikel · Potret Online

Krisis Yaman dan Kebisuan Umat

Mei 6, 2026
12 menit baca 13
IMG_1083
Foto / IlustrasiKrisis Yaman dan Kebisuan Umat
Disunting Oleh

Oleh: Teuku Johar Gunawan

Setelah memuji Allah dan bershalawat – mari kita renungi krisis yang terjadi di Yaman dan arti Yaman bagi kita. Ada 11 juta anak dari 20 juta orang – butuh bantuan kemanusiaan di Yaman, lima juta lebih orang mengungsiTambahkan suara dan doa kita buat Yaman.

Krisis di Yaman merupakan krisis kemanusiaan terbesar abad ini, di samping Palestina.  Krisis ini bukan karena bencana alam,  tapi hasil buatan manusia atau man-made crisis – agar terjadi perang di sana. Kebijakan luar negeri negara lain, terutama Amerika—yang merasa jadi “polisi dunia” dan hampir selalu saja terlibat dalam kerusakan di banyak belahan bumi— dan Inggris bersama sekutunya di kawasan Timur Tengah telah merubah lanskap politik di Yaman.

Mereka mengklaim ingin menumpas kelompok ekstremis di Yaman. Dalam salah satu konflik, Amerika Serikat bekerja sama dengan sekutu-sekutu Arabnya — terutama Uni Emirat Arab — dengan tujuan memberantas kelompok ekstremis yang dikenal sebagai Al-Qaeda di Semenanjung Arab, atau AQAP. Namun, misi yang lebih besar adalah memenangkan perang melawan Houthi di Yaman.

Model Hegemoni Global yang Berulang

Kenyataannya, sebagaimana dilaporkan oleh The Associated Press (AP), Michael Horton, seorang peneliti di Jamestown Foundation, sebuah lembaga analisis AS yang memantau terorisme mengatakan: 

Elements of the U.S. military are clearly aware that much of what the U.S. is doing in Yemen is aiding AQAP and there is much angst about that” (Beberapa pihak di militer AS jelas menyadari bahwa banyak tindakan yang dilakukan AS di Yaman justru membantu AQAP, dan hal itu menimbulkan kekhawatiran yang besar).

Kita melihat ini sebagai model yang berulang oleh Amerika dan sekutunya. Memunculkan kelompok sempalan di suatu wilayah yang akan dijadikan target untuk dihancurkan dan dibuat terdisintegrasi— jika mereka tidak merasa cocok dengan pemerintahan yang ada. 

Lalu mereka buat alasan untuk menyerang kelompok sempalan tadi – atas nama “terorisme”, menjaga stabilitas regional. Kemudian jika muncul kelompok lokal melakukan perlawanan yang tidak sejalan dengan misi mereka, maka mereka berikan stigma kelompok itu sebagai “pemberontak” atau “rebel” atau ancaman bagi Amerika atau sekutunya. 

Selanjutnya ketika negara tersebut sudah berada dalam ambang perpecahan dan kehancuran, maka kekuatan global akan datang menawarkan diri sebagai penengah, dan membentuk pemerintahan baru di bawah kendali dan untuk kepentingan kekuatan global. 

Biasanya mereka tidak lupa sambil mengeksploitasi kekayaan alam wilayah tersebut. Ini rumus dasar lama: divide and conquer (pecah belah kuasai).

Kita menyadari bahwa konflik di Yaman tidak sederhana. Kita juga membaca bahwa Amerika telah terlibat dalam penjualan senjata kepada kerajaan milik keluarga Su’ud atau Saudi. Senjata itu membantu Saudi memimpin koalisi dengan UAE ketika mereka ikut campur dalam persoalan kekuasaan (domestik) di Yaman pada tahun 2015.  

Di satu sisi lainnya adalah kekuatan perlawanan lokal dari Yaman yang – dan sering disebut di media Barat sebagai “pemberontak” Houthi. Dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), maka koalisi tersebut melancarkan serangan udara ke Yaman untuk menghilangkan perlawanan Houthi.  

Namun di luar stigma Barat dan media Barat terhadap Houthi, dunia melihat dan mencatat kenyataan bahwa ironisnya Houti—yang telah diperangi oleh Saudi dan koalisinya itu— yang justru bergerak membela saudara-saudara kita di Gaza Palestina dalam melawan Zionist Israel, ketika kebanyakan negara-negara teluk yang merupakan sekutu Amerika dan Israel justru berdiam diri dan tidak melakukan sesuatu yang signifikan—termasuk Saudi— melihat Zionist melakukan genosida terhadap saudara mereka sesama muslim di Gaza. 

Malah ada negara teluk yang melakukan normalisasi dengan Zionist Israel di tengah penderitaan tetangga dan saudaranya sesama muslim.

Tujuan akhir dari seluruh orkestrasi tersebut bagi Barat dalam konteks kepentingan strategis mereka adalah hegemoni. Jika Yaman terdisintegrasi lewat berbagai kepentingan faksi-faksi, maka Yaman bisa dikuasai—tentu melalui proxy mereka di Timur Tengah. 

Mengapa menguasai Yaman begitu menarik?

Jawabannya adalah karena letaknya yang strategis di Selat Bab el-Mandab, sebuah titik krusial dalam pelayaran internasional, menjadikan Yaman berperan penting dalam perdagangan energi internasional, dan juga karena kekayaan Yaman dengan cadangan minyak bumi 3 milyar barrel

Bahkan studi dari Survey Geologi US tahun 2024 lalu, memperkirakan ada potensi 261 juta barrel minyak, 4.5 triliun cubic feet (TCF) gas yang bisa diambil dengan teknologi yang ada, namun belum dieksplorasi.  

Itulah mengapa Yaman menjadi target bagi kepentingan hegemoni global Amerika dan sekutunya. Jadi Yaman sangat strategis bagi kepentingan mereka ke depan.

Dan pola hegemoni global demikian telah diterapkan dengan berhasil di beberapa tempat lain, dan coba juga dilakukanterhadap Yaman.

Anak-anak, Wanita dan Orangtua Korban di Tengah Krisis

Dan yang paling menderita tentu saja sebagaimana di banyak krisis di suatu wilayah adalah anak-anak dan wanita. Penduduk sipil dari rakyat Yaman. Modus yang berulang di banyak tempat oleh kekuatan global yang ingin menancapkan hegemoninya.

Di Yaman, jutaan orang menghadapi kelaparan parah. Keluarga-keluarga bertahan hidup hanya dengan roti dan air, para ibu rela lapar agar anaknya bisa makan, sistem kesehatan runtuh. Perang yang berkepanjangan, kehancuran ekonomi, dan pemotongan bantuan telah menjadikan kelaparan sebagai kenyataan sehari-hari—terutama bagi perempuan dan anak-anak, yang merupakan mayoritas dari para pengungsi.  Ini adalah krisis kelangsungan hidup, di mana harapan semakin menipis.

Unicef dalam situsnya menyebutkan: “Yemen continues to face multiple crises, including ongoing conflict, economic insecurity, widespread malnutrition, a fragile healthcare system, and recurrent disease outbreaks, all of which compound one of the largest humanitarian crises in the world.” (Yaman terus menghadapi berbagai krisis, termasuk konflik yang berkepanjangan, ketidakpastian ekonomi, malnutrisi yang meluas, sistem kesehatan yang rapuh, serta wabah penyakit yang berulang, yang semuanya memperparah salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia).

Jumlah anak-anak yang membutuhkan bantuan kemanusiaan ada 11 juta jiwa, penduduk yang membutuhkan pertolongan 20 juta jiwa, dan yang menjadi pengungsi 4.5 juta jiwa (sumber: unicef), bahkan data tahun 2026, ada 5.2 juta pengungsi lokal (sumber:UNOCHA Response Plan 2026).

Press release oleh United Nation Human Right Office of The High Commissioner Agustus 2018, menyebutkan antara lain bahwa serangan udara koalisi itu telah menyebabkan sebagian besar korban sipil langsung. Serangan udara tersebut telah menghantam kawasan pemukiman, pasar, upacara pemakaman, pesta pernikahan, fasilitas penahanan, kapal sipil, dan bahkan fasilitas medis. 

Antara 26 Maret 2015 sampai 9 Agustus 2018 mereka mencatat 17,062 korban masyarakat sipil meninggal, dan 10471 atau 61 % lebih darinya disebabkan karena serangan udara koalisi pimpinan Saudi di atas (sumber briefing UN High Commissioner for Human Rights tanggal 10 Agustus 2018).

Human Right Watch (HRW) sebuah organisasi independen kemanusiaan melaporkan bahwa Koalisi pimpinan Saudi dalam penyerangan ke Yaman, telah mencegah bantuan dan barang-barang komersial sampai ke tangan warga sipil di wilayah yang dikuasai Houthi.

“Koalisi tersebut telah memberlakukan blokade laut dan udara terhadap Yaman sejak konflik saat ini dimulai pada Maret 2015, yang telah sangat membatasi pasokan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan bagi warga sipil, sehingga melanggar hukum kemanusiaan internasional”

James Ross, Direktur Bidang Hukum dan Kebijakan di Human Rights Watch mengatakan bahwa: “Strategi militer koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman semakin difokuskan pada upaya mencegah bantuan dan barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan sampai ke tangan warga sipil, sehingga membahayakan nyawa jutaan orang”.

Tindakan blokade bantuan kemanusiaan kepada penduduk sipil mirip tindakan Zionist Israel yang juga berusaha menghalangi warga sipil Gaza memperoleh bantuan kemanusiaan dari luar agar warga Gaza kelaparan. Itu jelas adalah pelanggaran hukum internasional.

Pada laman UN News 26 Maret 2026 lalu di bagian Global perspective Human stories ditulis: “Ten years. That’s how long Yemenis have been putting their lives on hold – through airstrikes, through hunger, through loss. A decade of war has left Yemen’s infrastructure in ruins and its people exhausted. And yet, as the eleventh year begins, the world seems not to notice Yemen’s plight”.  

Intinya: bahkan dunia seolah tak sadar penderitaan Yaman meski telah berlalu 10 tahun. Membaca ini nurani kita menyadari betapa sulit dan pedihnya keadaan di Yaman.

Yaman – Referensi dan Kontribusi di Dunia Islam

Padahal Yaman adalah begitu dekat kepada kita.  Yaman begitu berarti bagi kita. Yaman bagian dari umat Islam dan merupakan warisan Islam, dicintai Nabi, disebut-sebut oleh Nabi Muhammad SAW dan ada referensi di dalam Al-Quran yang berhubungan dengan Yaman.

Nabi pernah menyebut bahwa orang Yaman adalah orang yang mempunyai perasaan halus dan lembut hatinya. Nabi juga menyebut bahwa Al-imanu Yamani (Iman itu pada orang Yaman), memuji kualitas iman yang dimiliki oleh orang Yaman. 

Dan ini bisa dilihat pada saat ini. Ketika hampir seluruh pemerintahan di negeri-negeri yang penduduknya muslim berdiam diri terhadap kejahatan genosida oleh Zionist Israel terhadap saudara-saudara kita di Palestina, justru rakyat Yaman membela mereka. Di luar pro dan kontra soal Houthi, kenyataannya kekuatan militer Houthi dari Yamanlah yang melakukan perlawanan kepada Zionist Israel, walaupun jarak mereka yang jauh. 

Meskipun di tengah keterbatasan keadaan, semangat untuk membela saudara sesama muslim di Palestina tidaklah padam. Mereka luncurkan drone buatan lokal ke arah wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Zionist. Mereka juga memboikot kapal-kapal yang ada hubungan dengan Zionist Israel sebagai solidaritas dan balasan atas kekejaman dan genosida yang terus dilakukan oleh Zionist Israel kepada warga Gaza.

Pembelaan demikian terhadap sesama muslim yang tengah dizalimi itu menunjukkan kualitas iman yang tinggi dari Yaman. Mereka paham bahwa muslim adalah bersaudara – dan mereka mengamalkannya dalam kehidupan nyata di saat saudara kita di Palestina benar-benar membutuhkan dukungan dari sesama muslim di seluruh dunia.

Rasulullah juga memuji bahwa hikmah atau wisdom itu ada di Yaman atau berasal dari Yaman.

Dan bahkan Rasulullah mendoakan Yaman. Doanya adalah “Allahumma baariklana fii Yamanina” (Yaa Allah berkahi lah kami pada Yaman kami), dan doa yang sama buat Syam (Palestine dan sekitarnya termasuk Damaskus, Lebanon). 

Perhatikan kata-katanya bukan sekadar “Berkahilah kami pada Yaman” tapi “berkahilah kami pada Yaman kami.” Demikian untuk Syam beliau menyebut “Syam kami” atau Syaaminaa

Kata-kata “Yaman kami” menandakan kedekatan hati Rasulullah kepada Yaman dan kedekatan Yaman di hati muslim sebagai bagian integral dari umat ini.

Sebagai umat Islam kita tidak lupa bahwa kiblat kita semua adalah Ka’bah yang ada di Mekah. Dan pada Ka’bah tersebut ada satu rukun atau sudut yang disebut Rukun Yamani atau Sudut Yaman. Letak Rukun Yamani tersebut adalah sebelum rukun Hajar Aswad (sudut yang ada batu hitam) dalam putaran tawaf. 

Muslim yang pergi umrah atau haji dan melaksanakan tawaf pasti tahu bacaan standar yang disunatkan dibaca antara Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad adalah doa yang kita sering sebut doa sapu jagat – yaitu doa permohonan kebaikan dunia dan akhirat dan dijauhkan dari api neraka. Kita hafal doatersebut.

Jadi Yaman menjadi bagian penting dari dunia Islam. Sejarah menunjukkan bahwa rombongan yang pertama-tama mampir dan kemudian menetap di Arabia adalah berasal dari Yaman.Bahkan kaum Anshar yang menolong Rasulullah dan muhajirin ketika Hijrah ke Madinah adalah berasal dari Yaman.

Tak bisa dipungkiri bahwa ada referensi nyata yang berhubungan dengan negeri Yaman di dalam Al-Quran.Misalnya kisah yang terkenal ketika Nabi Sulaiman AS, tidak menemukan burung Hud-Hud dalam barisan pasukannya. Ketika burung Hud-Hud itu kembali dan Nabi Sulaiman—yang menguasai bahasa burung—menanyakan alasan ketidakhadirannya maka burung Hud-Hud menjawab bahwa ia terbang ke suatu daerah bernama Saba’ di mana ada seorang ratu dengan singgasana yang besar dan berkuasa,tapi sayangnya mereka menyembah matahari. 

Kita tahu ceritanya dalam Al-Quran bahwa kemudian Ratu Balqis (atau Bilqis) – nama ratu dari kerajaan Saba’ tersebut —beriman kepada Allah di bawah bimbingan Nabi Sulaiman AS.  Dan negeri Saba’ berada di Yaman.

Bahkan nama Saba’ diabadikan sebagai satu surat dalam Al-Quran yang disebut Surat Saba’.

Kontribusi Yaman terhadap Islam tidak berhenti di sana. Kita tahu bahwa periwayat hadis terbanyak adalah Abu Hurairah (semoga Allah ridha kepadanya), dan beliau berasal dari Yaman.Sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Musa Al-Asy’ari (semoga Allah ridha kepadanya) adalah juga berasal dari Yaman. 

Sahabat Muadz ibni Jabal dikirim sebagai Qadhi ke Yaman oleh Rasulullah – karena Yaman merupakan wilayah yang termasuk awal dalam menerima Islam di luar Hijaz.

Kemudian banyak ulama dari Yaman berkontribusi— utamanya dari Hadramaut—kepada Islam dan penyebaran Islam ke banyak tempat lainnya seperti India dan Asia Tenggara termasuk ke Indonesia. 

Sampai hari ini Tarim sebuah tempat di lembah Hadramaut dikenal di seluruh dunia menjadi salah satu tujuan utama studi keagamaan Islam bagi para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Ironi dan Kelemahan Respon Umat

Namun demikian hari ini kita melihat penderitaan saudara-saudara kita di Yaman. Saudara sesama muslim di Yaman dalam kesusahan yang sangat. 

Orang-orang yang dipuji Rasulullah dari segi keimanannya, akhlaknya—dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Dan ironisnya dunia Islam diam. Umat tidak membicarakannya.Kita tidak mendiskusikannya. Media jarang memberitakannya.Kita tidak membangun kesadaran untuk membantu mereka.

Padahal mereka adalah sebagaimana Nabi dalam doanya mengatakan: “Yamaninaa” – Yaman Kami.  Jadi mereka bagian dari kita. Yaman Kita.

Tetapi hari ini justru yang terjadi nasionalisme telah membutakan mata hati. Sebagian kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudaranya. 

Hari ini persaudaraan telah terpecah dalam persaudaraan yang sempit atas dasar suku, bangsa dan kelompok ketimbang persaudaraan hakiki sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) yang diajarkan Nabi kita yang mulia.

Sehingga musuh-musuh Islam dengan leluasa mengangkangi dan tanpa malu-malu melakukan kezaliman kepada saudara-saudara kita di banyak tempat di dunia: Palestina, Lebanon, termasuk Yaman. Bahkan mengorkestrasikan agar darah sesama muslim tumpah. Dan negara-negara Barat – “sekutu pembisik” –bersorak-sorai menang karena berhasil membuat darah muslim tumpah. 

Jika wilayah itu sudah hancur maka mereka akan datang membawa “perdamaian palsu” dan bantuan “kemanusiaan” setelah berhasil secara ironis menciptakan krisis itu sendiri di awalnya. Begitulah pola itu berulang di banyak tempat.

Sementara para pemangku amanat dan para “pemimpin” di negeri-negeri berpenduduk muslim malah mendekati pemerintah Barat yang telah menciptakan krisis itu dan membuat darah muslim tumpah. Tertawa semringah, berpose bersama seakan tak ada kejadian apa-apa. Sementara anak-anak Yaman kelaparan dan masih tinggal di tenda-tenda pengungsi.  Pidato-pidato besar tak menyelesaikan penderitaan mereka.

Dan yang lebih parah bukannya menolong – tapi ada yang dengan teganya malah secara tidak langsung insulting(menyinggung/menghina) Yaman dengan narasi yang menempatkan Yaman sebagai suatu yang lebih rendah dan seolah sesuatu yang tidak diinginkan.Narasi seperti itu tentu saja berbahaya. 

Karena itu bukan sekadar retorika, tetapi adalah hirarki. Dan pernyataan demikian terlihat tidak peka dan bisa dianggap ceroboh — jika datang dari seorang pejabat negara misalnya. Narasi demikian juga tidak membantu hubungan diplomasi sesama negara muslim.

Sementara Yaman punya sejarah yang panjang dan lama dengan negeri kita, maka mereduksi Yaman menjadi sekedar seolah tempat yang tidak berarti atau lebih rendah-jelas kontraproduktif. Hal itu juga menunjukkan ketimpangan dalam pemahaman lanskap geopolitik atau geopolitical landscape.

Alangkah eloknya jika Indonesia membangun hubungan yang baik dengan Yaman. Sebagai negara muslim terbesar maka Indonesia seharusnya membantu Yaman keluar dari krisis kemanusiaan.

Dan umat Islam punya tugas dan tanggung jawab untuk mengangkat krisis Yaman ke ruang diskursus publik lebih intens. 

Bersatu dan mendorong bantuan kemanusiaan bagi mereka. Kita sering mendengar di masjid-masjid doa spesifik untuk Palestina dan itu bagus dan baik, tetapi sangat jarang kita dengar doa yang spesifik juga untuk Yaman. 

Padahal manusia paling mulia – Rasulullah Nabi Muhammad SAW – mendoakan Syam, dan juga Yaman.

Maka mulai hari ini – mari kita tambahkan doa juga buat saudara-saudara kita di Yaman.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
peminat Lingkungan, Sosial/Kemanusiaan, Pendidikan dan isu-isu International; seorang Independent Researcher di bidang Microalgae dan CO2 Biofixation; guest speaker di bidang Project Management; memiliki pengalamanindustri selama 21 tahun di bidang energi migas national dan international; background pendidikan Chemical Engineering danDoktor di bidang Environmental Science; pemegang berbagai sertifikat keahlian. Saat ini sedang dalam proses penulisan buku mengenai salah satu bahasa programming dan aplikasinya.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...