Artikel · Potret Online

Membumikan Budaya Literasi Dengan Inovasi Sebagai Bagian Aksi Pasti Memajukan Negeri 

Penulis Mursyidah
Mei 5, 2026
6 menit baca 50
a5ca022a-6438-4938-a044-c287ed666cd0
Foto / IlustrasiMembumikan Budaya Literasi Dengan Inovasi Sebagai Bagian Aksi Pasti Memajukan Negeri 

Oleh : Mursyidah 

Literasi,  kata yang seolah punya makna dan peran yang sangat orisinil dalam membuka dan menghimpun pengetahuan serta kekayaan khazanah wawasan dalam berkehidupan. Literasi atau membaca adalah satu dimensi yang tak pernah mampu dipisahkan dari dunia pendidikan, karena dari membacalah jendela ilmu terbuka. 

Hal ini dipertegas dengan integritas yang kuat, bahkan secara Islam bukan kah ayat Al Qur’an yang ia pertama diturunkan “iqra”yang artinya baca. Maka dari hal itu saja sudah dapat disimpulkan bahwa membaca adalah sesuatu yang mampu merubah dan membentuk berbagai sudut keilmuan yang berhasil menciptakan peradaban yang hebat.

Nah, bertepatan dengan momentum hari pendidikan nasional ( Hardiknas), tentu hal tentang literasi ini menjadi sesuatu yang menarik utk kita ulik dan bahas ,sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi instansi pendidikan negri ini. 

Di era gempuran digitalisasi serta kemajuan teknologi ,minat baca dan budaya membaca tampak sangat menurun drastis. Ini terlihat jelas, bahkan dimulai dari desa desa maju ,yang lima tahun lalu seorang siswa sekolah dasar akan sangat bahagia bila punya buku bacaan cerita.  Entah dongeng ,legenda,atau sebagainya, namun berbanding sangat jauh dengan dua tahun belakangan ini.

Seolah buku itu bukan hal yang menarik lagi. 

Hanya ada cerita aplikasi dan hal viral lainnya. Atas fenomena ini,  tak serta merta kesalahan dari instansi pendidikan, karena  mereka pun sudah berusaha untuk menumbuhkan minat baca para pelajar. 

Ada bazar buku yang mereka lakukan,perpustakaan yang disediakan oleh sekolah,namun bisa jadi degradasi minat yang disebabkan oleh pola asuh lingkungan serta inovasi yang monoton.

Oleh sebab itu sudah saatnya instansi yang terkait dengan dunia pendidikan untuk berinovasi tidak hanya menyediakan perpustakaan sebagai sarana membaca, namun menciptakan suasana yang menarik minat pembaca.  

Juga menghadirkan para pengajar yang mampu terus berinovasi dengan kreasi. 

Entah menciptakan ruang baca yang estetik,atau mendampingi dengan diselingi acara fun game yang menarik,membuka ruang diskusi panel dengan pelajar peserta membaca,membuka ruang ekstra kurikuler minat baca,membuat event yang menumbuhkan minat baca tulis ,menyediakan genre buku yang beragam dan tidak monoton serta masih  sesuai dengan konteks nilai nilai keilmuan dan kebangsaan .

Mungkin hal hal tersebut adalah inovasi dari instansi pendidikan terkecil yakni sekolah. Tentu tak hanya terbatas sampai di situ masih banyak instansi yang ikut berwenang dengan dunia pendidikan. Kementrian serta dinas terkait juga dapat turut berinovasi menciptakan ruang baca untuk umum,taman baca bagi mereka yang punya minat, tapi tak punya tempat untuk menyalurkannya.  Sebab satu aksara yang dibaca mampu merubah satu pola pikir dan cara pandang manusia. 

Dari membaca ilmu itu ada dan dipahami ,dan dari pengamalan pemahaman itu lah ruh ilmu itu hidup,dan ketika ilmu itu punya ruh atau jiwanya, maka peradaban satu negara dimulai. Ketika,  semua instansi pemegang kendali dunia pendidikan solid dalam membumikan budaya literasi, disertai dengan terus berinovasi, maka satu aksi yang nyata dan pasti untuk memajukan negri sudah terealisasi. 

   Karena bangsa yang konsisten dengan peradaban keilmuannya adalah mereka yang membudayakan literasi dan membumikannya. Seperti halnya Mesir, mereka adalah negri dengan satu universitas Islam tertua dengan peradaban ilmunya tetap terjaga. 

Itu semua karena konsistensi dan eksistensi para pakar dan pemegang andil dunia pendidikan mereka dalam budaya literasi. Seperti juga imam Syafii yang setia dengan tinta dan mulazamah belajarnya ,hingga ia menjadi satu dari empat imam besar Islam yang mampu meletakkan dan memecahkan berbagai masalah keilmuan.

Maka oleh sebab itu sudah saatnya ibu Pertiwi  menjadi negri  yang maju, dimulai dari satu hal yang sangat efektif kembali membumikan budaya literasi dengan terus berinovasi di seluruh instansi pendidikan yang ada di seluruh pelosok negeri . 

Literasi,  kata yang seolah punya makna dan peran yang sangat orisinil dalam membuka dan menghimpun pengetahuan serta kekayaan khazanah wawasan dalam berkehidupan. Literasi atau membaca adalah satu dimensi yang tak pernah mampu dipisahkan dari dunia pendidikan, karena dari membacalah jendela ilmu terbuka. 

Hal ini dipertegas dengan integritas yang kuat, bahkan secara Islam bukan kah ayat Al Qur’an yang pertama diturunkan “iqra”yang artinya baca. Maka dari hal itu saja sudah dapat disimpulkan bahwa membaca adalah sesuatu yang mampu merubah dan membentuk berbagai sudut keilmuan yang berhasil menciptakan peradaban yang hebat.

Nah, bertepatan dengan momentum hari pendidikan nasional ( Hardiknas), tentu hal tentang literasi ini menjadi sesuatu yang menarik utk kita ulik dan bahas ,sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi instansi pendidikan negri ini. 

Di era gempuran digitalisasi serta kemajuan teknologi ,minat baca dan budaya membaca tampak sangat menurun drastis. Ini terlihat jelas, bahkan dimulai dari desa desa maju ,yang lima tahun lalu seorang siswa sekolah dasar akan sangat bahagia bila punya buku bacaan cerita.  Entah dongeng ,legenda,atau sebagainya, namun berbanding sangat jauh dengan dua tahun belakangan ini. Seolah buku itu bukan hal yang menarik lagi. 

Hanya ada cerita aplikasi dan hal viral lainnya. Atas fenomena ini,  tak serta merta kesalahan dari instansi pendidikan, karena  mereka pun sudah berusaha untuk menumbuhkan minat baca para pelajar.  Ada bazar buku yang mereka lakukan,perpustakaan yang disediakan oleh sekolah,namun bisa jadi degradasi minat yang disebabkan oleh pola asuh lingkungan serta inovasi yang monoton.

Oleh sebab itu sudah saatnya instansi yang terkait dengan dunia pendidikan untuk berinovasi tidak hanya menyediakan perpustakaan sebagai sarana membaca, namun menciptakan suasana yang menarik minat pembaca.  Juga menghadirkan para pengajar yang mampu terus berinovasi dengan kreasi. 

Entah menciptakan ruang baca yang estetik,atau mendampingi dengan diselingi acara fun game yang menarik,membuka ruang diskusi panel dengan pelajar peserta membaca,membuka ruang ekstra kurikuler minat baca,membuat event yang menumbuhkan minat baca tulis ,menyediakan genre buku yang beragam dan tidak monoton serta masih  sesuai dengan konteks nilai nilai keilmuan dan kebangsaan .

Mungkin hal hal tersebut adalah inovasi dari instansi pendidikan terkecil yakni sekolah. Tentu tak hanya terbatas sampai di situ masih banyak instansi yang ikut berwenang dengan dunia pendidikan. Kementrian serta dinas terkait juga dapat turut berinovasi menciptakan ruang baca untuk umum,taman baca bagi mereka yang punya minat, tapi tak punya tempat untuk menyalurkannya.  Sebab satu aksara yang dibaca mampu merubah satu pola pikir dan cara pandang manusia. 

Dari membaca ilmu itu ada dan dipahami ,dan dari pengamalan pemahaman itu lah ruh ilmu itu hidup,dan ketika ilmu itu punya ruh atau jiwanya, maka peradaban satu negara dimulai. Ketika,  semua instansi pemegang kendali dunia pendidikan solid dalam membumikan budaya literasi, disertai dengan terus berinovasi, maka satu aksi yang nyata dan pasti untuk memajukan negri sudah terealisasi. 

   Karena bangsa yang konsisten dengan peradaban keilmuannya adalah mereka yang membudayakan literasi dan membumikannya. Seperti halnya Mesir, mereka adalah negri dengan satu universitas Islam tertua dengan peradaban ilmunya tetap terjaga. 

Itu semua karena konsistensi dan eksistensi para pakar dan pemegang andil dunia pendidikan mereka dalam budaya literasi. Seperti juga imam Syafii yang setia dengan tinta dan mulazamah belajarnya ,hingga ia menjadi satu dari empat imam besar Islam yang mampu meletakkan dan memecahkan berbagai masalah keilmuan.

Maka oleh sebab itu sudah saatnya ibu Pertiwi  menjadi negri  yang maju, dimulai dari satu hal yang sangat efektif kembali membumikan budaya literasi dengan terus berinovasi di seluruh instansi pendidikan yang ada di seluruh pelosok negeri .

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mursyidah
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...