Sabtu, Mei 2, 2026

Penyesalan Berawal Dari Kehilangan

Oleh ANNA ALTHAFUN NISA 
01 Mei 2026
5 menit baca
IMG_1009
Penyesalan Berawal Dari Kehilangan


                                                                      Oleh : ANNA ALTHAFUN NISA 

Siswi Kelas I SMK Negeri 3 Banda Aceh

Senja datang tanpa banyak warna hari ini. Langit pucat, enggan menunjukkan keindahannya.Angin berhembus pelan, membawa suara daun yang saling bergesekan.tenang,tapi terasa kosong.

Di dalam sebuah rumah, suasana tidak jauh berbeda. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada teriakan. Tapi juga… tidak ada kehangatan.

Seorang gadis duduk di sudut kamarnya, memeluk buku kecil yang sudah mulai usang di bagian pinggirnya. Ia menatap kosong ke arah jendela. Namanya Alana. Di rumah itu, Alana terbiasa menjadi anak yang baik. Anak yang tidak membantah. Anak yang tidak banyak menuntut. Setidaknya…itu yang diharapkan.

Ayahnya adalah orang yang keras. Baginya, hidup harus dijalani dengan disiplin.Perasaan bukan sesuatu yang perlu dibicarakan terlalu dalam.

Ibunya lebih lembut, tapi sering kali hanya memberi nasihat tanpa benar-benar mendengar.

“Kamu harus kuat.”

“Kamu nggak boleh gampang nangis.”

“Banyak orang yang hidupnya lebih susah dari kamu.”

Kalimat-kalimat itu menempel di ingatan Alana.

Awalnya,ia mencoba mengerti.

Tapi lama-lama, ia mulai bertanya,

kalau semua perasaannya dianggap berlebihan…

lalu ia harus seperti apa?

Alana tidak pernah benar-benar bercerita.Setiap kali ia mencoba, selalu ada yang terasa salah.

Kalimatnya dipotong.

Perasaannya dibandingkan.

Atau lebih sering dianggap tidak penting.

Jadi ia memilih diam.

Bukan karena tidak punya cerita

tapi karena tidak ada yang benar-benar mau mendengar.

Hari-harinya berjalan pelan.

Di sekolah, Alana dikenal sebagai  anak yang ceria, mudah tersenyum.Bahkan kadang tertawa, Tidak ada yang tahu bahwa itu hanya bagian dari kebiasaan.

Sebuah cara untuk terlihat baik-baik saja.

Padahal setiap malam, ia duduk sendirian di kamarnya. Sambil menulis di buku kecilnya.

“Aku capek pura-pura kuat.”

“Aku pengen didengar.”

“Kenapa aku selalu salah?”

Tulisan-tulisan itu menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa jujur.

Sepulang sekolah,semuanya terasa lebih berat dari biasanya.

Nilai ujiannya turun. Gurunya menegur. Dan saat pulang,ia harus menghadapi rumah yang tidak pernah benar-benar ia rasakan sebagai tempat aman.

“Apa ini?” suara ayahnya terdengar keras sambil memegang kertas nilai.

Alana diam.

“Ayah capek kerja, kamu malah nggak serius!”

“Aku udah berusaha…”gumam Alana.

“Berusaha tapi hasilnya begini?” potong ayahnya.

Ibunya menghela napas.

“Kamu itu kurang fokus.”

Kalimat itu seperti menutup semuanya.

Alana ingin bicara.

Ingin menjelaskan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Tapi lagi-lagi kata-katanya tertahan.

la menunduk dan diam.

Malamnya, Alana menulis lebih lama dari biasanya.

Tangannya gemetar.

Air matanya jatuh tanpa henti.

“Aku lelah.”

“Aku nggak tahu harus jadi apa lagi supaya dianggap benar”

“Mungkin… aku memang salah dari awal.”

la berhenti,

Menatap kalimat terakhir.Lalu menutup bukunya perlahan. Hari berikutnya, rumah itu terasa seperti biasa. Ayahnya berangkat kerja. Ibunya sibuk dengan rutinitas.Tidak ada yang menyadari bahwa Alana tidak sarapan.

Tidak ada yang menyadari bahwa ia berdiri lebih lama di depan pintu, seolah ragu untuk melangkah.Dan tidak ada yang menyadari… itu adalah hari terakhirnya di rumah itu. Menjelang sore,hujan mulai turun.lbunya mulai merasa ada yang aneh.

“Alana belum pulang?”

Tiba-tiba terdengar suara telepon, ternyata dari wali kelas Naya,.

“Alana tidak masuk sekolah hari ini, Bu.”

Panik datang tiba-tiba.

Ayahnya pulang dengan wajah tegang.

“Yah,Alana  tidak masuk sekolah ,tadi ada ditelepon oleh wali kelasnya.”

Akhirnya Mereka mencari Alana ke mana-mana. Sampai akhirnya ibu Alana menemukan buku.

Ibu membuka bukunya.

Tangisnya pecah dalam sekejap.

Setiap halaman berisi luka yang selama ini tidak pernah mereka lihat.

Setiap kalimat terdengar teriakan yang tidak pernah mereka dengar.

Ayahnya membaca dalam diam.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya, ia merasa…gagal.

Bukan sebagai pekerja.

Tapi sebagai ayah.

Malamnya, kabar itu datang.

Alana ditemukan di bawah jembatan, tak lagi bernapas.Ibunya jatuh lemas.

Tangisnya tidak lagi bisa ditahan.

Ayahnya berdiri,dengan pandangan kosong.

Ada sesuatu dalam dirinya yang ikut hilang dan tidak akan pernah kembali.

Hari-hari setelahnya tidak pernah sama.Rumah itu menjadi lebih sunyi dari

sebelumnya.

Kamar Alana tetap rapi. Tidak ada yang berani mengubahnya.Buku kecil itu kini

disimpan dengan baik.

Sering dibaca,Sering ditangisi.Tapi tidak pernah bisa diperbaiki.

Suatu malam, ayahnya duduk sendirian di kamar Alana. la membuka buku itu lagi,sampai akhirnya menemukan satu halaman yang belum pernah

ia sadari sebelumnya.

“Aku cuma pengen ayah denger aku sekali aja.”

Air matanya jatuh.

“Ayah denger sekarang, Nak…” suaranya pecah, “tapi kamu udah nggak di sini…”

Penyesalan itu tidak ada ujungnya.Tidak ada cara untuk mengulang waktu.Tidak ada cara untuk memperbaiki.

Di luar,hujan turun pelan.Seperti malam-malam sebelumnya. Tapi kali ini, tidak ada lagi seseorang yang duduk di dalam kamar itu yang menulis diam- diam.Tidak ada lagi yang menahan tangis sendirian.”Karena gadis itu… sudah pergi.”

Cerita ini berakhir dengan kehilangan. penyesalan yang datang terlambat.

Dan dengan satu pelajaran yang tersisa.

bahwa kadang, seseorang tidak butuh solusi.

Mereka hanya butuh…didengar.ya didengar,dan dihargai.

“Biodata Penulis”

ANNA ALTHAFUN NISA,orang-orang sekitarnya memanggilnya dengan panggilan

Anna.Anna lahir di Aceh Selatan,pada tanggal 29 juni 2010

la anak pertama dari 3 bersaudara ia menyelesaika pendidikan formalnya di SDN  2 MEUREUDU, Pidie Jaya,selesai pada pertengahan 2022.kemudian ia melanjutkan ke SMPN 2 MEUREUDU,selesai pada pertengahan tahun 2025,kemudian ia melanjutkan pendidikannya di SMK 3 BANDA ACEH. Sekarang Anna duduk di kelas 1 SMK.

Anna mempunyai hobi menulis,membaca dan mendengar musik ,la selalu mencoba untuk terus mengembangkan hobinya,terutama menulis.seperti menulis cerpen atau lainnya.

ANNA ALTHAFUN NISA 
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist