Minggu, April 26, 2026

Keucik Rusli Amani

2efb1544-87c2-4240-9b08-9f0077e6d3f3
Ilustrasi: Keucik Rusli Amani


(Bapak Pembangunan Gampong Ujong Batee).

Oleh: Ayah Ilham

Sejarah gampong tidak pernah lepas dari sosok pemimpin yang mengabdikan diri sepenuh hati. Bagi masyarakat Ujong Batee, Terbangun, nama Keucik Rusli Amani selalu dikenang sebagai Bapak Pembangunan. Beliau mulai memimpin sejak tahun 1975-1982, menggantikan adik kandungnya, Tgk. Razali, yang sebelumnya menjabat.

Dalam kepemimpinannya, Keucik Rusli dikenal tegas, serius, dan visioner. Ia memiliki pandangan jauh ke depan tentang kemajuan gampong. Semangat mengajak, menggerakkan, dan menumbuhkan gotong royong menjadi ciri khas kepemimpinannya. Tidak heran jika pada masa beliau banyak lahir pembangunan penting yang meninggalkan jejak hingga kini.

Perluasan Masjid Al-Istiqamah

Masjid Al-Istiqamah Ujong Batee sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Masyarakat menyebutnya sebagai masjid tua, bangunan sederhana dari kayu, berdiri di atas tanah wakaf milik Nyak Yan, tepat di perbatasan antara Gampong Mata Ie dan Ujong Batee. Masjid ini dahulu menjadi pusat ibadah bersama dua gampong, baik jamaah maupun pengurusnya berasal dari keduanya (Mata Ie & Ujung Batee). Karena itu, kawasan dua gampong ini dikenal dengan sebutan Terbangan Cut.

Di masa kepemimpinan Keucik Rusli, masjid tua itu mulai dipugar dan diperluas secara permanen. Ia dibantu oleh seorang tokoh masyarakat yang sangat amanah, beliau bernama Barinin, selaku bendahara pembangunan masjid. Pada masa ini, masjid selesai sampai tahab pembangunan Pondasinya, dan kemudian dilanjutkan pembangunannya pada masa Keucik Abdul Bujang, untuk pengerjaan tiang, dinding dan lainnya.

Pekerjaan dimulai dari pondasi yang dikerjakan secara gotong royong. Masyarakat bahu-membahu mengangkut pasir dari pantai meski harus menyeberangi sungai. Semangat tidak pernah padam, sebab mereka yakin masjid adalah pusat kemuliaan gampong.

Uniknya, sumber utama dana pembangunan berasal dari celengan boh pala—sebuah wadah celengan yang diletakkan di kaki gunung. Para petani pala dengan ikhlas mengisinya setiap kali panen. Dari keringat rakyat inilah Masjid Al-Istiqamah berdiri lebih megah.

Mushalla Wanita: Tempat Spiritual Ureng Inong

Setelah masjid diperluas, Keucik Rusli menggagas pembangunan mushalla wanita. Ide ini muncul karena beliau memikirkan kebutuhan tempat ibadah khusus bagi kaum perempuan.

Sumber dana berasal dari royalti PT. Marjaya, sebuah perusahaan yang mengambil pasir di pantai Ujong Batee. Hasil pajak dan royalti dikumpulkan langsung oleh Keucik Rusli. Walau sempat muncul kecurigaan masyarakat terkait transparansi dana, beliau akhirnya menggelar rapat besar. Semua pendapatan dilaporkan dengan jujur, tanpa sepeser pun hilang. Hasil musyawarah pun menyepakati penggunaan dana untuk membangun mushalla wanita.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong di atas tanah wakaf milik alm. Jalaluddin (Pak Jalal, tanah ini diwakafkan oleh anak-anak beliau, yang diwakili oleh putra beliau bernama (Usman tokoh masyarakat Ujung Batee), yang dengan ikhlas menyerahkan tanah orangtuanya untuk kepentingan agama. Dari situlah berdiri mushalla wanita yang menjadi pusat spiritual kaum perempuan Ujong Batee.

Sekolah Dasar Terbangan Cut

Tak hanya tempat ibadah, pendidikan juga mendapat perhatian serius. Keucik Rusli bersama tokoh masyarakat menggagas pembangunan Sekolah Dasar (SD) Terbangan Cut, yang berdiri di jalan lintas Tapaktuan–Medan.

Tanahnya merupakan wakaf dari Benu Ahmad, sementara kayu untuk tiang utama didapat dari sebatang kayu kapur yang terdampar di pantai Ujong Batee. Semangat gotong royong kembali membara. Warga berjuang agar anak-anak cucu mereka memiliki masa depan cerah melalui pendidikan.

Jalan Tunong: Membangun Akses Kemajuan

Pembangunan terakhir yang monumental pada masa Keucik Rusli Amani adalah pembukaan Jalan Tunong. Saat itu, banyak warga Ujong Batee tinggal di kawasan Tunong Dalam. Ia ingin masyarakat memiliki akses jalan yang luas dan nyaman.

Meski pembangunan jalan ini penuh tantangan, semangat gotong royong tetap menyala. Ada kisah unik: setiap malam setelah Magrib, Keucik Rusli lebih dulu datang ke lokasi pembangunan dengan membawa lampu terongkeng. Namun, pada suatu malam tak seorang pun warga hadir hingga menjelang Isya. Dengan sikap tegas, beliau membanting lampu dan pulang.

Peristiwa itu justru menjadi cambuk. Malam-malam berikutnya masyarakat hadir lebih kompak, bahkan semakin bersemangat menyelesaikan pembangunan jalan. Jalan Tunong pun menjadi akses penting yang membuka kemajuan gampong.

Jejak yang Abadi

Dari masjid, mushalla, sekolah, hingga jalan—semua lahir dari kepemimpinan seorang Keucik Rusli. Beliau tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi dengan teladan, ketegasan, dan visi besar.

Warisan beliau adalah semangat gotong royong dan pembangunan untuk kemaslahatan bersama. Jejaknya masih terasa hingga kini. Semoga segala amal dan jerih payah beliau mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, dan menjadi teladan bagi generasi penerus Ujong Batee.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist