Oleh: Teuku Johar Gunawan*
Setelah Hamdalah dan Shalawat, mari kita memikirkan sejenak dampak tersembunyi dari kegiatan
pertambangan di hulu terhadap perempuan dan anak-anak di hilir.
Segelas air yang diambil dari hilir bisa menyimpan sejarah yang tak terlihat oleh siapa pun — sejarah yang bermula jauh di hulu, di sebuah lokasi pertambangan.
Di seluruh Indonesia, sungai-sungai seperti Sungai Cisarua dan Sungai Cikaniki di Jawa Barat, Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, Krueng Sabee di Aceh Jaya dan Krueng Aceh di Banda
Aceh merupakan urat nadi kehidupan. Sungai-sungai ini menjadi sumber air minum, irigasi untuk pertanian, dan penopang kehidupan jutaan rumah tangga.
Namun, sungai-sungai ini tidak
mengalir melalui lanskap yang kosong.
Ketika sungai mengalir ke hilir, sungai tersebut melewati kawasan-kawasan yang dibentuk oleh aktivitas manusia, dan pertambangan sering kali meninggalkan dampak yang paling bertahan lama — dan paling tidak terlihat.
Apa yang terjadi di hulu, tidak selalu hanya berdampak di hulu. Dan beban perjalanan itu sering tidak terbagi secara merata. Sungai tidak membedakan jenis-jenis penambangan—sungai itu
membawa dampak dari semuanya.
Kontaminasi yang tak terlihat
Pertambangan mengubah perilaku tanah dan air dengan cara-cara yang tidak selalu terlihat, namun berdampak jangka panjang. Ketika batuan tertentu dipecahkan dan terpapar udara serta hujan, terjadi proses yang membuat
air menjadi asam, dan air tersebut dapat melarutkan logam beracun seperti timbal (Pb), arsenik ( As), besi (Fe), dan mangan (Mn) dari batuan, dan membawanya ke sungai-sungai di sekitarnya.
Di beberapa daerah, terutama di tempat penambangan emas berskala kecil berlangsung, merkuri menambah risiko lain. Merkuri digunakan untuk mengekstraksi emas, tetapi sering kali berakhir di sungai, di mana ia dapat berubah menjadi bentuk yang lebih beracun — metylmercury (CH3Hg+) — yang dapat menumpuk dalam ikan dan menyebar melalui rantai makanan.
Namun, risiko tersebut tidak hanya terbatas pada pertambangan informal, illegal dan kecil. Pertambangan besarpun tidak luput dari kasus pencemaran. Salah satu contoh kasus adalah perusahaan tambang tembaga besar dan legal asal Cina — Sino-Metals Leach, yang dimiliki
perusahaan negara, China Nonferrous Metals Industry Group — telah menyebabkan pencemaran di Sungai Kafue Zambia, Afrika dan merupakan salah satu bencana lingkungan terburuk dalam sejarahnya.
Logam dan logam berat seperti tembaga, kobalt, mangan dan lainnya mencemari
sungai, ikan-ikan mati, sungai “mati dalam semalam”, berjuta-juta penduduk di hilir sungai tidak bisa mengonsumsi air sungai dan ekosistem menjadi hancur [1].Dalam pertambangan emas industri berskala besar, bahan kimia beracun seperti sianida (cyanide, misal Sodium Sianida, NaCN) sering digunakan untuk memisahkan emas dari bijih.
Sistem- sistem ini memang dirancang sebagai sistem tertutup (closed-loop) dan mestinya dikelola dengan hati-hati, tetapi kebocoran, kecelakaan, atau kegagalan dalam penyimpanan limbah tetap dapat
menyebabkan pencemaran pada sistem perairan di sekitarnya.
Dalam kasus tambang emas, maka sianida mencemari sungai, seperti dalam kasus Baia Mare cyanide spill dimana Aurul,– sebuah usaha patungan (joint venture) Esmeralda Exploration
Australia dengan pemerintah Romania, telah menyebabkan pencemaran sianida ke sungai Tisza di Hungaria. Kemudian mengalir ke sungai Danube yang melewati beberapa negara di Eropa.
Sekitar 1000 ton sianida tumpah ke sungai [2]. Kita tahu bahwa sianida adalah bahan kimia sangat beracun, dapat diserap melalui saluran pencernaan, juga melalui kulit dalam larutan air.
Sianida diketahui menghambat pengangkutan oksigen ke dalam jaringan, yang mengakibatkan terganggunya proses pernapasan jaringan.
Secara keseluruhan, proses-proses ini menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan berdampak pada sungai dalam berbagai cara. Beberapa dampak muncul secara bertahap seiring berjalannya waktu, sementara yang lain terjadi secara tiba-tiba akibat kecelakaan atau kegagalan.
Namun, hasilnya sama: polutan-polutan ini tidak akan tetap berada di satu tempat. Dibawa oleh
arus sungai, polutan-polutan tersebut dapat terbawa hingga ratusan kilometer ke hilir, jauh melampaui lokasi tambang aslinya.
“Sudah Diolah” di Hilir Bebas Risiko?
Pengolahan air memang sangat penting, tetapi hal itu tidak menyelesaikan semua masalah. Sistem yang dirancang untuk menghilangkan kotoran, bakteri, dan kontaminan lain yang terlihat
memang efektif untuk banyak jenis polutan—tetapi tidak semuanya.
Logam berat seperti timbal dan merkuri, serta racun terlarut lainnya, dapat tetap tersisa dalam air, bahkan setelah proses
pengolahan. Meskipun teknologi lebih mutakhir tersedia untuk pengolahan di hilir, tetapi penggunaanya terbatas karena tidak efektif, biaya mahal, tantangan teknik dan teknis, dan
keterbatasan proses dan risiko produk samping.
Namun, kesenjangan yang utama bukanlah pada masalah ketersediaan teknologi di hilir —melainkan terletak pada penegakan hukum, kapasitas pemantauan terhadap pengelolaan sistem tailing atau limbah pertambangan di hulu itu sendiri.
Di dalam lingkungan atau wilayah dengan
regulasi yang lemah, dan tata kelola yang tidak jelas, maka pertimbangan keekonomian dapat meningkatkan kemungkinan pelaku usaha menerapkan praktik-praktik yang lebih murah, namun
berisiko tinggi mencemari lingkungan.
Ibu dan Anak: Kelompok Paling Rentan
Anak-anak bukanlah sekadar orang dewasa dalam ukuran yang lebih kecil. Tubuh dan otak mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap paparan zat beracun. Logam berat seperti timbal dan merkuri mengganggu perkembangan,
berdampak pada perilaku, perkembangan intelektual dan kerusakan sistem saraf.
Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat menimbulkan konsekuensi seumur hidup [3,4]. Bagi banyak anak yang tinggal di dekat atau di hilir sungai yang terkena dampak pertambangan,
paparan ini bukanlah kejadian sesekali bagi mereka. Ini adalah bagian dari kehidupan sehari- hari—melalui air minum, makanan seperti ikan, dan kontak dengan lingkungan.
Seorang anak jelas tidak memilih paparan ini, tetapi mereka harus hidup dengan konsekuensinya. Seorang ibu, terutama selama masa kehamilan, menghadapi risiko tambahan. Zat-zat berbahaya
seperti merkuri dan arsenik memengaruhi perkembangan janin. Penelitian telah mengaitkan paparan zat-zat tersebut selama masa kehamilan dengan berat badan lahir rendah, keterlambatan
perkembangan, dan risiko kesehatan jangka panjang.
Di banyak rumah tangga, mengelola air merupakan tugas sehari-hari — baik itu mengumpulkan, menyimpan, maupun menggunakannya untuk memasak. Namun, mereka yang secara rutin
menangani air berisiko lebih tinggi terpapar polutan berbahaya seperti merkuri dan arsenik, terutama jika air tersebut berasal dari daerah yang terdampak oleh kegiatan pertambangan di hulu.
Hal ini sangat memprihatinkan bagi ibu hamil, karena dampaknya terhadap bayi bisa sangat parah: keguguran dini dan bayi kecil untuk usia kehamilan atau berat badan lahir rendah, potensi terjadinya gangguan sistem kekebalan pada tahap awal [5].
Pelajaran dari Sungai dan Tambang di Indonesia
Situasi ini bukanlah sekadar teori. Hal ini sudah terjadi. Di Kalimantan Tengah misalnya, Delia E Bruno tahun 2020 dalam studinya menggunakan teknik
remote sensing menemukan banyak pertambangan emas tradisional dan dalam skala kecil (ASGM) di sepanjang Sungai Kahayan [6] — yang merupakan sungai terpanjang di Kalimantan
dan bermuara ke Laut Jawa.
Sungai-sungai di dekat kawasan pertambangan emas menunjukkan kontaminasi merkuri yang memengaruhi, baik air maupun ikan. Masyarakat yang bergantung pada sungai-sungai ini
menghadapi paparan berkelanjutan, seringkali tanpa menyadarinya.
Bahkan yang lebih merisaukan adalah kadang kontaminasi dari pertambangan itu tidak selalu terdeteksi tinggi di sumber air itu sendiri — karena sebagian sudah terserap — dan justru terdeteksi tinggi di dalam ikan, sayuran dan tanaman yang dikonsumsi manusia.
Misalnya studi di Mandailing, Sumatra Utara tahun 2023 dekat pertambangan emas lokal, menunjukkan meskipun level merkuri di sumber air minum pada air tanah terdeteksi lebih rendah dari standar yang diizinkan, namun level merkuri justru tinggi pada 96% sampel sayuran
dan 86% sampel padi [7].
Studi dari Universitas Teuku Umar terhadap status merkuri di Krueng Sabee, Aceh Jaya, menemukan fenomena yang mirip juga, di mana level merkuri di semua titik sampel di sungai lebih rendah dari standar, namun konsentrasi merkuri pada sedimen dan biota ditemukan melampaui batas maksimum [8].
Kontaminasi dan pencemaran juga sulit hilang begitu saja dan bertahan lama. Studi di Sungai Cisarua dan Sungai Cikaniki di Jawa Barat yang menunjukkan bahwa meskipun level merkuri di
sungai dapat berubah-rubah dan dipengaruhi musim (musim hujan dan musim kemarau), tetapi level merkuri pada partikel tersuspensi (SPM, suspended particulate matter) — yang merupakan sumber kontaminasi yang berasal dari pertambangan emas — tetap tinggi meskipun musim berubah [9].
Dan ini semua bukanlah kasus-kasus terisolasi. Tempatnya bisa berbeda tapi modelnya serupa.
Ini adalah peringatan buat kita semua. Dan peringatan juga bagi pemegang amanat — presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala daerah, sampai ke level terbawah agar tidak sembarang memberi izin atau ceroboh mendukung tambang di wilayah kekuasaannya — hanya
memikirkan keenomian tanpa peduli dampak jangka panjangnya.
Krisis yang Tidak Terlihat
Yang membuat masalah ini sangat berbahaya adalah sifatnya yang tak terlihat. Tidak seperti banjir atau tanah longsor, air yang terkontaminasi tidak menimbulkan kerusakan yang langsung dan dramatis. Sebaliknya, dampaknya muncul secara perlahan — memengaruhi
kesehatan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.
Seorang anak yang terpapar hari ini mungkin baru menunjukkan gejalanya di kemudian hari. Seorang ibu hamil mungkin tidak pernah menyadari bahwa air yang digunakannya mengandung
risiko tersembunyi. Jadi ia seperti krisis yang merambat dalam senyap dan sunyi.
Jika Tidak Ada Perubahan
Jika penambangan di hulu terus berlanjut tanpa pengawasan yang ketat, tanpa regulasi yang jelas dan masyarakat di hilir terus bergantung pada sumber air yang sama, beberapa konsekuensi jangka panjang kemungkinan akan terjadi:
Penumpukan zat beracun dalam tubuh manusia yang semakin meningkat
Beban layanan kesehatan yang meningkat akibat penyakit kronis
Dampak lintas generasi terhadap perkembangan anak
Ketimpangan yang semakin parah, karena masyarakat rentan menanggung risiko tertinggi
Singkatnya, biaya dari ketidakberdayaan ini tidak hanya akan berdampak pada lingkungan — tetapi juga pada manusia.
Mencegah dari sumbernya
Meningkatkan pengolahan air memang penting, tetapi itu saja tidak cukup. Solusi yang paling efektif adalah mencegah pencemaran sejak dari sumbernya:
Memperketat perizinan — tidak mudah memberikan izin tambang tanpa evaluasi ketat.
Pengaturan yang lebih ketat terhadap kegiatan pertambangan di sekitar sistem sungai.
Keberanian pemerintah menghentikan operasi tambang ketika ada pelanggaran. Pengelolaan limbah tambang dan tailing yang aman dan pemantauan kualitas air secara berkelanjutan dengan frekuensi yang cukup.
Transparansi yang lebih besar dan kesadaran masyarakat untuk ikut mengawasi.
Dan jika tidak ada tata kelola yang baik termasuk tidak ada instrumen pengawasan, maka memberhentikan operasi tambang di hulu sungai dan daerah aliran sungai adalah langkah yang
harus dilakukan oleh pemangku kepentingan.
Melindungi sungai bukan hanya soal ekosistem—tetapi juga soal melindungi masyarakat yang bergantung padanya.
Sungai adalah Masa Depan — Tanggung Jawab Bersama
Sungai menghubungkan kita. Apa yang terjadi di hulu tidak akan berhenti di hulu. Sungai bukan sekedar aliran air. Ia menjadi sumber kehidupan dan masa depan bagi banyak makhluk di bumi.
Bagi para ibu yang sedang menyiapkan makanan dan bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar, air bersih bukanlah kemewahan — melainkan kebutuhan pokok. Untuk menjamin
keamanannya, diperlukan tindakan nyata dari pemerintah, industri, dan masyarakat. Karena ketika sungai tercemar, dampaknya tidak akan hilang begitu saja.
Dampaknya tetap ada — menimpa orang-orang yang paling bergantung padanya. Dan ketika yang terdampak adalah ibu
dan anak-anak, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas air — tapi kualitas generasi berikutnya.
Daftar pustaka:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kille R, Zimba J. A river “died” overnight in Zambia after an acidic waste spill at a Chinese-owned mine [Internet]. AP News. 2025.
Available from: https://apnews.com/article/mining-pollution-china-zambia-environment-93ee91d1156471aaf9a7ebd6f51333c1
Soldán P, Pavonič M, Bouček J, Kokeš J. Baia Mare Accident—Brief Ecotoxicological Report of Czech Experts. Ecotoxicology and
Environmental Safety. 2001 Jul;49(3):255–61.
Kuang W, Chen Z, Shi K, Sun H, Li H, Huang L, et al. Adverse health effects of lead exposure on physical growth, erythrocyte
parameters and school performances for school-aged children in eastern China. Environment International. 2020 Dec;145:106130.
Bose-O’Reilly S, McCarty KM, Steckling N, Lettmeier B. Mercury Exposure and Children’s Health. Current Problems in Pediatric
and Adolescent Health Care. 2010 Sep;40(8):186–215. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3096006/
Rychlik KA, Illingworth EJ, Sillé FCM. Arsenic and the placenta: A review with emphasis on the immune system. Placenta [Internet].
2024 Dec 24;160:73–81. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0143400424008105
Bruno DE, Ruban DA, Tiess G, Pirrone N, Perrotta P, Mikhailenko AV, et al. Artisanal and small-scale gold mining, meandering
tropical rivers, and geological heritage: Evidence from Brazil and Indonesia. Science of The Total Environment. 2020
May;715:136907.
Arrazy S, Addai-Arhin S, Jeong H, Novirsa R, Wispriyono B, Agusa T, et al. Spatial distribution and human health risks of mercury in
the gold mining area of Mandailing Natal District, Indonesia. Environmental Monitoring and Contaminants Research. 2023 Jun
27;3:33–42.
Putra I, Sufardi, Alvisyahrin T, Resdiar A. Status Merkuri pada aliran Sungai Krueng Sabee, akibat limbah pengolahan emas di Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Agrotek Lestari. 2021 Oct 2;7(2):54–62.
Tomiyasu T, Hamada YK, Kodamatani H, Hidayati N, Rahajoe JS. Transport of mercury species by river from artisanal and small-scale gold mining in West Java, Indonesia. Environmental Science and Pollution Research. 2019 Jun 29;26(24):25262–74.
*Penulis adalah peminat lingkungan, sosial/kemanusiaan, pendidikan dan isu-isu international; seorang peneliti independent di
bidang Microalgae dan CO2 Biofixation; speaker di bidang Project Management; memiliki pengalaman industri selama 21
tahun di bidang energi migas national dan international; latar belakang pendidikan Chemical Engineering dan seorang Doktor
di bidang Environmental Science dan pemegang berbagai sertifikat keahlian. Saat ini sedang dalam proses penulisan buku
mengenai salah satu bahasa programming dan aplikasinya di bidang engineering. Kitab bacaan harian: Al-Quran.





















Diskusi