Minggu, April 19, 2026

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144
Ilustrasi: Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

 Oleh  Vadyla Balqis 

Mahasiswi Prodi: Psikologi Universitas, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 

Self-efficacy atau efikasi diri merupakan salah satu variabel psikologi paling berpengaruh dalam menjelaskan prestasi akademik siswa dan mahasiswa. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Albert Bandura (1977) dalam teori kognitif sosialnya, yang mendefinisikan self-efficacy sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengorganisir dan melaksanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu dalam situasi spesifik. Berbeda dengan rasa percaya diri secara umum, self-efficacy bersifat kontekstual dan dapat berubah seiring pengalaman. 

Dalam dunia pendidikan, academic self-efficacy menjadi faktor motivasi utama yang mendorong siswa untuk memilih tugas yang menantang, mengatur usaha belajar, serta bertahan menghadapi kegagalan.

Menurut Bandura, self-efficacy terbentuk melalui empat sumber utama yakni, pengalaman sukses langsung (mastery experiences), pengamatan orang lain yang berhasil (vicarious experiences), persuasi verbal dari orang sekitar, serta kondisi emosi dan fisik yang positif. 

Keyakinan ini tidak hanya mempengaruhi pilihan perilaku, tetapi juga tingkat usaha, ketekunan, dan strategi belajar yang digunakan. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi cenderung menggunakan strategi pemrosesan mendalam, mengatur waktu belajar lebih baik, dan jarang menunda-nunda tugas (prokrastinasi), sehingga prestasi akademiknya (IPK, nilai ujian, atau kelulusan) lebih unggul. 

Sebaliknya, self-efficacy rendah sering kali menyebabkan kecemasan berlebih, penghindaran tugas sulit, dan prestasi yang menurun.

Bukti empiris dari berbagai meta-analisis mendukung pengaruh positif self-efficacy terhadap prestasi akademik. Multon et al. (1991) dalam meta-analisis klasik menemukan hubungan positif signifikan antara self-efficacy beliefs dan academic performance (effect size berkisar 0.21–0.59) serta ketekunan belajar di berbagai mata pelajaran dan desain penelitian. 

Systematic review Honicke dan Broadbent (2016) yang menganalisis 59 studi pada mahasiswa universitas juga menunjukkan korelasi moderat positif antara academic self-efficacy dan performa akademik. Hubungan ini dimediasi oleh regulasi usaha, strategi belajar mendalam, orientasi tujuan, serta pengurangan prokrastinasi akademik.

Lebih lanjut, Talsma et al. (2018) melalui meta-analytic cross-lagged panel analysis pada 11 studi longitudinal (N=2.688) menemukan efek timbal balik (reciprocal effects): performa akademik mempengaruhi self-efficacy selanjutnya lebih kuat (β = 0.205) daripada sebaliknya (β = 0.071). 

Temuan ini sesuai teori Bandura bahwa pengalaman sukses (mastery experiences) justru memperkuat self-efficacy. Honicke et al. (2023) menambahkan bahwa baseline prestasi dan tingkat kesulitan tugas memoderasi pola hubungan ini; mahasiswa dengan prestasi awal rendah justru menunjukkan peningkatan self-efficacy dan performa yang lebih tajam pada tugas sulit.

Di Indonesia, penelitian lokal juga konsisten mendukung temuan global. Sri Utari Yuli Ana et al. (2022) pada mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menemukan bahwa self-efficacy berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi akademik, baik secara langsung maupun melalui motivasi sebagai variabel intervening. 

Penelitian serupa di Universitas Airlangga, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Negeri Malang menunjukkan pola yang sama: self-efficacy berkorelasi positif dengan IPK dan prestasi belajar, terutama saat dimediasi oleh self-regulated learning dan keterlibatan belajar (learning engagement). Di era pembelajaran daring pasca-pandemi, self-efficacy semakin penting karena membantu mahasiswa mengatasi tantangan regulasi diri dan isolasi.

Richardson et al. (2012) dalam meta-analisis besar terhadap 50 variabel psikologis bahkan menyimpulkan bahwa performance self-efficacy merupakan prediktor terkuat prestasi akademik mahasiswa universitas, melebihi beberapa faktor kognitif lain seperti nilai SMA atau tes masuk perguruan tinggi.

Secara keseluruhan, self-efficacy bukan hanya prediktor, melainkan juga variabel yang dapat dimodifikasi melalui intervensi. Program pelatihan yang menargetkan sumber-sumber Bandura (seperti memberikan tugas kecil yang berhasil diselesaikan atau role model sukses) terbukti efektif meningkatkan self-efficacy dan, pada akhirnya, prestasi akademik. Bagi pendidik dan orang tua, memahami konsep ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keyakinan diri siswa.

Kesimpulannya, pengaruh self-efficacy terhadap prestasi akademik bersifat positif, signifikan, dan timbal balik. Literatur baik internasional maupun lokal menegaskan bahwa meningkatkan efikasi diri siswa dan mahasiswa merupakan salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 

Penelitian mendatang disarankan lebih banyak menggunakan desain longitudinal di konteks Indonesia untuk menguji kausalitas serta mengembangkan intervensi berbasis bukti yang sesuai dengan budaya kolektif kita.

 :Vadyla Balqis 

Prodi: Psikologi 

Universitas: Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist