Antara Konflik Batin dan Ketidakrelevanan Pengalaman Fenomena yang Sedang Terjadi
Oleh Shayla Alya Mazaya
Menurunnya religiusitas pada remaja khususnya remaja Muslim menjadi fenomena yang sedang marak terjadi di era modern seperti saat ini. Hal ini bisa dilihat dari minimnya keterlibatan remaja dalam praktik ibadah, maupun ritual keagamaan.
Namun, perubahan ini sering kali disederhanakan sebagai bentuk rasa malas dalam beribadah. Berdasarkan sudut pandang psikologi, anggapan tersebut kurang memadai, karena religiusitas seseorang tidak hanya didasari dengan perilaku, tetapi juga melibatkan proses kognitif dan serta pengalaman emosional yang kompleks.
Penurunan religiusitas lebih tepat dipahami dengan baik sebagai hasil dari dinamika internal atau interaksi dalam diri remaja, terutama konflik batin dan pengalaman yang mungkin tidak selaras dengan ajaran agama yang diterima.
Religiusitas dalam Perspektif Psikologi
Dalam kajian psikologi, religiusitas meliputi tiga dimensi utama, yaitu keyakinan, perasaan terhadap agama, dan perilaku. Ketiga aspek ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan individu.
Pada masa remaja, perubahan tersebut menjadi lebih intens karena individu sedang berada dalam fase pencarian identitas maupun makna. Dalam proses ini, ajaran agama tidak lagi diterima secara mentah, melainkan mulai dipertanyakan dan dievaluasi secara lebih kritis.
Dinamika Emosi dan Konflik Batin Remaja
Remaja sering kali mengalami konflik batin ketika nilai-nilai pribadi yang mulai berkembang tidak sepenuhnya selaras dengan ajaran agama yang mereka terima. Selain itu, muncul pula pertanyaan eksistensial yang berkaitan dengan makna hidup, keadilan, dan penderitaan.
Ketika pertanyaan-pertanyaan ini tidak mendapatkan ruang atau jawaban yang memuaskan, remaja dapat mengalami kebingungan, tekanan, bahkan jarak emosional terhadap agama.
Beberapa contoh konflik batin yang sering dialami remaja antara lain:
1. Merasa ajaran agama tidak menjawab masalah pribadi yang sedang dihadapi
2. Mengalami perasaan bersalah karena tidak mampu memenuhi standar religius yang tinggi
3. Bingung dengan konsep keadilan atau penderitaan dalam kehidupan nyata
4. Merasa nilai pribadi yang berkembang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran agama
Tantangan Remaja dalam Lingkungan Religius
Lingkungan religius yang seharusnya menjadi tempat pembinaan justru menjadi sumber tekanan bagi sebagian remaja. Hal ini terjadi ketika pendekatan yang digunakan cenderung normatif, kaku, atau kurang memberikan ruang dialog.
Remaja yang sedang berada dalam fase eksplorasi atau pencarian makna justru membutuhkan pemahaman yang fleksibel dan empatik serta jawaban yang lebih relevan dengan pengalamannya.
Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:
1. Merasa dihakimi ketika tidak memenuhi standar religius tertentu
2. Minimnya ruang untuk bertanya atau mengungkapkan keraguan
3. Adanya tekanan untuk tampil “religius” secara sosial
4. Ketidaksesuaian antara ajaran yang disampaikan dengan praktik di lingkungan sekitar
Pengaruh Sosial Media terhadap Keyakinan Remaja
Perkembangan teknologi turut memengaruhi cara remaja memahami agama. Akses informasi yang bisa didapat dengan cepat dan mudah terhadap berbagai perspektif membuat remaja tidak lagi bergantung pada satu sumber otoritas dari lingkungan sekitar.
Mereka dapat menemukan beragam pandangan dari media sosial, baik yang mendukung maupun yang mengkritisi ajaran agama. Kondisi ini memperluas wawasan, namun juga dapat memicu kebingungan serta keraguan akan ajaran yang sebelumnya dianggap valid.
Media sosial juga menjadi ruang bagi remaja untuk membentuk identitas diri, termasuk dalam hal religiusitas. Dalam beberapa kasus, hal ini mendorong munculnya bentuk religiusitas yang lebih personal, tetapi di sisi lain juga dapat memperlemah keterikatan terhadap praktik keagamaan formal.
Pengalaman Subjektif dan Ketidakrelevanan Ajaran
Pengalaman pribadi memiliki peran penting dalam membentuk keyakinan terhadap agama. Ketika remaja mengalami pengalaman negatif dalam konteks religius, seperti pendekatan yang keras atau tidak empatik, mereka dapat mengaitkan pengalaman tersebut dengan agama itu sendiri. Selain itu, ketika ajaran agama dirasakan tidak relevan dengan realitas kehidupan yang dihadapi, religiusitas dapat mengalami penurunan.
Contoh pengalaman yang memengaruhi hal ini meliputi:
1. Pengalaman dihakimi atau tidak diterima dalam komunitas religius
2. Pendekatan yang terlalu menekan atau tidak memahami kondisi individu
3. Tidak adanya ruang aman untuk berdiskusi secara terbuka
4. Melihat ketidaksesuaian antara ajaran agama dan perilaku penganutnya
Dampak Psikologis dan Proses Pencarian Makna
Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental remaja, seperti munculnya kecemasan, krisis identitas, atau perasaan terasing. Namun demikian, proses ini juga dapat menjadi bagian dari perkembangan psikologis yang lebih matang.
Dalam proses pencarian makna, remaja berusaha membangun pemahaman yang lebih autentik tentang diri dan keyakinannya, meskipun sering kali diwarnai oleh keraguan dan ambiguitas.
Pendekatan yang Lebih Empatik dan Kontekstual
Memahami fenomena ini memerlukan pendekatan yang lebih empatik dan terbuka. Remaja membutuhkan ruang yang aman dari lingkungannya untuk mengeksplorasi pertanyaan dan keraguan tanpa merasa takut dihakimi. Lingkungan yang suportif, baik dari keluarga maupun masyarakat, dapat membantu remaja menjalani proses pencarian identitas ini dengan lebih sehat. Selain itu, penting juga untuk menghadirkan pemahaman keagamaan yang lebih kontekstual agar tetap relevan dengan realitas kehidupan remaja.
Nama penulis : Shayla Alya Mazaya
Status : Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah kuala

























Diskusi