Minggu, April 19, 2026

Kosong

ae101973-036d-4e7c-b508-990e61a5c5af
Ilustrasi: Kosong

Oleh: Syarifudin Brutu 

Arunika menyelinap malu-malu di celah ventilasi, mencoba mencium bumi dengan hangatnya. Namun di dalam kotak sempit yang ia sebut kamar, Malim masih menggigil. Ia tidak sedang sakit demam; ia sedang sakit jiwa. Malam telah ia bunuh tanpa sisa, tapi bukan untuk ibadah atau cinta, melainkan untuk sebuah jendela ilmu yang judulnya begitu arogan hingga lidah orang awam akan terkilir saat mengejanya.

“Sudahlah, Lim. Mata merahmu itu sudah mirip kelereng berdarah. Tidurlah, istirahatkan ego-mu,” bisik sepasang sepatu usang di balik pintu.

Malim menoleh, tatapannya setajam belati yang karatan. “Diam kau, alas kaki tak berguna! Kau tidak tahu rasanya dihina karena bodoh. Sekali lagi kau menggurui, kulempar kau ke tumpukan sampah peradaban!”

Sepatu itu terbungkam. Suasana mendadak kaku, sampai sebuah suara serak dan berdetak memecah keheningan. Itu adalah jam dinding tua yang jarumnya telat lima menit dari jam nasional—sebuah anomali yang disengaja, mungkin sebagai bentuk protes terhadap keteraturan dunia yang membosankan.

“Lim, apa yang kau kejar sampai kau rela menguliti kesehatanmu sendiri?” tanya si Jam Dinding sinis.

“Ketenangan! Cuma itu yang aku mau!” jawab Malim, suaranya parau, meledak di antara tumpukan kertas.

“Ketenangan?” Lemari pakaian tua tertawa hingga engselnya berderit pilu. “Lihat cermin, Lim! Wajahmu itu mirip senja yang gagal—mendung, keriput sebelum waktunya, dan tak ada cahaya. Kau bilang ingin tenang, tapi kau justru sedang berperang melawan sesuatu yang tidak peduli padamu.”

“Diam kalian! Kalian cuma benda mati! Kalian tidak tahu rasanya menjadi manusia!” bentak Malim, sombong dalam kerapuhannya.

“Justru karena kami benda mati, kami lebih ‘hidup’ daripada kau yang mati di dalam diri sendiri,” timpal si Jam Dinding dengan nada merendah.

“Kenapa kami harus mengerti manusia? Apakah manusia pernah mencoba mengerti kami? Lihat si Sepatu, tiap hari diinjak, menanggung beban tubuhmu yang penuh kebencian, lalu kau ancam dibuang. Lihat si Kasur dan Bantal, mereka menampung mimpi-mimpi burukmu, dihimpit berat badanmu, terkena air liurmu, tapi mereka tak pernah menuntut kenaikan pangkat.”

Si Buku yang tadi dipuja Malim ikut bersuara, “Aku ini jendela ilmu, katanya. Tapi kau membacaku bukan untuk mengerti, melainkan untuk pamer. Aku kau jadikan senjata untuk membungkam orang lain agar kau terlihat pintar. Aku lebih rendah dari guru honorer di pelosok yang dibayar lima puluh ribu sebulan. 

Bahkan, di mata sejarah, harga diriku lebih murah dibanding ‘lonte-lonte’ di ibu kota karena kau hanya menjadikanku aksesori intelektual!”

Si Baju yang menempel di tubuh Malim tak mau kalah, “Tiap hari aku menahan bau badanmu yang asam karena stres. Sabun di kamar mandimu digosok sampai punah hanya untuk membersihkan kulitmu,sesekali kau juga gosok untuk kelaminmu, tapi hati dan pikiranmu tetap kotor oleh dendam pada hinaan orang.”

Jam Dinding kembali berdetak kencang, suaranya memenuhi ruangan.

“Lihat aku, Lim! Aku berputar bertahun-tahun. Jika aku mati, kau hanya perlu mengganti baterai agar aku kembali bekerja. Aku adalah budak waktu yang tak punya pilihan. Tapi kau? Kau punya pilihan, tapi kau memilih menjadi budak pendapat orang lain.”

Suara si Jam semakin berat, menyindir realitas di luar sana.

“Seandainya kami, benda-benda mati ini, melakukan demo besar-besaran, kalian para manusia yang haus validasi akan hancur. Kami akan membakar gedung-gedung mewah tempat para koruptor merancang ‘efisiensi anggaran’—istilah elegan untuk mencuri uang rakyat demi pesta di hotel berbintang. Mereka itu benda hidup yang jiwanya sudah mati, Lim. Sama sepertimu sekarang.”

Malim terdiam. Kata-kata benda mati itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada ejekan teman-temannya.

“Kau menghancurkan dirimu demi orang-orang yang bahkan tidak akan mengingat namamu saat kau mati nanti,” bisik si Bantal lembut. “Kau mengejar pengakuan dari mereka yang sebenarnya juga sedang ketakutan karena tidak punya pengakuan.”

Malim menatap buku di depannya. Tiba-tiba, judul rumit itu terasa sangat kosong. Ia menyadari sebuah kebenaran pahit: ia sedang meminum racun dan berharap orang yang menghinanya yang mati.

“Ada hal-hal yang bisa kau kendalikan, dan ada yang tidak. Pikiran orang lain adalah di luar kendalimu. Mengapa kau menyiksa dirimu untuk sesuatu yang bukan milikmu?” Ujar si jam dinding.

Malim menarik napas panjang. Ia menutup bukunya—bukan karena menyerah, tapi karena ia akhirnya paham bahwa kebijaksanaan tidak ditemukan dalam mata yang terjaga karena dendam, melainkan dalam hati yang cukup kuat untuk berkata: “Aku tidak butuh tepuk tangan kalian untuk merasa utuh.”

Ia berdiri, berjalan menuju tempat tidur, dan sebelum merebahkan kepala, ia berbisik kecil pada sepatu di balik pintu.

“Maafkan aku, Sepatu. Besok kita jalan-jalan, tanpa perlu peduli ke mana arah dunia memandang.”

Kamar itu kembali sunyi. Arunika di luar sana akhirnya tersenyum penuh, melihat seorang manusia yang baru saja belajar cara menjadi hidup di antara benda-benda mati.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Syarifudin Brutu
Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist