Oleh : Ririe Aiko
Penulis
Di baskom seng yang dingin dan sempit,
air mengendap dalam anyir yang pekat.
Capit-capit kecil beradu lirih,
merayap pelan di dasar getir.
Tak ada ombak.
Tak ada muara.
Hanya dinding bundar
dan nasib yang tak kunjung longgar
Seekor kepiting kecil
mendaki diantara tepi yang licin
bukan karena tak tahu diri
bukan karena merasa ahli
Ia hanya ingin keluar sejenak
dari asin hidup yang retak,
menyentuh terang barang sesaat
sebelum gelap kembali rapat.
Namun dasar yang lama ditinggali
sering menumbuhkan dengki yang rapi.
Capit-capit lain pun meraih tubuh yang nyaris diatas
Bukan untuk menyangga,
bukan untuk menjaga,
melainkan memastikan
tak ada yang lebih dulu tiba
Dan tubuh kecil itu pun luruh
Jatuh ke air beku,
ke dasar paling keruh.
Tak ada jerit.
Tak ada riuh.
Hanya bunyi kecil
dari harap yang runtuh.
Begitulah makhluk bercapit
lebih rela karam bersama
daripada melihat satu saja
lebih dulu selamat.
Brebes, Maret 2026
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











