HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Redaksi by Redaksi
Maret 26, 2026
in Cerita Perjalanan, #Budaya Merantau, #kuliah, Esai
Reading Time: 4 mins read
0
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Haura Aurelia Hanna

Langit subuh di negeri orang selalu terasa berbeda. Sunyi, namun menyimpan gema kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Di Ramadan kedua ini, jarak bukan sekadar angka di peta, melainkan ruang panjang yang memisahkan seorang anak dari suara paling dirindukannya, suara parau Ibu di waktu sahur.

Baca Juga

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026

Dulu, sahur selalu dimulai dengan suara lembut itu. Suara seorang perempuan yang bangun lebih awal dari siapa pun di rumah. Ia tidak hanya menyiapkan makanan, tapi juga menyiapkan cinta dalam setiap sajian. Satu per satu anak dibangunkannya, lalu suami menyusul, hingga meja makan menjadi ruang kecil penuh kehangatan.

Kini, di Mesir, semua itu tinggal kenangan yang hidup dalam diam benak hatiku.

Sahur tetap ada, tetapi rasanya berbeda. Tidak ada suara ibu, tidak ada panggilan yang penuh kasih. Yang ada hanyalah teman-teman serumah, makanan sederhana yang disiapkan masing-masing, dan percakapan ringan yang berusaha menutupi rindu. 

Setelah itu, subuh ditunaikan, lalu Al-Qur’an dilantunkan hingga menjelang duha seolah menjadi cara paling sunyi untuk berbicara dengan Allah tentang apa yang tidak mampu diucapkan kepada manusia.

Namun, Ramadan di Mesir mengajarkan sesuatu yang lain bahwa rindu bisa menemukan bentuknya dalam kebersamaan yang tak terduga.

Di setiap sudut kota Cairo, lampu-lampu hias menggantung indah. Jalanan bersinar, rumah-rumah dipenuhi ornamen, seakan seluruh negeri sedang berkata: “Ramadan adalah tamu agung yang harus disambut dengan sukacita.” Dan benar, di negeri ini, Ramadan tidak hanya dirasakan, tapi ia dirayakan oleh rakyat Mesir dan para penuntut ilmu di sana.

Salah satu wajah terindahnya adalah maidatul rahman, meja-meja panjang yang dipenuhi makanan berbuka gratis. Setiap hari, tanpa jeda. Mahasiswa, pekerja, musafir, bahkan mereka yang tak memiliki apa-apa, semua duduk sejajar. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua adalah tamu Allah.

Di situlah rindu mulai berubah makna.

Bahwa mungkin, tangan yang menyuapi kita di rumah telah digantikan oleh tangan-tangan asing yang Allah kirimkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Bahwa ibu yang jauh di kampung halaman, kini hadir dalam wujud orang-orang yang dengan tulus berbagi.

Puncaknya terasa di kawasan Matarea, Kairo. Di pertengahan Ramadan, ribuan meja berjajar rapi, membentang sepanjang jalan. Suasana begitu hidup. Lantunan musik Ramadan menggema, manusia datang dari berbagai penjuru, dan semua duduk bersama dalam satu tujuan berbuka puasa, tidak ada yang merasa sendiri.

Di sisi lain, Masjid Al-Azhar menjadi saksi bagaimana Ramadan dijalani dengan penuh khidmat. Sejak sore, para mahasiswa mulai berbondong-bondong mengantre untuk mendapatkan tempat berbuka. Saat azan magrib berkumandang, semua membatalkan puasa dengan kurma dan air. Lalu, tanpa jeda panjang, imam berdiri, shaf dirapatkan, dan salat pun ditegakkan.

Barulah setelah itu, makanan dinikmati dengan penuh syukur.

Malamnya, tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat dilaksanakan dengan khusyuk, dipimpin oleh para syekh Al-Azhar dengan berbagai qiraat yang menggetarkan hati. Di sana, air mata sering jatuh tanpa suara mungkin karena rindu ya.., mungkin karena harap, atau mungkin karena keduanya bertemu dalam doa doa yang dipanjatkan.

Hingga akhirnya di penghujung Ramadan mendekati perpisahan, bagi masyarakat Mesir kepergian Ramadan bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah kehilangan yang dirasakan bersama. Ada kesedihan yang nyata di wajah-wajah orang, seakan mereka tahu bahwa tamu agung ini belum tentu kembali tahun depan.

ADVERTISEMENT

Para mahasiswa pun mulai mencari masjid untuk salat Id. Masjid-masjid besar dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru. Setelah salat, silaturahmi dimulai mengunjungi para mu’alim, sahabat, dan siapa saja yang telah menjadi keluarga selama di perantauan. Bagi mahasiswa dan mahasiswi Aceh di Mesir, ada Keluarga Masyarakat Aceh (KMA), ’Peupuleh Mesyen u gampong’ ketemu sesama orang orang Aceh di KMA tersebut .

Di situlah, sebuah kesadaran perlahan tumbuh bahwa rumah tidak selalu tentang tempat kita berasal, tetapi juga tentang di mana hati kita belajar bertumbuh.

Ramadan kedua di negeri orang mungkin dimulai dengan rindu yang tak terucap. Namun ia berakhir dengan pemahaman yang lebih dalam bahwa Allah tidak pernah benar-benar menjauhkan kita dari kehangatan. Ia hanya memindahkannya ke tempat yang tidak pernah kita duga dan mungkin, di situlah letak keindahannya kebersamaan.

Meski rindu tetap utuh bersemayam ada di hati, tetapi kini ia tidak lagi melemahkan melainkan menguatkan sesama perantau.

Cairo, 23 April 2026. Ied Mubarak

Haura Aurelia Hanna, Mahasiswi Aceh yang sedang kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabi. Universitas al Azhar. Cairo

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 203x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 159x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 156x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322
#Perang

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Maret 26, 2026
#Hegemoni

Eskalasi dan Keseimbangan: Menimbang Ulang Kekuatan, Pembalasan, dan Perdamaian di Timur Tengah

Maret 26, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?
Artikel

Iran Menyala; Islam Yes, Sains Yes

Maret 26, 2026
Kehidupan pasca-bencana di desa_11zon
Artikel

Empat Bulan Setelah Air Bah itu Pergi

Maret 26, 2026
Next Post
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Iran Menyala; Islam Yes, Sains Yes

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com