Dengarkan Artikel
Oleh: Haura Aurelia Hanna
Langit subuh di negeri orang selalu terasa berbeda. Sunyi, namun menyimpan gema kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Di Ramadan kedua ini, jarak bukan sekadar angka di peta, melainkan ruang panjang yang memisahkan seorang anak dari suara paling dirindukannya, suara parau Ibu di waktu sahur.
Dulu, sahur selalu dimulai dengan suara lembut itu. Suara seorang perempuan yang bangun lebih awal dari siapa pun di rumah. Ia tidak hanya menyiapkan makanan, tapi juga menyiapkan cinta dalam setiap sajian. Satu per satu anak dibangunkannya, lalu suami menyusul, hingga meja makan menjadi ruang kecil penuh kehangatan.
Kini, di Mesir, semua itu tinggal kenangan yang hidup dalam diam benak hatiku.
Sahur tetap ada, tetapi rasanya berbeda. Tidak ada suara ibu, tidak ada panggilan yang penuh kasih. Yang ada hanyalah teman-teman serumah, makanan sederhana yang disiapkan masing-masing, dan percakapan ringan yang berusaha menutupi rindu.
Setelah itu, subuh ditunaikan, lalu Al-Qur’an dilantunkan hingga menjelang duha seolah menjadi cara paling sunyi untuk berbicara dengan Allah tentang apa yang tidak mampu diucapkan kepada manusia.
Namun, Ramadan di Mesir mengajarkan sesuatu yang lain bahwa rindu bisa menemukan bentuknya dalam kebersamaan yang tak terduga.
Di setiap sudut kota Cairo, lampu-lampu hias menggantung indah. Jalanan bersinar, rumah-rumah dipenuhi ornamen, seakan seluruh negeri sedang berkata: “Ramadan adalah tamu agung yang harus disambut dengan sukacita.” Dan benar, di negeri ini, Ramadan tidak hanya dirasakan, tapi ia dirayakan oleh rakyat Mesir dan para penuntut ilmu di sana.
Salah satu wajah terindahnya adalah maidatul rahman, meja-meja panjang yang dipenuhi makanan berbuka gratis. Setiap hari, tanpa jeda. Mahasiswa, pekerja, musafir, bahkan mereka yang tak memiliki apa-apa, semua duduk sejajar. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua adalah tamu Allah.
Di situlah rindu mulai berubah makna.
Bahwa mungkin, tangan yang menyuapi kita di rumah telah digantikan oleh tangan-tangan asing yang Allah kirimkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Bahwa ibu yang jauh di kampung halaman, kini hadir dalam wujud orang-orang yang dengan tulus berbagi.
Puncaknya terasa di kawasan Matarea, Kairo. Di pertengahan Ramadan, ribuan meja berjajar rapi, membentang sepanjang jalan. Suasana begitu hidup. Lantunan musik Ramadan menggema, manusia datang dari berbagai penjuru, dan semua duduk bersama dalam satu tujuan berbuka puasa, tidak ada yang merasa sendiri.
Di sisi lain, Masjid Al-Azhar menjadi saksi bagaimana Ramadan dijalani dengan penuh khidmat. Sejak sore, para mahasiswa mulai berbondong-bondong mengantre untuk mendapatkan tempat berbuka. Saat azan magrib berkumandang, semua membatalkan puasa dengan kurma dan air. Lalu, tanpa jeda panjang, imam berdiri, shaf dirapatkan, dan salat pun ditegakkan.
Barulah setelah itu, makanan dinikmati dengan penuh syukur.
Malamnya, tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat dilaksanakan dengan khusyuk, dipimpin oleh para syekh Al-Azhar dengan berbagai qiraat yang menggetarkan hati. Di sana, air mata sering jatuh tanpa suara mungkin karena rindu ya.., mungkin karena harap, atau mungkin karena keduanya bertemu dalam doa doa yang dipanjatkan.
Hingga akhirnya di penghujung Ramadan mendekati perpisahan, bagi masyarakat Mesir kepergian Ramadan bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah kehilangan yang dirasakan bersama. Ada kesedihan yang nyata di wajah-wajah orang, seakan mereka tahu bahwa tamu agung ini belum tentu kembali tahun depan.
Para mahasiswa pun mulai mencari masjid untuk salat Id. Masjid-masjid besar dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru. Setelah salat, silaturahmi dimulai mengunjungi para mu’alim, sahabat, dan siapa saja yang telah menjadi keluarga selama di perantauan. Bagi mahasiswa dan mahasiswi Aceh di Mesir, ada Keluarga Masyarakat Aceh (KMA), ’Peupuleh Mesyen u gampong’ ketemu sesama orang orang Aceh di KMA tersebut .
Di situlah, sebuah kesadaran perlahan tumbuh bahwa rumah tidak selalu tentang tempat kita berasal, tetapi juga tentang di mana hati kita belajar bertumbuh.
Ramadan kedua di negeri orang mungkin dimulai dengan rindu yang tak terucap. Namun ia berakhir dengan pemahaman yang lebih dalam bahwa Allah tidak pernah benar-benar menjauhkan kita dari kehangatan. Ia hanya memindahkannya ke tempat yang tidak pernah kita duga dan mungkin, di situlah letak keindahannya kebersamaan.
Meski rindu tetap utuh bersemayam ada di hati, tetapi kini ia tidak lagi melemahkan melainkan menguatkan sesama perantau.
Cairo, 23 April 2026. Ied Mubarak
Haura Aurelia Hanna, Mahasiswi Aceh yang sedang kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabi. Universitas al Azhar. Cairo
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











