Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Jumat 13 Maret 2026, selepas tarawih, udara di Padepokan Kuncoro Hadi terasa lebih jernih dari biasanya. Barangkali karena percakapan tentang seni selalu menyisakan ruang keheningan yang panjang, semacam jeda untuk merenungkan hidup.
Diskusi budaya bertajuk “Menafsir Cahaya: Dialog Sastra, Musik, dan Seni Rupa” sejatinya dirancang untuk membicarakan tiga disiplin seni sekaligus. Namun, ketidakhadiran Dwi Kartika Rahayu yang harus mempersiapkan pameran lukisan di Jakarta membuat forum malam itu hanya berputar pada sastra dan musik.
Ironisnya, justru dalam keterbatasan itulah percakapan menjadi semakin intens, seolah cahaya pemikiran menemukan jalannya sendiri.
Saya hadir sebagai penyair, berbicara dari sudut pandang puisi. Nuris Udzma memantik perspektif musikalitas, Titus Tri Wibowo menyodorkan pembacaan budaya kontemporer, sementara Panji Kuncoro Hadi, akademisi dari Universitas PGRI Madiun sekaligus tuan rumah, mengawal diskusi hingga menjelang sahur.
Percakapan yang dimulai dari sastra lokal Madiun itu kemudian merambat pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana seni membentuk kepekaan batin manusia di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kepastian-kepastian semu.
Dalam satu titik perbincangan, Panji Kuncoro Hadi menyampaikan refleksi yang terasa sederhana, namun mengandung kedalaman. Ia mengatakan bahwa diskusi budaya di luar ruang kelas adalah cara masyarakat menebus keterbatasan sistem pendidikan formal.
“Kampus memberi kerangka, tetapi ruang kebudayaan memberi jiwa,” ujarnya. Pernyataan itu seperti mengafirmasi pandangan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan sejati adalah proses memerdekakan manusia. Seni, dalam konteks ini, bukan sekadar objek apresiasi, melainkan jalan sunyi untuk melatih kebijaksanaan.
Kita hidup dalam zaman yang memuja kecepatan, namun lupa pada kedalaman. Diskusi seni yang mulai marak di Madiun beberapa waktu terakhir adalah gejala kultural yang menarik. Ia bukan sekadar tren, melainkan tanda bahwa masyarakat mulai mencari ruang alternatif untuk berpikir kritis tanpa harus menjadi reaktif.
Di sini, seni bekerja sebagai penjernih emosi. Ia melatih manusia untuk merasakan sebelum menilai, memahami sebelum menghakimi. Seperti dikatakan filsuf Yunani Socrates, “Kebijaksanaan sejati adalah menyadari bahwa kita tidak mengetahui apa-apa.” Dalam kerendahan hati epistemologis itulah dialog budaya menemukan maknanya.
Nuris Udzma dalam kesempatan itu menegaskan bahwa musik adalah bahasa yang mampu menembus sekat-sekat logika. Ia percaya kolaborasi antara musik dan sastra akan membuka kemungkinan baru dalam ekspresi artistik. “Nada adalah puisi yang dilafalkan oleh waktu,” katanya.
Gagasan ini sejalan dengan pandangan Friedrich Nietzsche yang menyebut bahwa tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan. Musikalisasi puisi, penulisan puisi yang terinspirasi dari komposisi instrumental, bahkan kemungkinan menghadirkan musikalisasi esai, sebagaimana digagas Panji, menunjukkan bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas selain imajinasi manusia itu sendiri.
Dalam diskusi tersebut, saya sempat menunjukkan tiga buku puisi saya: Melukis Peristiwa, Diksi Emas, dan Epistemologi Moksa Para Naga. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Melukis Peristiwa lahir dari pengalaman jurnalistik dan telah banyak dimuat di koran nasional maupun regional. Diksi Emas berorientasi pada panggung, pada kelisanan yang komunikatif. Sementara Epistemologi Moksa Para Naga adalah eksperimen bahasa yang mungkin membuat pembaca awam merasa ini puisi rumit yang bahasanya terlalu tinggi. Jika ketiganya dipertanyakan mana yang paling benar, maka pertanyaan itu sesungguhnya telah keliru sejak awal. Sebab puisi, sebagaimana kebudayaan, adalah medan kemungkinan.
Di sinilah Titus Tri Wibowo menyampaikan pandangan yang menarik. Ia mengatakan bahwa budaya kontemporer menuntut keberanian untuk merayakan pluralitas makna. “Keseragaman adalah ilusi yang diciptakan oleh ketakutan,” tuturnya. Pernyataan ini mengingatkan kita pada pemikiran José Ortega y Gasset yang menilai bahwa manusia modern sering terjebak dalam mentalitas massa, yaitu kecenderungan menganggap satu perspektif sebagai kebenaran tunggal. Padahal seni justru lahir dari keberagaman tafsir.
Fenomena pemaksaan tafsir dalam memahami puisi di ruang kelas menjadi contoh konkret bagaimana hegemoni kebenaran dapat tumbuh tanpa disadari. Mahasiswa seringkali menganggap bahwa puisi yang benar adalah puisi yang sesuai dengan modul atau buku paket. Mereka lupa bahwa karya-karya WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan Wiji Thukul masing-masing menawarkan horizon estetika yang berbeda. Ketika ruang diskusi di luar kampus tidak tumbuh, kesalahpahaman itu diwariskan secara turun-temurun. Ilmu berhenti pada hipotesis sementara, tetapi diperlakukan sebagai kebenaran final.
Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Al-Ghazali, pengetahuan sejati lahir dari keraguan yang jujur. Selama sesuatu masih berada dalam ranah keyakinan, kita wajib menyisakan kemungkinan salah. Kesadaran ini akan mencegah insan seni menjadi jumawa, apalagi diktator kultural yang merasa tafsirnya paling mutlak. Seni sejati adalah ruang di mana perbedaan diperlakukan sebagai rahmat. Ia seperti palet warna yang baru menemukan keindahannya ketika berbaur dalam komposisi yang beragam.
Diskusi malam itu akhirnya mengajarkan satu hal yang mungkin tidak diajarkan oleh kurikulum mana pun: kedewasaan berpikir. Bahwa kebenaran dalam seni tidak berdiri sendiri, melainkan hadir dalam relasi antar perspektif. Bahwa kepekaan hati bukan hasil dari nasihat moralistik, melainkan buah dari pengalaman estetis yang terus diasah. Seni mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, karena setiap makna selalu memiliki bayangan yang belum sempat kita lihat.
Menjelang sahur, percakapan mulai mereda. Namun cahaya pemikiran justru terasa semakin terang. Saya menyadari bahwa diskusi budaya bukan sekadar forum intelektual, melainkan peristiwa eksistensial. Ia menuntun kita untuk bertanya kembali tentang hakikat memahami. Apakah selama ini kita benar-benar mendengarkan, atau hanya menunggu giliran untuk berbicara. Apakah kita mencari kebenaran, atau sekadar mencari pembenaran.
Barangkali hidup, seperti puisi, tidak pernah memiliki tafsir yang selesai. Ia selalu terbuka bagi keberanian untuk meragukan, menghayati, dan menafsir ulang. Jika demikian, pertanyaan yang tersisa bagi kita bukan lagi mana perspektif yang paling benar, melainkan sejauh mana kita berani merawat kerendahan hati intelektual dalam setiap perjumpaan dengan perbedaan. Sebab mungkin, justru di situlah cahaya yang sesungguhnya sedang menunggu untuk dipahami. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















