Dengarkan Artikel
Oleh : Novita Sari Yahya
Di sebuah kota kecil di pesisir Sumatra, seorang anak berjalan setiap sore dengan langkah hati-hati. Tangannya menggenggam rantang berisi nasi dan lauk sederhana. Namanya Enir. Usianya baru lima tahun, tetapi wajahnya sudah mengenal kecemasan yang tidak biasa bagi anak seusianya. Ia menyusuri jalan berdebu menuju sebuah bangunan besar dengan dinding kusam dan jeruji besi yang dingin. Di sanalah ayahnya ditahan.
Penjara itu dijaga tentara asing. Senapan tergantung di bahu mereka, tatapan mereka keras. Enir selalu menunduk ketika melewati pintu gerbang. Seorang penjaga sering memeriksa isi rantangnya, lalu mengangguk singkat. Enir tidak pernah membalas dengan kata-kata. Ia hanya menunggu sampai diizinkan masuk ke ruang sempit tempat ayahnya duduk.
Ayahnya adalah dr. Sagaf. Tubuhnya kurus, tetapi sorot matanya tidak pernah redup. Setiap kali melihat Enir datang, wajahnya berubah gembira.
“Terima kasih sudah datang, Nak,” ucapnya pelan.
Enir menyerahkan rantang itu dengan kedua tangan. “Ayah harus makan supaya kuat.”
Dr. Sagaf tersenyum. “Ayah kuat karena kamu.”
Bagi Enir kecil, ayahnya bukan hanya seorang dokter. Ia adalah lelaki yang sering berbicara tentang kebebasan dengan nada tegas. Ia kerap mengatakan bahwa bangsa yang sehat tidak mungkin lahir dari jiwa yang terjajah. Enir belum sepenuhnya mengerti makna kata-kata itu, tetapi ia mengingatnya dengan baik.
Sebelum dipenjara, dr. Sagaf dikenal sebagai dokter yang tidak pernah membedakan pasien. Ia mengobati siapa pun yang datang, tanpa memandang latar belakang. Rumahnya sering dipenuhi orang yang mencari pertolongan. Namun, selain menyembuhkan, ia juga aktif berbicara tentang kemerdekaan. Ia berkumpul dengan tokoh-tokoh pergerakan, berdiskusi tentang masa depan negeri.
Pada tahun 1935, bersama beberapa pemuda, ia terlibat dalam kegiatan organisasi yang bertujuan kemerdekaan bangsa. Pertemuan-pertemuan itu dilakukan diam-diam, tetapi semangatnya menyala. Mereka percaya bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa.
Penangkapan itu terjadi tanpa peringatan. Tentara Jepang datang ke rumah saat dini hari. Enir terbangun oleh suara langkah berat dan bentakan perintah. Ia melihat ayahnya digiring keluar dengan tangan terikat. Ibunya menangis tertahan, sementara dr. Sagaf tetap tegak.
“Jaga ibu,” katanya pada Enir sebelum pintu ditutup.
Tiga tahun berlalu dengan lambat. Setiap hari Enir membawa makanan. Setiap hari pula ia melihat ayahnya tetap tegar. Dari balik jeruji, dr. Sagaf sering berbicara tentang harapan.
“Penjara ini hanya tembok,” katanya suatu sore. “Tapi pikiran tidak bisa dipenjara.”
Enir mengangguk meski belum sepenuhnya memahami.
Ketika masa penjajahan itu berakhir dan kemerdekaan diproklamasikan, kota kecil itu berubah. Orang-orang berkumpul di lapangan. Bendera merah putih dikibarkan dengan tangan gemetar namun penuh kebanggaan. Dr. Sagaf berdiri di tengah kerumunan, suaranya lantang membacakan kabar kemerdekaan di hadapan rakyat.
Enir berdiri tak jauh darinya. Ia melihat ayahnya bukan sekadar dokter. Ia melihat seorang lelaki yang memilih berdiri di garis perlawanan.
Tahun-tahun setelah itu diisi dengan kerja keras. Negeri yang merdeka ternyata tidak langsung bangkit. Konflik dan perbedaan pendapat muncul. Ketika Enir beranjak dewasa dan masuk sekolah kedokteran, ia membawa bayangan masa kecilnya.
Di kampus, ia sering berdiskusi dengan teman-temannya tentang peran dokter dalam masyarakat.
“Dokter seharusnya netral,” kata seorang mahasiswa.
“Netral terhadap apa?” tanya Enir.
“Terhadap politik.”
Enir terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kalau rakyat sakit karena ketidakadilan, apakah kita cukup memberi obat penurun panas?”
Perdebatan itu tidak selalu berakhir dengan kesepakatan. Namun Enir semakin yakin bahwa profesi dokter tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial.
Ketika gejolak daerah mengguncang Sumatra dan gerakan PRRI muncul, Enir sudah menjadi dokter muda. Ia menyaksikan korban berjatuhan, baik dari pihak militer maupun warga sipil. Rumah sakit penuh dengan tubuh yang terluka dan keluarga yang cemas.
📚 Artikel Terkait
Suatu malam, seorang pemuda dengan luka tembak dibawa ke ruang operasi. Nafasnya tersengal.
“Tolong saya, Dok,” bisiknya.
Enir bekerja dengan cepat. Darah membasahi sarung tangannya. Dalam situasi itu, ia tidak bertanya tentang latar belakang si pemuda. Ia hanya tahu bahwa nyawa harus diselamatkan.
Setelah operasi selesai, Enir duduk sendirian di ruang istirahat. Ia teringat ucapan ayahnya tentang bangsa yang sehat. Ia mulai memahami bahwa menjadi dokter di negeri yang sedang mencari jati diri berarti siap berada di tengah pusaran konflik.
Dr. Sagaf yang sudah menua tetap mengikuti perkembangan zaman. Rambutnya memutih, tetapi pikirannya tajam. Suatu sore, Enir duduk bersamanya di beranda rumah.
“Ayah,” kata Enir, “apakah perjuangan tidak pernah selesai?”
Dr. Sagaf tersenyum tipis. “Perjuangan berubah bentuk. Dulu kita melawan penjajah. Sekarang kita melawan ketidakadilan dan keserakahan.”
“Apakah dokter harus terlibat?”
“Dokter harus berpihak pada rakyat,” jawabnya mantap.
Tahun-tahun berganti. Masa pemerintahan baru membawa stabilitas sekaligus tekanan. Kritik sering dianggap ancaman. Beberapa intelektual dibungkam. Di tengah situasi itu, muncul sosok dokter lain bernama Hariman. Ia dikenal vokal menyuarakan pendapatnya melalui tulisan.
Enir membaca salah satu tulisannya di sebuah majalah.
“Kesehatan bukan hanya soal rumah sakit,” tulis Hariman. “Soal keberanian mengatakan yang benar.”
Tak lama kemudian, kabar penahanan Hariman menyebar. Ia dipenjara karena dianggap mengganggu ketertiban. Enir merasakan peristiwa yang sama.. Ia teringat langkah kecilnya menuju penjara puluhan tahun lalu.
Ia mengunjungi Hariman di rumah tahanan. Ruangan itu sempit, dindingnya kusam.
“Terima kasih sudah datang,” kata Hariman.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Enir.
“Saya baik. Selama pikiran masih bebas, saya tidak kalah.”
Kalimat itu menggetarkan hati Enir. Ia melihat semangat yang sama seperti yang pernah ia lihat pada ayahnya.
Di rumah, Enir merenung lama. Ia menyadari bahwa garis perlawanan tidak selalu berbentuk senjata. Kadang ia hadir dalam ruang praktik, dalam tulisan yang berani, atau dalam keputusan untuk tidak menutup mata.
Suatu hari, Enir diminta berbicara di hadapan mahasiswa kedokteran. Aula itu penuh. Wajah-wajah muda menatapnya.
Ia berdiri di podium, menarik napas panjang.
“Menjadi dokter adalah kehormatan,” katanya. “Kita belajar tentang anatomi dan obat-obatan. Tetapi kita juga harus belajar tentang nurani.”
Seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Apakah dokter harus terlibat dalam isu sosial?”
Enir tersenyum. “Ketika masyarakat terluka, kita tidak bisa pura-pura tidak melihat. Kita memang bukan politisi. Namun kita adalah manusia yang diberi pengetahuan untuk menyelamatkan hidup.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Ayah saya pernah dipenjara karena memperjuangkan kemerdekaan. Ia mengajarkan bahwa keberanian adalah bagian dari penyembuhan.”
Suasana hening menyelimuti ruangan.
“Dokter di garis perlawanan bukan berarti selalu turun ke jalan,” tambahnya. “Ia berarti berdiri tegak ketika kebenaran diuji. Ia berarti menolak suap, menolak manipulasi, dan menolak membiarkan rakyat kecil tidak mendapat layanan.”
Setelah acara selesai, beberapa mahasiswa mendekatinya.
“Terima kasih atas inspirasinya, Dok,” kata salah seorang dari mereka.
Enir mengangguk. “Bangsa ini membutuhkan dokter yang cerdas dan berani.”
Malam itu, ia pulang dengan perasaan tenang. Ia menatap foto lama ayahnya yang tergantung di ruang tamu. Dalam foto itu, dr. Sagaf mengenakan jas putih dan tersenyum tipis.
“Ayah,” bisik Enir pelan, “perjuangan itu masih ada.”
Angin malam berembus lembut melalui jendela. Tidak ada suara gemuruh, hanya keheningan yang sarat makna. Enir menyadari bahwa hidupnya adalah kelanjutan dari prinsip yang pernah di jalani ayahnya.
Ia bukan pahlawan besar. Ia hanya seorang dokter yang setiap hari berhadapan dengan pasien. Namun di balik meja praktiknya, ia memegang prinsip yang tidak bisa dibeli.
Ia tahu bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga integritas. Dan selama masih ada dokter yang berani berdiri di garis perlawanan, harapan itu akan tetap hidup.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






