Dengarkan Artikel
Oleh Adilla Jelita
Siswa kelas X-1, SMA Negeri 1 Suka Makmur, Sibreh, Aceh Besar
Alhamdulillah perjalanan puasa kita sudah berjalan lebih dari 5 hari. Kita telah menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan penuh suka cita dan rasa syukur, karena Allah masih memberikan kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan ini dan bisa menunaikan ibadah puasa.
Berpuasa berarti menahan diri atau menahan nafsu, namun itu bukan lah hal yang mudah untuk dilakukan. Kita diwajibkan untuk melakukannya.
Di hari pertama, saya dibangunkan sahur oleh ibu saya pada jam 04:02 .Suara ibu seperti suara alarm yang tidak pernah disetel, sangking setiap menit bersuara, tapi suara ibu lebih enak didengar dari pada suara yang saat dibangunkan oleh adik saya. Adik saya membangunkan saya seperti orang dikejar satpol PP.
Pada sahur pertama, semuanya dimulai dengan aroma sahur pertama yang khas. Ada rasa kantuk yang kalah oleh semangat yang meluap-luap.
Di hari pertama, masjid penuh sesak waktu tarawih, meskipun hujan,target tadarus dipasang setinggi langit, tapi saya hanya mendengarnya saja dari rumah, karena saya perempuan. Ada momen haru dan bahagia saat pelaksanaan tarawih. Setiap orang tersenyum, seolah-olah beban hidup baru saja terangkat.
Pada sahur pertama, saya membantu ibu menghidangkan makanan ke tempat makan,dan saat saya berniat saya melihat senyum semangat dari wajah ibu,ayah, kakak dan adek. Saya pun begitu senang dan semangat berpuasa pada hari pertama, sehingga saya berjanji pada diri sendiri bahwa ramadhan tahun ini harus berbeda,harus lebih baik.
Pada saat menunggu subuh tiba, tidak lupa mengecek hp dahulu, namun belum lama saya pegang hp, ibu memanggil dari kamarnya dan datang lah tanyaku “kenapa mak?”
Rupanya saya, kakak dan adek saya disuruh untuk mengambil air wudhu dan sebelum subuh disuruh mengaji sebentar. Lalu mengajilah kami di kamar masing-masing dengan kakak dan adek. Kami membaca surah Al-Waqiah, karena kata mama jika membaca al-waqiah pada pagi hari, maka akan dipermudahkan rezeki.
Usai menngaji langsung terdengar azan subuh berkumandang dan selanjutnya saya, kakak dan adek saya langsung salat sunat fajar dan salat subuh bersama.Kami salat bertiga dan ibu bersama ayah di kamarnya.
Nah pada pagi yang cerah dan terasa beda, kami pergi asbuh berempat yaitu ibu kakak adek dan saya. Kami melihat pada perkampungan yang kami lewati sangat sepi mungkin masyarakat tidur.
Apa yang menarik bagi kami,saat berpergian asmara subuh, kami tidak pernah sekalipun bergosip. Bukan seperti orang lain ya-kan? Entah mengapa, ke manapun pergi dan di mana pun dan di saat apapun, bahkan di bulan puasa mereka masih bisa bergosip,tapi saya ingatkan kalau tidak mau pahala puasa-mu diambil orang, maka kamu jangan pernah bergosip dan jika ada yang membuat kamu emosi, maka sabar lah. Itu adalah ladang pahala bagimu.
📚 Artikel Terkait
Singkat ceritanya, pukul 09:47 kami sudah pulang dari asbuh, lalu kami berempat sholat dzuha dan selanjutnya seperti biasanya kami disibukkan dengan tugas masing-masing. Ibu mencuci baju,kakak menyapu dalam dan luar halaman dan saya mencuci piring. Sedangkan si princess kami tidur kembali yaitu si adek ,dan saat sudah menyelesaikan tugasnya, semua istirahat dan tertidur pulas sampai siang.
Kami terbangun oleh suara Adzan yang berkumandang di masjid dan langsung wudhu, melaksanakan salat dzuhur serta dzikir dan membaca Al-Quran . Usai salat Dzuhur kami diajak oleh ibu untuk membuat kue bersama. Hanya untuk menghabiskan waktu luang saja dan kue itu dibuat tidak banyak, kira-kira hanya untuk berbuka kami dan saat adzan ashar kami salat bergantian, karena menjaga kue di oven.
Saya tidak membahas ayah, karena ayah sedang bekerja. Setelah membuat kue saya dan kakak pun membantu ibu memasak. Ada yang mengupas bawang, ada yang menggiling cabai dan ada yang nangis gara-gara haus. Siapa lagi kalau bukan si princess(si adek).
Apa yang ditunggu-tunggu adalah waktu berbuka dan ini ceritanya ayah sudah pulang dari tempat kerjanya dan kami berbuka saat mendengar suara serine dari meunasah kami berbuka. Namun,tidak lama setelah berbuka, adzan magrib pun terdengar dan kami salat berjamaah. Tentu tidak lupa pula saya sebagai anak gen z main hp dulu sejenak karena tidak lama kemudian di masjid sudah mulai terdengar adzan ‘isya. Artinya kami harus berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih.
Pada hari kedua di bulan ramadhan, Saya sekamar, kakak dan adek terbangun oleh suara memasak ibu dari dapur. Kami terbangun kemudian cuci muka, sikat gigi dan makan sahur: lalu seperti biasa saat sebelum adzan kami sudah terbiasa untuk mengaji sebentar dan pada saat adzan kami salat sunat dan salat subuh dan begitu juga pada saat pagi kami pun pergi asmara subuh atau joging pagi sebentar dan pulangnya salat dzuha.
Seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah dan saatnya semua tertidur. Sedangkan saya sibuk belajar untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade di LKN dan juga di Indonesia student. Ketika adzan Dzuhur saya pun membangunkan ibu kakak dan adek saya, untuk salat dan setelah salat kami kembali membuat kue lagi, tapi hari ini seperti jenis gorengan dan saya membagikan buat saudara dekat saja.
Singkat cerita, sudah isya, kami membawakan kue yang kami buat untuk disedekahkan ke masjid dan sambil pergi salat tarawih.
Pada hari ketiga ramadhan, saya dan kakak saya terbangun oleh suara si adek yang suaranya seperti ada mic di dalam kerongkongannya yang begitu besar dan kami terbangun, lalu melihat ayah yang sedang membantu ibu menyiapkan makan sahur. Kami tinggal makan saja bersama.
Ya, tanpa terasa sudah 3 hari puasanya. Kegiatan tetap sama, tapi di hari ketiga, sepulangnya dari asbuh, saya sangat mengantuk dan saya tidak salat dzuha hingga saya terbangun pukul setengah satu dan melihat semua pekerjaan sudah kelar dan saya melihat ibu,kakak dan adek sedang membuat dan mempersiapkan kue untuk dijual. Saya pun bergegas untuk membantu, juga mengantar kue ke tempat jualan.
Alhamdulillah juga ada yang mengordernya,di saat kami singgah di tempat teman yang jualan, ada seorang kakak kelas yang dari sekolah. Dia pusing dan dia minta bantuan saya agar mengantarkannya ke puskesmas.
Yang membuat saya kaget, saat tiba di Puskesmas ia pingsan. Setelah diperiksa, ia rupanya pusing karena tidak makan sahur. Mungkin itulah pentingnya bersahur.
Hari ke empat, kami semua telat bangun sahur. Waktu sudah sempit, ibu tidak memasak lagi,melainkan hanya memanaskan masakan berbuka dan makan seadanya. Kami pun tidak melakukan asbuh. Sambil menunggu waktu lomba olimpiade, saya disibukkan oleh tugas cuci sepatu buat sekolah besok dan mencuci piring lalu pada pukul 10:00-13:00 saya dijadwalkan mengikuti lomba daring LKN dan daring Indonesia student.
Nah, hari ke lima. Hari yang bahagia, saya dibangunkan oleh suara ibu yang menyuruh saya menjemput adik yang tidur di rumah nenek dan kami pun bersahur. Lalu mengerjakan hal rutin dan saya tidak tidur lagi karena hari pertama ke-sekolah.
Hari pertama ke sekolah ini terasa berat bagi saya untuk bersekolah, tapi saya bersemangat juga karena jumpa kawan. Selama di sekolah kami melakukan beberapa kegiatan. Jam pertama kami tadarusan dan salat dzuha berjamaah empat raka’at kalau kemudian beut drah atau disirami rohani sebentar oleh ustadz penceramah.
Kemudian istirahat, tapi bukan untuk jajan. Istilah istirahat dalam Islam yaitu tidur dzuha untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan selanjutnya kami masuk dalam kelas dan belajar. Maksud belajar bukan berarti belajar seperti hari biasa, yang harusnya tentang ekonomi, tetapi ini tentang perdagangan Rasulullah atau yang berkaitan Islam dan misal-nya pelajaran matematika yang membahas tentang rumus-rumusan atau linear dua variabel kali ini membahas tentang warisan.
Setelah kami belajar dalam kelas selama se-jam kemudian kembali lagi ke musholla untuk salat Dzuhur. Kemudian, salah satu yang telah dijadwalkan untuk membaca essay oleh siswa yang ada di dalam organisasi OSIS . Saya sebagai wakil ketua OSIS yang sedang menggantikan ketua yang sedang sakit:
Untung lah saya sudah mempersiapkan essaynya. Hari itu saya yang membaca essay dan pas pada hari pertama, maka dari itu kepsek,guru dan siswa-siswa lain suka mendengarkan nya dan kepsek merekomendasikan saya untuk rajin menulis. Saya pun mengirimkan cerita ini ke Potretonline.com, agar teman-teman lain termotivasi juga menulis.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





