POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
February 16, 2026
Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Pagi ini, Senin 16 Februari 2025, saya bergegas menyiapkan diri dan bahan untuk menuju ke kantor Pajak Pratama yang letaknya dekat dengan Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSU ZA) Lampriet, Banda Aceh.

Kedatangan saya ke kantor Pajak, karena pada hari Kamis, tanggal 12 Maret 2026 ditelpon lewat sebuah nomor WA 0822 760 5155 yang dengan identitas Pelayanan dan Informasi. Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai petugas di bagian pelayanan dan informasi kantor pelayanan Pajak Pratama di Banda Aceh yang meminta saya datang ke kantor pajak pada hari Senin, 16 Februari 2026 pada pukul 10.00 pagi.

Lalu, ia meminta saya untuk mengambil nomor antri lewat aplikasi. Namun, ia tidak mengarahkan saya untuk langsung melakukan pendaftaran di Pajak Cortex, tetapi meminta saya menunggu ada yang akan menghubungi kemudian. Tak lama berselang, panggilan telepon berdering datang dari nomor 081938790148 dengan nama Pangestu, SH. Ia meminta saya membuka aplikasi pendaftaran pajak cortex.  Namun, tidak bisa masuk karena tidak menggunakan Android. Lalu saya diminta datang saja ke kantor Pajak pada hari Senin.

Ya, Senin pagi ini, pukul 09.50 WIB saya sudah masuk ke tempat parkir kendaraan di kantor pajak, lalu turun menuju pintu masuk. Namun, di depan pos security, sang petugas bertanya, mau ke mana Pak? Hari ini kantor tutup. Mau jumpa siapa?

Saya pun menceritakan hal yang sama, seperti di atas. Sang petugas berkata itu penipuan Pak. Saya pun kaget, karena saya ternyata bisa kena tipu juga. Padahal selama ini sudah sangat hati-hati.

Nah, kasus di atas adalah sebuah realitas di zaman edan ini. Ya, Ini memang zaman edan. Segalanya bisa terjadi. Bukan hanya yang mungkin, bisa terjadi. Yang tak mungkin dan tidak mampu kita pikirkan dengan akal sehat kita, bisa jadi nyata. Jadi jangan heran bila di zaman ini banyak orang yang menjadi korban dari tindakan curang seseorang atau sekelompok orang.

Jadi ungkapan “Zaman edan”, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan dunia kita hari ini. Segalanya bisa terjadi, bahkan yang tak masuk akal sekalipun. Teknologi digital yang seharusnya menjadi alat memudahkan hidup, justru membuka pintu bagi praktik curang yang semakin merajalela. Penipuan kini bukan lagi sekadar cerita di pinggir jalan, melainkan fenomena yang menyentuh hampir setiap lapisan masyarakat.

Bayangkan, wajah biasa bisa diubah menjadi luar biasa dengan aplikasi edit foto. Berita palsu lebih dipercaya daripada fakta. Dan yang lebih berbahaya, penipuan berkedok layanan resmi semakin lihai menjerat korban. Oleh sebab itu, agar kita tidak tertipu oleh berbagai aksi penipuan tersebut, alangkah tepat dan baik bila kita mau mengenal bentuk- bentuk penipuan yah menggurita tersebut.

Sejalan dengan semakin banyaknya aplikasi digital dalam kehidupan kita selama ini. Kita pasti sudah kenal dengan model penipuan perbankan yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari mangsa.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

PERMENUNGAN MALAM

PUASA KA AKHE

Murid SDIT Muhammadiyah Manggeng Diajarkan Cara Buat Telur Asin dan Mencintai Alam

Ya, penipuan atas nama perbankan, sering dilakukan dengan menggunakan fasilitas SMS atau telepon. Mereka mengatasnamakan bank, meminta kode OTP, lalu rekening korban dikuras.

Kedua, bagi para pensiunan seperti halnya saya, juga sering ditelpon oleh penipu yang mengatasnamakan PT Taspen. Dalam modus ini para ensiunan ASN ditipu dengan aplikasi palsu yang mengaku dari Taspen, hingga kehilangan tabungan puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Seperti yang saya alami pagi Senin ini, sang penipu menggunakan petugas pajak. Oknum mengaku petugas pajak, menelpon dan meminta untuk melakukan pemutakhiran data, atau bisa pula menawarkan “penghapusan denda” dengan syarat transfer uang. Aksi penipuan ini bisa jadi sudah ada yang memakan korban. Jadi sangat kasihan bukan?

Modus lain yang juga tidak kalah menariknya adalah modus penipuan “Investasi Bodong”.  Modus memberikan janji keuntungan besar dalam waktu singkat, padahal ujungnya lenyap tanpa jejak.

Lalu, sejalan dengan perkembangan teknologi keuangan, modus E-commerce Palsu juga sering membawa korban. Dalam modus ini bisa dalam bentuk, barang tidak dikirim, atau barang palsu dikirim dengan harga selangit.

Itulah beberapa bentuk modus atau aksi penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang terus mencari mangsa yang harus kita kenal dan pelajari agar kita tidak menjadi korban.

Nah, barangkali banyak yang terheran dan bertanya mengapa mereka tega melakukan aksi penipuan ?  Tentu ada banyak pula faktor atau penyebab yang melatarbelakangi maraknya praktik penipuan tersebut. Yang jelas, faktor penyebabnya tidak tinggal. Ya, fenomena ini  tumbuh dari kombinasi faktor. Misalnya, kemajuan teknologi yang membuka celah manipulasi. Kedua, rendahnya literasi digital, membuat masyarakat mudah percaya pada pesan instan. Ke tiga, pasti alasan tekanan ekonomi, yang membuat orang tergiur janji cepat kaya. Ke empat, pengaruh budaya instan, di mana verifikasi dianggap merepotkan. Sehingga semakin banyak korban penipuan yang terjadi yang membuat korba rugi besar.

Bila kita mau mencari data data dari kepolisian kita akan mendapatkan fakta memilukan. Sebab dengan gencarnya aksi penipuan sekarang, data akan menunjukkan bahwa kasus penipuan digital meningkat setiap tahun. Pensiunan ASN, pelaku UMKM, hingga pengguna e-commerce menjadi target utama. PT Taspen sendiri  mungkin mengakui banyak laporan peserta yang ditipu lewat telepon dan aplikasi palsu.

Untuk saat ini, harus kita fahami bahwa yang dijadikan sasaran penipuan itu, bukan hanya orang-orang awam, yah yang kemampuan literasi rendah, orang-orang pintar dan cerdas pun bisa terseret dalam modus penipuan mereka. Oleh sebab itu, setiap orang kini harus menyikapi fenomena dan realitas ini dengan cara cerdas.

Ya, harus kita camkan bahwa menghadapi dunia penuh tipu, orang cerdas tidak sekadar melindungi diri, tetapi juga menjadi benteng bagi lingkungannya. Pertanyaannya seperti apa cara menghadapi dengan cerdas itu. Orang cerdas memang selalu akan cerdas menghadapi hal itu. 

Yang jelas, orang kritis dan cerdas selalu kritis dan skeptis positif. Artinya mereka akan selalu mengingatkan agar jangan mudah percaya, selalu verifikasi ke sumber resmi. Kedua, selalu meningkatkan literasi digital. Ia akan terus berusaha untuk pahami modus penipuan terbaru, ikuti edukasi dari lembaga resmi. Ke tiga, hal yang harus dijaga adalah data pribadi berupa OTP, PIN, dan password adalah rahasia mutlak. Ke empat, bila terjadi pada diri kita jangan takut melaporkan ke pihak berwajib.  Artinya, jangan diam, laporkan ke polisi atau lembaga terkait, lalu sebarkan edukasi ke keluarga dan komunitas. Yang ke lima, sebagai bagian dari masyarakat yah tidak ingin menjadi korban penipuan, kita harus bangun solidaritas sosial. Penipuan bisa dicegah jika masyarakat saling mengingatkan.

Mungkin masih banyak lagi cara yang dapat kita lakukan agar terhindar dari berbagai bentuk penipuan yag semakin canggih dewasa ini. Silakan terus belajar dengan cerdas. Dalam dunia yang terus berubah secara pesat ini, kita semua harus selalu ingat, sadar dan waspada bahwa dunia penipuan adalah dunia yang tumbuh subur di era digital. Namun, dunia penuh tipu ini tidak harus membuat kita putus asa. Justru di sinilah kecerdasan, empati, dan solidaritas diuji. Orang cerdas bukan hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjadi cahaya bagi orang lain agar tidak tersesat dalam gelapnya tipu daya. Tetaplah cerdas, waspada dan berdaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
9 Feb 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
198
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Sejarah Membuminya Warung Kopi di Bumi Serambi Mekkah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00