POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
February 15, 2026
Melukis Kata, Mengangkat Fakta
🔊

Dengarkan Artikel

Bagian Kedua

Oleh Tabrani Yunis

Usai menikmati lagu Iwan Fals, Farid Gaban sang narasumber menarik benang merah lagu itu dengan story telling yang menjadi materi utama dari workshop. Ungkapan yang diukir dengan bahasa sederhana, namun menyentuh kalbu. Ya, lirik lagu tersebut diukir dengan kata-kata yang biasa, namun mengadung makna mendalam. Lirik lagu tersebut menjadi satu contoh bagaimana kalimat-kalimat lirik lagu yang digubah dalam bahasa  yang menyentuh dan berkaitan dengan fakta di dalam kehidupan nyata.

Ketika Farid Gaban, membaca sub judul Mengukir Kata, ungkapan itu menggelitik saraf ingatan penulis. Ya, Mengukir Kata. Bagi banyak orang mungkin akan bertanya, bagaimana ya mengukir kata itu. Apakah mengukir kata itu mengukir sebuah lukisan?

Tentu saja tidak. Maka, ketika mendengar ungkapan itu dari Pak Farid Gaban, ingatan penulis melayang jauh  pada sebuah buku terbitan Mizan yang merupakan hasil karya Hernowo Hasim dengan judul Mengikat Makna. Sebuah buku yang ditulis oleh Hernowo Hasim untuk memotivasi anak negeri melakukan aktivitas menulis. 

Nah, ungkapan Pak Farid Gaban juga sesungguhnya adalah ungkapan yang menggugah dan mendorong keinginan menulis dengan cara-cara yang sangat mudah, sederhana, tetapi memberikan arti dan rasa yang renyah hingga mudah dikunyah oleh pembaca dan juga mudah menumpahkan kata-kata dalam sebuah tulisan, tanpa harus berhadapan dengan apa yang dikatakan orang berbahasa Inggris dengan sebutan writing blocks atau juga sering disebut dengan mental block yang menghambat proses seseorang dalam menuangkan pikiran ke dalam tulisan.

Coba kita fahami apa yang diungkapkan Pak Farid Gaban dalam mukadimah presentasinya tentang melukis kata itu. Simak beberapa kalimat berikut.

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan itu?  Menyimak pertanyaan itu, sesungguhnya bila kita fahami bahwa pertanyaan ini hanya ingin bertanya pada kita mungkin kita pernah membaca sebuah tulisan dalam waktu yang cukup panjang,  hingga bisa sampai setahun atau lebih. Kalau selama itu membacanya, pasti tebal bukunya sampai ribuan halaman ya. Bisa dijadikan bantal.

Ya, tergantung bagaimana kita membayangkan. Selanjutnya, Pak Farid mengatakan bahwa kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat sebuah gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat digdaya bagi para penulis. Para penulis pasti ingin bisa menulis dengan cara yang mengalir, tanpa ada banyak hambatan, sehingga tulisan yang ditulis tidak pernah tuntas dan tidak enak pula dibaca.

Penulis membaca wajah para peserta yang mengangguk-angguk menunjukkan aroma rasa faham. Juga sebenarnya para pembaca setuju dengan pernyataan ini. Karena setiap pembaca tidak suka membaca yang sulit-sulit, dan inginnya membaca tulisan yang mengair bagai air banjir yang melanda 18’kabupaten dan kota di Aceh pada 25 November 2025 lalu.  Bencana yang bakal dilupakan ketika penderitaan panjang menghadang di depan mata.

Di sini, Pak Farid Gaban sangat faham dan sadar dengan kondisi masyarakat dengan kemampuan literasi yang berada di titik nadir serta layunya minat membaca dan menulis sebelum sempat berkembang.  Sudah dapat kita bayangkan bila kemampuan literasi anak negeri ini seperti diungkapkan berikut ini

📚 Artikel Terkait

KAMPUNG YANG BERSIH DAN INDAH

Esok

Pulang Mudik Yang Terhimpit Kondisi Ekonomi Yang Sulit

GURU DARI ANAK KAMI

Peringkat literasi Indonesia di dunia masih tergolong rendah, seringkali menempati posisi ke-60an hingga ke-70an dari 80-an negara yang disurvei, seperti pada studi PISA 2022 (peringkat 71 dari 81). Data UNESCO bahkan sempat menempatkan Indonesia di urutan kedua terbawah dalam minat baca, dengan hanya 0,001% dari 1.000 orang yang rajin membaca. 

Kita akan sangat faham bila membaca rincian peringkat literasi Indonesia berdasarkan beberapa studi di bawah ini

  • PISA (Program for International Student Assessment) 2022: Indonesia menempati peringkat 71 dari 81 negara dengan skor literasi membaca 359.
  • Data UNESCO: Indonesia berada di posisi kedua terbawah dalam hal minat baca, dengan tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001%.
  • Stalin (2016): Studi “World’s Most Literate Nations Ranked” oleh Central Connecticut State University menempatkan Indonesia di posisi ke-60 dari 61 negara, berada tepat di bawah Thailand dan di atas Botswana.
  • World Population Review: Indonesia berada di peringkat ke-86 dari 184 negara dengan tingkat melek huruf sekitar 96%.
  • World Atlas: Indonesia berada di posisi ke-105 dari 193 negara. 

Tentu tak perlu kita tanyakan lagi apa penyebab rendahnya. Sebab kita sebenarnya sudah bisa membaca gejala alam yang memaparkan bahwa semua sektor literasi bangsa kita rendah. Minat baca sangat rendah, akses bacaan juga terbatas, sehingga membaca bukan sebuah kebutuhan dan bukan menjadi budaya bangsa. Padahal, bangsa ini sudah banyak belajar dari pengalaman luar negeri atau negara yang memiliki kemampuan literasi tinggi seperti halnya Finlandia.

Banyak pihak penyelenggara pendidikan di tanah air sudah belajar dan studi banding ke Finlandia, tetapi hasilnya tetap zonk. Mereka ternyata salah membawa akar masalah pendidikan di Indonesia, sehingga saat belajar ke Finlandia, tidak menemukan solusi jitu untuk meningkatkan kemampuan literasi anak negeri. Padahal, pemerintah Finlandia sudah buka kartu As. Mereka bisa mengajarkan apa saja kepada para siswa karena setiap anak usia 15 tahun, sudah selesai dengan persoalan literasi, numerasi dan sains. Kita? Belum sempat tumbuh minat membaca, lalu layu sebelum berkembang.

Dengan kondisi seperti ini, sudah tak perlu dibayangkan ya, karena kita pasti bisa baca dan menganalisis persoalan literasi anak negeri serta mengapa pula rendahnya kualitas pendidikan dan miskin akan karya-karya monumental.

Bisa jadi, berangkat dari persoalan demikian, Pak Farid Gaban berinisiasi menulis buku Reset Indonesia dan mengadakan workshop storytelling untuk memotivasi anak negeri menulis lebih banyak sebagai satu dari banyak cara bercerita lewat tulisan.

Jadi wajar saja kalau pada acara workshop storytelling ini  Pak Farid memotivasi masyarakat dan membantu memberi cara jitu agar persoalan yang ada di masyarakat, dapat ditulis dengan bahasa yang mengalir, mudah ditulis dan dibaca ( faham), serta membuat pesan yang ditulis sampai kepada semua pihak. 

Maka benarlah apa yang dikatakan Pak Farid Gaban. Apa pun yang kita tulis, kita harus bisa mengetahui bagaimana cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup. Artinya, setiap kita menulis, kita ingin tulisan kita banyak dibaca orang. Bukan hanya dibaca, tetapi bisa menjadi referensi banyak penulis.

Oleh sebab itu, Pak Farid Gaban memberikan tips untuk itu. Ya, menurut Pak Farid Gaban, cara terbaik untuk melakukannya adalah menerapkan konsep “Lukiskan, bukan

Katakan” (Show-Not-Tell). Jika kita menggunakan konsep “Show Not Tell”, paragraf- paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah dikenang.

Lebih lanjut jelasnya,  tulisan kreatif yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata sifat (tinggi, kaya, cantik) dan kata yang kabur (cukup besar, lumayan heboh, keren abis). Dalam hal menggunakan kata sifat, Pak Farid Gaban mengingatkan bahwa kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda. Para pembaca faham, bukan?

Nah, sampai di sini, mungkin para pembaca belum mendapatkan contoh kongkrit, bagaimana wujud nyata melukis kata tersebut. Selayaknya kita lanjutkan kepada sejumlah contoh yang diberikan Pak Farid Gaban. Ini penting, agar ketika kita belajar tentang Storytelling, kita bisa mendapatkan gambaran yang menggerakkan tangan dan pikiran kita untuk memulai menulis sekarang juga. Untuk sejumlah contoh kalimat mengukir kata, akan diuraikan dalam tulisan berikutnya. Tunggu saja

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
9 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
198
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Bedah Buku - A System of Logic

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00