POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

MBG vs Guru Honorer

RedaksiOleh Redaksi
February 11, 2026
MBG vs Guru Honorer
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Ada yang ganjil, mungkin juga perih, dalam cara kita merawat masa depan hari ini. Kita seolah sedang menonton sebuah teater besar di mana lampu sorot hanya jatuh pada piring-piring yang dentingnya memenuhi ruang publik.

Makan Bergizi Gratis (MBG)—sebuah tajuk yang luhur, sebuah niat yang di atas kertas tampak seperti pelukan bagi anak-anak bangsa yang barangkali berangkat sekolah dengan perut yang hanya berisi doa dan segelas air putih. Anggaran jumbo digelontorkan, puluhan triliun rupiah bergerak seperti arus sungai yang meluap.


Namun, jika kita melangkah ke belakang panggung, kita melihat pemandangan yang tak sepenuhnya puitis. Program ini mulai bergeser menjadi komoditas politik yang menggiurkan. Di sana, di pucuk yayasan mitra, duduk para pemegang kuasa yang akrab dengan seragam partai. Gaji pengelolanya melonjak tinggi, melupakan gravitasi ekonomi pasar.


Kita mungkin teringat pada memoar Orde Lama, zaman di mana guru diletakkan di atas altar penghormatan. Kala itu, guru adalah kelas menengah yang sejahtera. Gajinya cukup untuk menghidupi keluarga dan membeli buku bermutu. Hasilnya? Lahirlah generasi emas yang pemikirannya menggetarkan dunia. Sebab, ada kebenaran purba di sana: bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajarkan kemerdekaan berpikir jika perutnya sendiri masih terjajah rasa lapar?


Mengapa jurang finansial ini begitu dalam? Jawabannya ada pada sifat politik kita yang transaksional. Program MBG menjadi primadona karena ia memiliki “gigi” politik; ada konstituen yang bisa dipelihara dan citra yang bisa dipamerkan setiap hari. Sementara guru honorer? Mereka adalah barisan sunyi yang tak punya daya tawar politik bising. Mereka tidak mengelola proyek pengadaan barang yang “basah”. Mereka hanya mengelola masa depan—sesuatu yang hasilnya baru terlihat dua puluh tahun lagi, durasi yang terlalu lama bagi ingatan pendek para politisi.

📚 Artikel Terkait

Guruku Pelitaku

PAGAR LAUT PUN TERTAWA

INDONESIA SEBAGAI LUMBUNG PANGAN DUNIA PADA 2045, OPTIMISME ATAU PESIMISME?

KEPADA PARA PEREMPUAN, IBU KAMI


Ketimpangan ini adalah sebuah maladministrasi jiwa. Kita memberikan piring penuh gizi kepada murid, namun membiarkan guru yang menyuapinya hidup dalam kekurangan yang merendahkan. Ini laksana membangun jembatan emas, namun membiarkan tiang pancangnya keropos dimakan rayap ketidakadilan. Jika guru honorer terabaikan karena dianggap tak punya “nilai politik”, kita sedang menggadaikan kualitas peradaban demi kepentingan fana.


Maka, dibutuhkan solusi yang lebih dari sekadar belas kasihan. Kita memerlukan keberanian melakukan “Depolitisasi Perut”. Pengelolaan MBG harus ditarik dari yayasan yang berkelindan dengan partai politik dan dikembalikan kepada sistem profesional transparan. Gaji jumbo para kroni harus dipangkas radikal. Surplus dari efisiensi itu harus dialihkan secara otomatis untuk menambal lubang kesejahteraan guru honorer melalui skema tunjangan pengabdian yang layak.

Kita tidak butuh kurator makan siang bergaji setingkat direktur jika guru masih harus menjadi ojek daring di malam hari.
Kedua, kita harus menciptakan sistem di mana kesejahteraan guru menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan. Harus ada pergeseran paradigma: bahwa gaji guru adalah investasi infrastruktur manusia, bukan biaya rutin yang membebani.

Kita menuntut regulasi yang mengunci standar upah guru setara kelayakan hidup kelas menengah, agar profesi ini kembali menjadi dambaan anak-anak terbaik bangsa.


Pada akhirnya, adab harus berdiri di atas kepentingan politik. Memberi makan anak adalah adab, namun memuliakan guru adalah akar dari peradaban. Jangan sampai kita memiliki generasi berbadan tegap karena gizi cukup, namun berjiwa kerdil karena dididik oleh guru yang jiwanya layu oleh ketidakadilan. Hidup bukanlah tentang angka di rekening tim sukses, melainkan tentang seberapa adil kita membagi keberkahan negara untuk mereka yang benar-benar berjasa dalam sunyi. Sebab di atas piring yang kosong, puisi tentang masa depan takkan pernah bisa dituliskan dengan indah. (AN)


Tentang Penulis :
Aswan Nasution, saat ini bertempat tinggal di Serbelawan Ni Huta, Sebuash kota kecil di Kabipaten Simalungun, Sumatera Utara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Aktif menulis opini, esai budaya, dan artikel reflektif tentang kehidupan sosial masyarakat. Tulisannya berfokus pada Hukum, isu budaya, humor lokal dan perubahan sosial di Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 136x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 117x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 93x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 88x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
194
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
92
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Kecerdasan Tanpa Nurani

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00