• Latest
MBG vs Guru Honorer - 2556f99b 78c1 476f a264 f76c5103a73a | # Ironi | Potret Online

MBG vs Guru Honorer

Februari 11, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
667109a2-c370-4108-8a9c-7dcb1a0a1d44

Normalisasi “Chatting” Tanpa Batas: Pergeseran Makna Khalwat di Era Digital

April 10, 2026
MBG vs Guru Honorer - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | # Ironi | Potret Online

Dari Instrumen ke Otoritas: Ketika Algoritma Menggeser Kedaulatan Keputusan Manusia

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
MBG vs Guru Honorer - 2556f99b 78c1 476f a264 f76c5103a73a | # Ironi | Potret Online

MBG vs Guru Honorer

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Februari 11, 2026
in # Ironi, #Anggaran Pendidikan, #Pendidikan, Guru Honorer, MBG, Politik Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Aswan Nasution


Ada yang ganjil, mungkin juga perih, dalam cara kita merawat masa depan hari ini. Kita seolah sedang menonton sebuah teater besar di mana lampu sorot hanya jatuh pada piring-piring yang dentingnya memenuhi ruang publik.

Makan Bergizi Gratis (MBG)—sebuah tajuk yang luhur, sebuah niat yang di atas kertas tampak seperti pelukan bagi anak-anak bangsa yang barangkali berangkat sekolah dengan perut yang hanya berisi doa dan segelas air putih. Anggaran jumbo digelontorkan, puluhan triliun rupiah bergerak seperti arus sungai yang meluap.

Baca Juga:
  • Tidak Semua Anak Menjadi Berita: Bias Media Barat di Gaza, Iran, dan Ukraina
  • Kenapa Orang Tua Siswa Tak Mau Lapor Polisi Saat Anaknya Keracunan MBG?
  • Perkembangan Terkini Qatar dan UEA Terkena Imbas Perang


Namun, jika kita melangkah ke belakang panggung, kita melihat pemandangan yang tak sepenuhnya puitis. Program ini mulai bergeser menjadi komoditas politik yang menggiurkan. Di sana, di pucuk yayasan mitra, duduk para pemegang kuasa yang akrab dengan seragam partai. Gaji pengelolanya melonjak tinggi, melupakan gravitasi ekonomi pasar.


Kita mungkin teringat pada memoar Orde Lama, zaman di mana guru diletakkan di atas altar penghormatan. Kala itu, guru adalah kelas menengah yang sejahtera. Gajinya cukup untuk menghidupi keluarga dan membeli buku bermutu. Hasilnya? Lahirlah generasi emas yang pemikirannya menggetarkan dunia. Sebab, ada kebenaran purba di sana: bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajarkan kemerdekaan berpikir jika perutnya sendiri masih terjajah rasa lapar?


Mengapa jurang finansial ini begitu dalam? Jawabannya ada pada sifat politik kita yang transaksional. Program MBG menjadi primadona karena ia memiliki “gigi” politik; ada konstituen yang bisa dipelihara dan citra yang bisa dipamerkan setiap hari. Sementara guru honorer? Mereka adalah barisan sunyi yang tak punya daya tawar politik bising. Mereka tidak mengelola proyek pengadaan barang yang “basah”. Mereka hanya mengelola masa depan—sesuatu yang hasilnya baru terlihat dua puluh tahun lagi, durasi yang terlalu lama bagi ingatan pendek para politisi.


Ketimpangan ini adalah sebuah maladministrasi jiwa. Kita memberikan piring penuh gizi kepada murid, namun membiarkan guru yang menyuapinya hidup dalam kekurangan yang merendahkan. Ini laksana membangun jembatan emas, namun membiarkan tiang pancangnya keropos dimakan rayap ketidakadilan. Jika guru honorer terabaikan karena dianggap tak punya “nilai politik”, kita sedang menggadaikan kualitas peradaban demi kepentingan fana.


Maka, dibutuhkan solusi yang lebih dari sekadar belas kasihan. Kita memerlukan keberanian melakukan “Depolitisasi Perut”. Pengelolaan MBG harus ditarik dari yayasan yang berkelindan dengan partai politik dan dikembalikan kepada sistem profesional transparan. Gaji jumbo para kroni harus dipangkas radikal. Surplus dari efisiensi itu harus dialihkan secara otomatis untuk menambal lubang kesejahteraan guru honorer melalui skema tunjangan pengabdian yang layak.

Kita tidak butuh kurator makan siang bergaji setingkat direktur jika guru masih harus menjadi ojek daring di malam hari.
Kedua, kita harus menciptakan sistem di mana kesejahteraan guru menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan. Harus ada pergeseran paradigma: bahwa gaji guru adalah investasi infrastruktur manusia, bukan biaya rutin yang membebani.

Kita menuntut regulasi yang mengunci standar upah guru setara kelayakan hidup kelas menengah, agar profesi ini kembali menjadi dambaan anak-anak terbaik bangsa.

Baca Juga

Media bias and children’s suffering

Tidak Semua Anak Menjadi Berita: Bias Media Barat di Gaza, Iran, dan Ukraina

April 10, 2026
bfc3c5c4-7059-46dd-9378-53e5e2edb45f

Pesanku  Untukmu

April 7, 2026
IMG_0656

Sekolah Cafe

April 6, 2026


Pada akhirnya, adab harus berdiri di atas kepentingan politik. Memberi makan anak adalah adab, namun memuliakan guru adalah akar dari peradaban. Jangan sampai kita memiliki generasi berbadan tegap karena gizi cukup, namun berjiwa kerdil karena dididik oleh guru yang jiwanya layu oleh ketidakadilan. Hidup bukanlah tentang angka di rekening tim sukses, melainkan tentang seberapa adil kita membagi keberkahan negara untuk mereka yang benar-benar berjasa dalam sunyi. Sebab di atas piring yang kosong, puisi tentang masa depan takkan pernah bisa dituliskan dengan indah. (AN)


Tentang Penulis :
Aswan Nasution, saat ini bertempat tinggal di Serbelawan Ni Huta, Sebuash kota kecil di Kabipaten Simalungun, Sumatera Utara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Aktif menulis opini, esai budaya, dan artikel reflektif tentang kehidupan sosial masyarakat. Tulisannya berfokus pada Hukum, isu budaya, humor lokal dan perubahan sosial di Indonesia.

SummarizeShare236Tweet148
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Related Posts

9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730
Artikel

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Artikel

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”
Psikologi Sosial

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da
BIngkai Remaja

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
Next Post

Kecerdasan Tanpa Nurani

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com