Dengarkan Artikel
Oleh Aswan Nasution
Ada satu kesalahpahaman yang sering kita pelihara diam-diam: bahwa cinta sejati adalah kebebasan tanpa pagar. Bebas pergi ke mana saja, bebas bersikap apa saja, bebas menjadi siapa saja tanpa perlu menjelaskan apa pun. Kita menyebutnya dewasa. Padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari tanggung jawab.
Hubungan yang sesungguhnya justru dimulai ketika dua orang berani menarik garis. Garis yang tidak dimaksudkan untuk membatasi langkah, melainkan menjaga agar langkah itu tidak saling menginjak. Karena dua manusia, sebaik apa pun niatnya, tetap membawa ego, luka lama, dan cara pandang yang berbeda.
Kebebasan mutlak memang terdengar indah. Tapi kebebasan semacam itu hanya mungkin dimiliki oleh orang yang hidup sendirian. Tanpa pasangan. Tanpa ikatan. Tanpa komitmen. Begitu seseorang memutuskan untuk berbagi hidup, ia sadar atau tidak, sedang menyerahkan sebagian kebebasannya. Bukan karena dipaksa. Melainkan karena memilih.
Di situlah letak penghormatan. Pada pasangan. Pada hubungan. Pada janji yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi dirasakan lewat sikap.
Aturan dalam sebuah hubungan sering dipersepsikan sebagai belenggu. Padahal ia lebih mirip pagar di tepi jurang. Pagar itu tidak menghalangi kita menikmati pemandangan, justru memastikan kita tidak jatuh. Tanpa pagar, yang ada bukan keberanian, melainkan kecerobohan.
Dua ego yang berjalan tanpa batas akan saling berbenturan. Saling menuntut. Saling merasa paling benar. Dan ketika itu terjadi, cinta tidak lagi menjadi rumah, melainkan arena pertarungan. Siapa yang lebih dominan. Siapa yang harus mengalah. Siapa yang akhirnya lelah lebih dulu.
📚 Artikel Terkait
Kedewasaan dalam menjalin kasih tidak diukur dari seberapa bebas kita bergerak, tetapi dari seberapa ikhlas kita menjaga batas yang telah disepakati. Bukan dengan wajah masam. Bukan dengan perasaan terpaksa. Melainkan dengan rasa syukur karena ada sesuatu yang layak dijaga.
Hubungan yang sehat membutuhkan peta. Kapan berjalan beriringan. Kapan berhenti sejenak memberi ruang. Kapan berbagi cerita. Kapan cukup diam dan mendengarkan. Tanpa peta itu, dua orang hanya akan tersesat di jalan yang sama, sambil saling menyalahkan arah.
Generasi hari ini sering keliru memaknai kebebasan dalam berpasangan. Kita ingin dicintai sepenuhnya, tapi enggan menyesuaikan langkah. Ingin dipahami, tapi malas menjelaskan. Ingin ditemani, tapi menolak diikat. Kita lupa bahwa kebersamaan selalu menuntut kompromi.
Jika seseorang belum siap menahan egonya, belum siap mengatur ulang kebiasaan pribadinya, mungkin kesendirian adalah pilihan yang lebih jujur. Bukan karena sendiri itu lebih mulia, melainkan karena memaksakan kebersamaan tanpa kesiapan hanya akan melahirkan kezaliman yang sunyi. Menyakitkan, tapi sering tak terlihat.
Cinta yang jernih tidak berisik soal kebebasan. Ia tenang merawat kesepakatan. Ia paham bahwa setiap kedekatan membawa konsekuensi. Setiap pelukan menyimpan tanggung jawab. Dan setiap aturan yang disepakati bersama bukanlah tanda kekurangan cinta, melainkan bukti bahwa cinta itu ingin bertahan.
Pada akhirnya, hubungan sejati bukan tentang siapa yang paling bebas. Melainkan siapa yang paling bersedia menjaga. Dengan sadar. Dengan lapang. Dengan hati yang dewasa.
Penulis :
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






