• Latest
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 2025 07 17 21 23 27 | seni | Potret Online

Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan

Juli 17, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 1001348646_11zon | seni | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 1001353319_11zon | seni | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 1001361361_11zon | seni | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan

Redaksi by Redaksi
Juli 17, 2025
in seni, Seniman
Reading Time: 4 mins read
0
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 2025 07 17 21 23 27 | seni | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

:Refleksi Kritis atas ART TALK Verleden–Heden: Seni, Kemerdekaan, dan Jejak Sejarah

Oleh Aceng Syamsul Hadie

Seniman di Cirebon, Jawa Barat

Baca Juga
  • Seni “ Haba Dangderia, Yang Hilang Entah Kemana
  • Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Dalam atmosfer yang penuh semangat dan intelektualitas, rangkaian ART TALK Verleden–Heden yang digelar di Sekolah Indonesia Den Haag, Wassenaar, bukan sekadar diskusi seni—ia adalah panggung refleksi sejarah, identitas, dan kemerdekaan Indonesia melalui lensa seni rupa. 

Dari arsip hingga intermedia, dari seniman diaspora hingga akademisi lokal, acara ini menyatukan generasi dan lintas disiplin dalam satu ruang dialog yang luar biasa.

Baca Juga
  • “Malenggang” Bentuk Kreativitas dalam Ujian Akhir Mahasiswa Desain Mode
  • Mencicipi Nikmatnya Kuliner  Jadul Kotaku,  Meratapi Malangnya  Nasib Seni Tari Topeng di Kotaku

Sejak masa kolonial, seni telah menjadi medium ekspresi dan perlawanan. Pameran dan diskusi dalam Verleden–Heden menegaskan bahwa seni bukan hanya estetika, tetapi juga alat kesadaran kolektif. 

Dalam konteks Indonesia, seni rupa telah berperan dalam membentuk narasi kebangsaan, mengarsipkan trauma sejarah, dan mengartikulasikan harapan masa depan.

Baca Juga
  • Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri
  • Wajah Lain Takengon, Beragam Kesenian dan Budaya

Seni rupa, dalam berbagai bentuknya, telah menjadi saksi bisu perjalanan bangsa. Dari lukisan-lukisan Raden Saleh yang menggambarkan perjuangan hingga karya-karya modern yang mengkritisi ketimpangan sosial, seni selalu menjadi cerminan dari dinamika masyarakat. Dalam konteks globalisasi, seni Indonesia menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya.

Art Talk I – Re-Scale Indonesia (5 Juli 2025)

Sesi ini membuka cakrawala tentang diplomasi budaya Indonesia di Eropa Timur, melalui presentasi Teija Gumilar, dosen di Bydgoszcz University, Polandia. Ia memaparkan proyek Taman Mini Indonesia di Dolina Charlotty sebagai legacy monumental Indonesia di Eropa Tengah. 

Diskusi yang dipandu oleh Prof. I Wayan Adnyana (Rektor ISI Bali) menyoroti bagaimana arsitektur dan seni tradisional menjadi simbol keberadaan Indonesia di luar negeri.

Proyek ini tidak hanya menjadi simbol diplomasi budaya, tetapi juga mengundang pertanyaan kritis tentang bagaimana seni dan arsitektur dapat merepresentasikan identitas nasional di luar konteks geografisnya. Apakah seni tradisional cukup untuk menggambarkan kompleksitas Indonesia modern? Atau, apakah kita memerlukan pendekatan yang lebih inklusif dan kontemporer?

Art Talk II – Navigating Networks (12 Juli 2025)

Sesi ini menggali tantangan dan peluang sirkulasi seni kontemporer Indonesia di Eropa, khususnya Belanda. Tokoh-tokoh penting yang hadir:

Sander Salim (Gallery Lukisan, Belanda) – Menjelaskan strategi galeri dalam mengangkat seni Indonesia

Rifky Effendy (Orbital Dago, Bandung) – Menyoroti dinamika pasar seni dan kuratorial lokal

Maarten Slof (TROEF Leiden) – Menyambungkan seni Indonesia dengan audiens Eropa

Sujud Dartanto – Mengangkat isu dokumentasi dan arsip sebagai fondasi otentikasi karya

Diskusi ini memperlihatkan bahwa seni Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal provenance, dokumentasi, dan tekanan pasar, namun tetap menunjukkan resiliensi dan daya tarik global.

Dalam konteks ini, penting untuk merenungkan bagaimana seni Indonesia dapat menavigasi jaringan global tanpa kehilangan akar lokalnya. Apakah pasar seni global memberikan ruang yang adil bagi seni dari negara berkembang? Atau, apakah seni Indonesia hanya menjadi komoditas dalam sistem kapitalisme global?

Art Talk III – Intermedia Networkings

Sesi ini menjadi titik kulminasi eksplorasi media baru dan seni interdisipliner. Dimulai dengan video screening mengenang Krisna Murti (1957–2023), pionir seni video Indonesia yang telah mengubah cara kita memahami seni sebagai kritik sosial dan budaya.

Tokoh-tokoh yang memeriahkan sesi ini:

Agung Hujatnika – Mengulas warisan pemikiran Krisna Murti

Intan Rizky Mutiaz – Menjelaskan integrasi media baru dalam pendidikan seni

Isha Hening – Menampilkan perspektif desain gerak dan visual digital

Tromarama – Kolektif seni media yang menggabungkan teknologi dan narasi lokal

Thomas Berghuis – Menyambungkan praktik seni Indonesia dengan konteks kuratorial global

Penampilan Isa Perkasa dalam dua sesi performance art menjadi penutup yang menggugah, menghidupkan tubuh sebagai medium kritik dan kontemplasi.

Sesi ini menggarisbawahi pentingnya media baru dalam memperluas cakrawala seni Indonesia. Namun, ia juga mengundang refleksi: sejauh mana teknologi dapat menjadi alat pembebasan, dan kapan ia menjadi alat penindasan?

Kesimpulan: Seni sebagai Arsip Hidup

ART TALK Verleden–Heden bukan hanya perayaan seni, tetapi juga pengarsipan sejarah dan identitas Indonesia. Ia menunjukkan bahwa seni adalah ruang negosiasi antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global, antara tradisi dan teknologi. Dalam konteks kemerdekaan, seni menyumbang kesadaran, membentuk narasi, dan membuka ruang dialog lintas generasi.

Namun, refleksi ini tidak berhenti di sini. Seni adalah proses yang terus berkembang, sebuah dialog yang tidak pernah selesai. Dalam dunia yang semakin terhubung, seni Indonesia memiliki peluang untuk menjadi suara yang kuat di panggung global, tetapi hanya jika ia tetap setia pada akar dan nilai-nilainya.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: bagaimana seni dapat terus menjadi alat pembebasan di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa seni tidak hanya menjadi cerminan, tetapi juga agen perubahan?[]

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan - 2025 07 18 08 00 23 | seni | Potret Online

MPLS Inovatif: Gagas Deklarasi Sekolah Anti Kekerasan dan Perundungan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com