Diramu kembali oleh Tabrani Yunis
Pagi ini penulis menerima kiriman sebuah rilis dari sahabat sekalian guru seni dan sastra serta guru bermedia bagi penulis, yakni Bung Mustafa Ismail, lelaki kelahiran Trienggadeng, Pidie Jaya Aceh yang telah lama melanglang buana di Jakarta. Ia mengirimkan rilis mengenai Peringatan Hari Puis Nasional (HPN)
Nah, POTRET atau Potretonline.com, tidak memuat berita, karena memang bukan sebuah media berita. Namun, setiap hari mengirim kabar kepada para pembaca di mana saja berada. Kabar yang dikirim kepada pembaca adalah sejumlah informasi, narasi yang dikemas dalam bentuk artikel, seperti esai, opini, cerpen, cerita perjalanan dan lain-lain. Sejalan dengan impian media ini membangun gerakan literasi anak negeri.
Nah, kabar apa gerangan yang dikirim oleh bung Mustafa Ismail? Berikut adalah ceritanya yang kami sajikan kepada para pembaca, terutama para penikmat seni dan sastra serta pembaca umumnya. Kita simak apa kata mereka.
Peringatan Hari Puisi Nasional (HPN) 2026 yang dipusatkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta berlangsung meriah dan penuh refleksi. Rangkaian acara yang digelar sejak 28 hingga 30 April itu tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang perenungan atas arah dan dinamika perpuisian Indonesia hari ini.
Puncak acara berlangsung pada 30 April 2026 di Teater Kecil TIM, menghadirkan diskusi tentang wajah puisi terkini, pembacaan puisi, tari, dan musikalisasi puisi. Malam harinya ditutup dengan “Malam Puisi Nasional” yang mempertemukan penyair lintas generasi dari berbagai daerah di Indonesia. Malam perayaan Hari Puisi Nasional itu diisi dengan pembacaan puisi, musik, musikalisasi puisi, monolog puitik, dan orasi sastra oleh Ahmadun Yosi Herfanda.
Mustafa Ismail, sebagai ketua HPN 2026 menyebutkan bahwa “Kegiatan ini menjadi lebih istimewa karena kami padukan dengan forum Mimbar Penyair Abad 21,”, dalam laporannya pada Malam Hari Puisi Nasional di Teater Kecil, TIM, 30 April 2026. MPA 21 merupakan pertemuan penyair muda Indonesia yang dihelat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1996. “Ada lebih 60 penyair yang diundang DKJ pada saat itu,”
Bukan hanya itu, Kurnia Effendi, Sekretaris Panitia, pun menyatakan bahwa pihaknya juga menerbitkan buku karya para “mantan” penyair MPA21 yang diberi judul “Suara yang Menolak Sunyi”. Buku itu disusun oleh Kurnia, Remmy Novaris DM, dan Mustafa Ismail. “Buku ini menghimpun penyair MPA 21 yang masih berkarya maupun yang sudah tiada,” ujar Kurnia, penggerak Komunitas Membaca Raden Saleh ini.
Peringatan tahun ini sekaligus menandai 77 tahun wafatnya Chairil Anwar, sosok yang dikenal sebagai pelopor puisi modern Indonesia. Warisan estetik dan semangat pemberontakan Chairil kembali digaungkan melalui pembacaan karya-karyanya, termasuk larik ikonik “Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang.”
Malam Puisi Nasional, yang merupakan puncak peringatan Hari Puisi Nasional, dibuka oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Nissa Rengganis yang hadir mewakili Menteri Fadli Zon. Tak hanya memberi sambutan dan membuka acara, Nissa yang dikenal sebagai penyair juga ikut membaca puisi dalam kesempatan itu. “Sebetulnya saya lebih suka membaca puisi daripada memberi sambutan,” ujarnya di panggung puncak HPN 2026 itu.
Tidak pelak lagi bila sejumlah sastrawan dan seniman seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Arie F. Batubara, Helvy Tiana Rosa, Imam Ma’arif, Aquino Hayunta, Dedy Tri Ryadi, Rintis Mulya, Nanang R Supriyatin, Fatin Hamama, Kurnia Effendi, D Kemalawati (Aceh), Anwar Putra Bayu (Palembang), Panji Utama (Lampung), Gunoto Saparie (Jawa Tengah), Nenden Lilis A (Bandung), Syaifuddin Gani (Kendari), Giyanto Subagyo, Endang Supriyadi, Octavianus Masheka, Fanny J Poyk, Ikhsan Risfandi, Nuyang Jaimee, Rissa Churia, Tora Kundera, Lily Multatuliana, Shantined, Edrida Pulungan, Ireng Halimun, Anggie Widowati, Beni Satria, dan lain-lain, ikut tampil dalam acara itu.
Bukan hanya dari kalangan tua, tetapi juga dari kalangan gen Z seperti Nabila & Nabiel Firdaus, Mutia Kundera, dan Jax Penalis. Acara diwarnai dengan penampilan musik dari Gong Merah Putih dan Mantra Samsara serta tari oleh Erna Winarsih Wiyono.
Kegiatan ini digerakkan oleh Lingkar Sajak, Membaca Raden Saleh, dan Dapur Sastra Jakarta berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ), Ruang Merdeka Inspira (RMI), Gong Merah Putih, Planet Senen, Sastra Reboan, Cakra Budaya Indonesia, dan lain-lain.
Kerjasama banyak pihak juga terjalin baik. Maka acara ini didukung Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, PDS HB Jassin, dan UPT Taman Ismail Marzuki. “Kegiatan ini hasil gotong royong banyak komunitas sastra,” sebagaimana dijelaskan oleh Koordinator Acara, Rintis Mulya.
Dua hari sebelumnya, tepat pada 28 April, panitia juga mengadakan workshop menulis puisi di PDS HB Jasssin. Kegiatan itu diikuti puluhan peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pendidik, dan umum.
Selain panggung utama di TIM, rangkaian HPN 2026 berlangsung di berbagai tempat seperti di Rummah GoA milik penyanyi Dik Doank di Tangerang Selatan. Sastrawan dan pegiat seni membaca puisi, menyanyi puisi, hingga orasi budaya oleh Chavchay Syaifullah. Esoknya, Rabu sore, 29 April, Gong Merah Putih mengadakan pentas puisi, musik, dan diskusi untuk merayakan Hari Puisi Nasional di Depok. Di Aceh, sastrawan Fikar W. Eda mengadakan peringatan Hari Puisi Nasional di Taman Budaya Banda Aceh pada 29 April 2026.
Peringatan 77 Tahun kematian Chairil Anwar juga diwarnai dengan ziarah ke makam penyair tersebut di Karet Bivak, Jakarta Pusat, yang dipelopori oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) pimpinan Octavianus Masheka, pada 28 April atau tepat pada hari meninggalnya penyair “Si Binatang Jalang” itu. Ziarah yang dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan putri Chairil Anwar, Evawani Alissa, itu diwarnai pembacaan puisi dan diskusi.
Dua Hari Puisi: HPN dan HPI
Di tengah semarak perayaan, sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda dalam orasi sastranya di malam puncak HPN di Teater Kecil pada 30 April mengingatkan pentingnya hari puisi bagi kemarakan sastra Indonesia. Ia mengatakan bahwa kini ada dua hari puisi yakni Hari Puisi Nasional (HPN) dan Hari Puisi Indonesia. Menurut Ahmadun, kedua hari puisi itu tidak perlu dipertentangkan dan harus dilihat secara proporsional.
Ia menilai masih ada kecenderungan sebagian penyair terjebak dalam “sekat-sekat obsesi kepenyairan” dengan memposisikan kedua momentum itu secara berhadap-hadapan, padahal sama-sama merayakan puisi dan sastra Indonesia.
“HPN dan HPI sama-sama ruang untuk merayakan puisi. Keduanya tidak perlu disikapi seperti partai politik,” ujar Ahmadun. Ia menegaskan, HPN yang diperingati setiap 28 April merujuk pada wafatnya Chairil Anwar, sementara HPI pada 26 Juli didasarkan pada hari kelahirannya. Keduanya sama-sama berakar pada penghormatan terhadap tokoh yang sama.
Menurut Ahmadun, baik HPN maupun HPI, sama-sama telah mendapat pengakuan dari negara. Sejumlah referensi menyebutkan bahwa Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap 28 April, ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 071/1969. Lalu pada 28 April 1977 sejumlah sastrawan dan seniman kembali mendeklarasikan hari puisi ketika memperingati hari kematian Chairil Anwar di Jakarta. Salah satu deklarator itu adalah Sutardji Calzoum Bachri.
Adapun HPI, yang jatuh pada 26 Juli, ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 167/M/2025 tanggal 23 Juli 2025. Tanggal 26 Juli adalah hari lahir Chairil Anwar. Charil lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Salah satu deklarator HPI juga Sutardji Calzoum Bahcri.
“SCB, tentu, hanya ikut memperbanyak ruang bagi ekspresi kepenyairan. Makin banyak ruang, makin banyak puisi unggul yang lahir. Kalau disemai dengan sungguh-sungguh, maka akan makin banyak pula Chairil Anwar (CA) baru yang lahir,”
Penyair Gen Z Jangan Malas Belajar
Selain itu, Ahmadun menyoroti tantangan generasi penyair muda yang dinilainya kerap terjebak pada gaya hidup bohemian tanpa menggali kedalaman intelektual seperti yang dilakukan Chairil. Menurutnya, kekuatan puisi tidak hanya terletak pada ekspresi, tetapi juga pada “sesuatu” yang diolah dari pergulatan pemikiran dan pengalaman batin.
Ia mendorong penyair milenial dan generasi Z untuk lebih serius dalam proses belajar, membaca karya-karya besar, dan mengasah diri secara konsisten. “Chairil Anwar pada usia 27 tahun telah menuntaskan pergulatan intelektualnya. Itu yang harus diteladani, bukan sekadar gaya hidupnya,”
Nah, begitu ceritanya. Semoga saja kegiatan-kegiatan semacam ini menjadi kegiatan yang terus menginspirasi para pelaku atau pegiat seni di seantero nusantara. Amin

