Dengarkan Artikel
Oleh : NA Riya Ison
Alhamdulillah. Akhirnya keinginan lama saya untuk mengunjungi Pondok Pesantren Babul Mukarramah dan ziarah ke makam Tgk. Bantaqiah di Desa Blang Meurandeh, Beutong Ateuh, Kab. Nagan Raya, terwujud.
Tgk. Bantaqiah, ulama karismatik Aceh, dan 54 santri termasuk putra sulung dan putra keduanya syahid di tangan aparat keamanan pada 23 Juli 1999.
Sebagian korban dikuburkan di komplek dayah atau Ponpes tradisional tersebut, sedangkan sebagian lagi jasad tidak ditemukan.
Sampai kini, alasan pembantaian dianggap fitnah dan bukti kesalahan sebagai pemasok senjata dan amunisi GAM dan pemilik ladang ganja tidak dapat dibuktikan.
Dua hari pasca-tragedi kemanusiaan itu saya dan kader Remaja Masjid Raya Baiturrahman (RMRB) membuka posko dan penggalangan bantuan bagi jamaah masjid raya dan warga yang dipusatkan di sekretariat Tabloid Gema Baiturrahman.
Saya masih ingat, Pak Syaiful, pimpinan Capella Dinamik Sp. Lima Banda Aceh, menitipkan 1 ton beras untuk disalurkan ke Beutong Ateuh.
Bentuk bantuan lain pun mengalir, seperti pakaian layak dan lainnya. Pakaian itu saya sortir dan satukan sesuai jenis dan ukuran.
Namun, saat bantuan ditutup dan waktunya pengiriman relawan membawa bantuan ke Ponpes, saya tidak diperbolehkan ikut serta.
Ustadz Amir Hamzah, selaku Pimpinan Usaha Tab. Gema Baiturrahman, khawatir dengan keselamatan saya, karena saya yang berasal dari Bandar Lampung dan saat itu baru menetap di Aceh Besar tidak pandai berbahasa Aceh.
Selain itu, alasan Ust. Amir, Anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan simpatisan akan mencurigai dan introgasi pada setiap pihak yang dianggap penyusup.
📚 Artikel Terkait
Walau kecewa saya memahami keputusan itu, kuatir juga niat baik ternyata nantinya akan mempersulit kader Remaja MRB saat memberikan bantuan.
Tragedi itu sudah seperempat abad berlalu, tetapi keinginan saya mengunjungi Ponpes milik As-Syahid Tgk. Bantaqiah itu tetap menggebu. Kemarin, Rabu, 5 Januari 2026, bertepatan 16 Syakban 1447 H, rindu ke Baitul Mukarramah terpenuhi.
Alhamdulillah.
Wasilahnya adalah berkah mengantarkan bantuan Sembako plus Sirup Patung, Al Quran, Iqra, Surat Yasin, mukena, dan sarung kerja bareng Pengurus Provinsi Aceh Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Persatuan Perempuan Wirausaha (Perwira), Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan Forum Silaturrahmi Masjid Serantau (Forsimas).
Sejak Selasa, 3 Februari lalu, pengurus DMDI Aceh yang juga sebagai Pengurus IPHI, Perwira, Forsimas sudah berlabuh di Meulaboh. Rombongan kecil ini menggunakan rent car Hiace menginap di Tiara, hotel terbaru bahkan belum diresmikan yang berdiri di pusat kota Kabupaten Aceh Barat.
Setelah memesan kamar hotel dan menyimpan pakaian dan perlengkapan langsung kami beranjak mengantarkan bantuan pada warga Desa (gampong) Tuwi Buya Kecamatan Alue Bilie. Kegiatan dipusatkan di Meunasah (mushalla) setempat. Selesai malam itu juga Tim ini kembali ke penginapan.
Rabu, 6 Februari, tim kembali melanjutkan antar bantuan pada 3 (tiga) titik, yaitu Gampong Babah Suak di sekolah darurat SD Negeri 1 pagi dan SMP Negeri 1 Siang Beutong Ateuh.
Lalu dilanjutkan rumah warga gampong yang sama. Sebanyak 180 KK/400 jiwa khususnya warga terdampak bencana banjir dan longsor mendapatkan tanda kasih sembako, Al Quran dan surat Yasin titipan sahabat Forsimas, serta sarung, mukena, dan sirup.
Ibu-ibu dalam rombongan ini Cut Wardani, Indriani dan Herlinawati memberikan salam tempel bagi sejumlah ibu yang ada saat itu.
Terlihat sebagian warga sudah membangun rumah sendiri dengan memanfaatkan batang durian tumbang dijadikan kayu dan dinding.
Sedangkan Huntara dengan jumlah kecil kamar penampung keluarga terdampak bencana dengan progres 70 persen yang tersebar di beberapa tempat.
Di rumah belum selesai dibangun milik keluarga Tgk. Zainal Aziz yang juga pemandu tim, tim dijamu makan siang secara sederhana serta disuguhi durian dengan rasa istimewa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






