• Latest
Membasuh Kesedihan - WhatsApp Image 2025 01 24 at 17.35.44 | Sastra | Potret Online

Membasuh Kesedihan

Januari 25, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Membasuh Kesedihan - 1001348646_11zon | Sastra | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Membasuh Kesedihan - 1001353319_11zon | Sastra | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Membasuh Kesedihan - 1001361361_11zon | Sastra | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Membasuh Kesedihan

Redaksi by Redaksi
Januari 25, 2025
in Sastra
Reading Time: 5 mins read
0
Membasuh Kesedihan - WhatsApp Image 2025 01 24 at 17.35.44 | Sastra | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Membasuh Kesedihan

Oleh: Arsiya Oganara

Aku tertegun memandangi patung Selamat Datang dengan perasaan sedih. Kesedihan di tengah-tengah keramaian, gumamku. Langit mendung kota Jakarta di sore itu tak sedikit pun mengurangi ramainya orang-orang yang ingin pulang setelah seharian beraktivitas.

Baca Juga
  • Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe
  • Bunga

Aku masih memandangi patung Selamat Datang. Sepasang pemuda dan pemudi yang gagah, perkasa, dan bersahaja mengangkat tinggi tangan kanan dengan telapak terbuka. Seikat bunga di tangan kiri dipegang erat oleh pemudi yang anggun. Selamat Datang di Kota Jakarta, pikirku.

Cuaca dingin dan tidak begitu terang seperti hari-hari sebelumnya tak menghalangi warga Jakarta dan sekitarnya mengambil kesempatan berfoto dari segala sisi. Suasana metropolitan: paduan padatnya kendaraan, gedung-gedung tinggi, dan mondar-mandirnya orang merupakan ciri khas Jakarta, gumamku.

Baca Juga
  • Lembayung Senja
  • Tetangga Depan Rumah

Tak terkecuali, seorang wanita muda bersama dua temannya yang asyik mengabadikan gaya terbaik berlatar patung Selamat Datang dengan kamera ponsel di Jalan M.H. Thamrin, tepat di depan Plaza Indonesia.

Terbetik di hatiku untuk menyapanya sekadar menanyakan arti serta keberadaan patung Selamat Datang.

Baca Juga
  • Puisi Alami
  • Puisi – Puisi SRI WAHYUNI

“Selamat sore,” sapaku dengan senyum yang mencoba hangat.

“Sore,” jawab wanita muda cantik itu sambil sedikit membenahi rambutnya yang tertiup angin.

“Apa sejarah yang Mbak ingat tentang patung ini?” tanyaku, berusaha membuka percakapan.

Dia tersenyum tipis sebelum menjawab. “Oh, ini patung Selamat Datang yang ada di Bundaran HI.”

“Hmm, itu benar,” aku mengangguk. “Adakah info menarik lainnya yang Mbak tahu?” lanjutku, berharap mendengar lebih.

Wanita itu menggeleng pelan sambil tersenyum malu. “Saya tahunya hanya itu. Sejujurnya, nggak terlalu sering ke sini, sih.”

“Oh, begitu,” sahutku lembut. “Mbak dari Jakarta?” tanyaku, mencoba menggali sedikit lebih banyak.

“Saya dari Bintaro,” katanya. “Tapi sering main ke sini sama teman-teman.”

Aku tersenyum. “Terima kasih, Mbak, atas kesediaan waktunya. Sudah cukup membantu.”

“Sama-sama,” balasnya sambil tersenyum hangat. “Semoga hari ini menyenangkan.”

“Amin. Semoga Mbak juga,” jawabku sambil melangkah mundur perlahan.

Aku masih memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Aku mencoba mencari jawaban atas rasa penasaran ini. Aku bertanya kepada beberapa orang lagi. Namun ternyata, mereka juga tidak tahu banyak tentang sejarah patung Selamat Datang. Wanita muda tadi bukanlah satu-satunya yang tidak tahu.

Aku mulai bertanya pada dua wanita berseragam putih. Aparatur Sipil Negara atau ASN, dugaku.

“Selamat sore, boleh saya bincang-bincang sebentar, kurang dari dua menit?” sapaku.

“Maaf, saya buru-buru,” ujar salah satu di antara mereka.

Aku terus mencoba, tetapi mereka benar-benar tidak tahu sejarah keberadaan patung Selamat Datang. Beberapa wisatawan mancanegara juga mengambil gambar, tetapi mereka tidak bersedia bercakap-cakap denganku. Kami hanya saling mengucap, “Hello.” Ada juga yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Inilah awal kesedihanku. Begitu banyak informasi yang tidak mereka ketahui, pikirku. Aku mengamati seputaran patung Selamat Datang. Ku pandang dek di seberang jalan, banyak juga wisatawan di atas sana yang tampak lebih santai dibandingkan orang-orang yang berada di jalan raya.

Akhirnya, aku mencoba menuju halte TransJakarta Bundaran Hotel Indonesia (HI) Astra. Tiba di lampu merah, seorang pemuda dengan penampilan rapi menekan tombol dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya seraya menganggukkan kepala. Ramah juga pemuda ini, ujarku. Tak berapa lama, lampu mulai hijau, pertanda kami bisa menyeberang. Aku mempercepat langkah menyeberang zebra cross.

“Selamat sore,” ucap seorang wanita muda berseragam biru tua dengan celana krem panjang yang banyak kantong dan sepatu bot hitam.

“Sore,” jawabku. Ternyata, wanita muda itu adalah petugas TransJakarta yang siap membantu para pengguna moda ini, minimal dengan tegur sapa. Dengan sigap, aku menempelkan kartu bayar di pintu masuk halte TransJakarta, dan secara otomatis pintu terbuka.

Aku melewati antrian orang-orang yang menunggu TransJakarta dan langsung menaiki eskalator menuju dek lantai dua, tempat terbaik untuk berfoto bersama patung Selamat Datang serta Jalan M.H. Thamrin. Tampak juga pusat perbelanjaan Sarinah yang dibangun pada zaman Bung Karno dan Monumen Nasional (Monas) di kejauhan.

Dek arah Monas hanya ada beberapa orang saja, tidak seramai dek arah Jalan Jend. Sudirman. Kulihat papan kaca berisi informasi tentang patung Selamat Datang sebelum pintu masuk dek yang dijaga pria muda. Ramainya orang yang ingin mengabadikan pemandangan indah dengan gedung pencakar langit dan padatnya kendaraan membuat waktu di dek harus dibatasi.

“Wah, bagus nih ada info tentang patung Selamat Datang,” ujarku. Akan tetapi, tak seorang pun membaca papan kaca itu.

Berawal dari SEA Games IV pada tahun 1963, Presiden Soekarno memberanikan diri menjadi tuan rumah perhelatan olahraga antarnegara ASEAN. Hebat, pikirku. Walaupun menuai kritik pedas dari beberapa negara anggota, mengingat keadaan ekonomi Indonesia saat itu masih morat-marit, semangat Bung Karno mengalahkan segalanya. Aku berdecak kagum dengan keberanian Bung Karno.

Patung Selamat Datang menghadap ke arah Bandara Internasional Kemayoran, menyambut dengan penuh antusias kedatangan para kontingen menuju Hotel Indonesia, tempat mereka menguatkan keinginan untuk menjadi pemenang. Kemudian, mereka mewujudkan cita-cita itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Para kontingen juga membeli hasil kerajinan tangan Indonesia di Sarinah.

Pikiranku melayang mengingat Bandara Kemayoran, bandara pertama di Indonesia ini. Bandara ini dibangun pada zaman Belanda dan diresmikan pada 6 Juli 1940. Bandara ini mengakhiri fungsinya pada tahun 1970. Selanjutnya penerbangan dipindahkan ke Bandara Cililitan atau Halim Perdanakusuma. Sekarang, area ini menjadi Jakarta International Expo.

Ku alihkan pandangan ke Hotel Indonesia, sekarang bernama Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Ini merupakan hotel mewah dan bersejarah, hotel bintang lima pertama di Indonesia. Bung Karno ingin memperlihatkan kemakmuran Indonesia di mata dunia. Hotel ini bahkan ditetapkan menjadi cagar budaya oleh pemerintah daerah Jakarta pada 29 Maret 1993.

Tiba-tiba aku teringat cerita awal mula dibangunnya Stadion Utama GBK. Stadion ini laksana cincin besar yang melingkar, dengan konstruksi atap baja yang megah pada zamannya. Para penonton terhindar dari panasnya cahaya matahari dan hujan. Hingga kini, stadion ini tetap menjadi tempat pertandingan tingkat nasional dan dunia.

Langkah kaki kuarahkan ke ujung dek tempat memanjakan mata. Banyak orang tua, muda, remaja, hingga anak-anak. Sejoli remaja tampak malu-malu ketika kusapa. Namun, mereka buru-buru pergi dengan tersipu.

“Waktu tinggal lima menit,” ujar petugas di pintu masuk dek. Aku memperhatikan puluhan orang baru yang setia menunggu giliran mereka. Orang-orang berganti dengan semangat yang sama.

Perhatianku terhenti pada tiga anak dan dua wanita dewasa yang bergembira ria berfoto. Aku mendekati salah satu anak pria, tampaknya seusia anak SMP. Dia mengenakan kaos biru cerah dan celana jeans yang sudah sedikit belel.

“Hai, Kakak ingin menanyakan beberapa pertanyaan,” ucapku dengan nada ramah.

Anak itu menoleh, tersenyum lebar, dan menjawab penuh antusias, “Iya, boleh!”

“Apa yang Adik ketahui tentang patung ini?” tanyaku, menunjuk patung Selamat Datang di kejauhan.

“Ini patung Selamat Datang, adanya di tengah Bundaran HI. Itu Hotel Indonesianya!” katanya percaya diri sambil menunjuk ke arah hotel besar di belakang patung.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Wah, pintar sekali! Tahu banyak juga, ya.”

Sebelum aku sempat melanjutkan, salah satu wanita dewasa yang berdiri di dekatnya—ternyata tantenya—menyela dengan bangga. “Dia juga sudah olahraga pagi di GBK, loh. Larinya kuat, jarang capek!”

Aku menatap anak itu dengan kagum. “Wow, hebat! Sudah olahraga di tempat legendaris, sekarang tahu banyak tentang sejarah juga.”

Anak itu tertawa kecil, sedikit malu-malu, sambil menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan. “Ah, biasa aja, Kak.”

Tantenya menambahkan sambil terkekeh, “Dia itu selalu kepo setiap kita jalan-jalan. Apapun yang menarik pasti ditanya.”

Aku tersenyum lebar. “Itu bagus, Tante. Rasa ingin tahu itu awal dari kesuksesan.”

Anak itu pun tersenyum lebih lebar, tampak bangga dengan pujianku. Ia lalu menatapku sambil berkata, “Kalau Kakak tahu apa lagi soal patung ini, cerita dong.”

Aku tertegun sebentar, lalu menjawab, “Dulu patung ini dibangun untuk menyambut atlet SEA Games IV tahun 1963. Patungnya menghadap Bandara Kemayoran, supaya mereka yang datang langsung merasa disambut.”

“Oh iya?” tantenya tampak terkejut. “Aku kira cuma patung biasa buat hiasan.”

Aku tersenyum. “Patung ini lebih dari itu. Bung Karno membangunnya sebagai simbol keramahtamahan Indonesia. Jadi waktu itu, semua atlet tinggal di Hotel Indonesia, bertanding di GBK, dan berbelanja di Sarinah.”

Anak itu tampak berpikir sejenak, lalu berkata dengan mata berbinar. “Jadi, kayak rute perjalanan SEA Games, ya, Kak?”

“Betul sekali!” seruku. “Adik pintar. Itu namanya napak tilas sejarah.”

Anak itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, membuat suasana menjadi lebih ceria. “Asyik, aku jadi tahu banyak sekarang!”

Melihat senyum cerah anak itu, aku merasa bebanku sedikit terangkat. Setidaknya, anak muda seperti dia masih punya rasa ingin tahu yang besar dan mampu memaknai sejarah.

Aku pun menutup percakapan, “Terima kasih, ya. Adik dan Tante sudah membuat sore Kakak jadi lebih ceria.”

Sang tante tersenyum, sementara anak itu mengacungkan jempol. “Sama-sama, Kak! Sampai ketemu lagi!”

Anak itu pun tertawa riang sambil menggoyangkan badannya. Akhirnya, adik ini mampu membasuh kesedihan yang melanda diriku.

Kaum muda bisa napak tilas SEA Games IV, mulai dari Bandara Kemayoran Jakarta Pusat, Sarinah, Bundaran HI dengan patung Selamat Datang, hingga Stadion Utama GBK.

Aku berharap, suatu hari nanti, patung Selamat Datang mampu memantik semangat kaum muda untuk mencapai kesuksesan di tengah kemelut metropolitan yang semakin ganas dan buas.

“Setidaknya, bisa membasuh kesedihan menjadi secercah harapan baru,” harapku.

 

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Membasuh Kesedihan - f8c78e5b 4af6 41e2 8886 1b15d2417635 | Sastra | Potret Online

Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com