• Latest

Potret Senja Dengan Pegiat Literasi Aceh

Oktober 6, 2018
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Potret Senja Dengan Pegiat Literasi Aceh

Redaksi by Redaksi
Oktober 6, 2018
in Cerita, Dayah, Literasi, Majalah Potret, Sastra, Ule Glee
Reading Time: 5 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh Teungku Muhammad Ikbal 
“Hafni, kentang goreng ya.”
“Oke, Teungku.”
Sore ini kentang goreng terasa nikmat, apalagi suasana mendung memang pas dengan yang namanya gorengan dan tak lupa Hafni  menawarkan kopi.
 “Nanti saja, Hafni. Saya jeda dulu.”
“Oke, Teungku.”
Begitulah Hafni yang saya kenal, selalu menawarkan kopi dan kentang goreng.
“Teungku, lihat! Banyak sepeda bagus di mobil itu.”
“Mana?”
“Itu di seberang jalan.”
“Lah, itukan mobilnya pak Tabrani Yunis, yang punya majalah POTRET. Sepertinya baru selesai pelatihan menulis di Meureudu, Hafni. Tadi saya sempat komentar di statusnya beliau.
“Coba saya foto, siapa tahu ada orangnya di mobil”
“Iya, Teungku. Coba saja.” jawab jomlo Menasah Reudeup Meulayu sambil meniriskan kentang goreng.
“Ckrek…..” Foto mobil pick up hitam beliau saya kirim melalui messenger.
“Assalamualaikum, pat posisi, pak?”
“Lam moto.”  ( dalam mobio) balasan singkat dari sang pegiat literasi Acèh.
“Teungku, kaca mobil sudah diturunkan.” timpal Hafni.
Saya beranjak bangun dari bangku santai, melambaikan tangan dan menyeberangi jalan menemui bapak yang memakai kemeja kotak-kotak merah lengan panjang.
Silaturahmi dilanjutkan di meja kopi. Saya sebagai pemula dalam dunia tulis menulis sangat antusias mendengar kisah beliau mengembangkan dunia literasi, khususnya di Acèh. Awal mula majalah POTRET sejak tahun 2003 hingga sekarang. Besar sekali sumbangsih Pak Tabrani  Yunis dalam menghidupkan nafas dunia baca tulis. Di Pidie Jaya sendiri sudah empat kali beliau memberikan pelatihan menulis untuk tingkat SMP dan SD. Andaikan saya tahu jadwal beliau, saya siap jadi anak SMP kembali, untuk bisa belajar menulis langsung.
Saya sedikit bercerita tentang usaha saya menghidupkan literasi di kalangan dayah, mulai dari meminjamkan buku bacaan yang saya punya. Dengan batas waktu pinjaman satu minggu, saya rasa cukup bagi mereka untuk meningkatkan minat dan semangat membaca sebagai langkah  permulaan. Dengan harapan akan dapat lebih banyak masukan untuk memotivasi orang lain untuk menulis, mengikuti jejak beliau dengan membagikan buku bacaan.
Ya, memang sudah seharusnya kalangan dayah aktif dalam berdakwah menyampaikan ajaran Islam. Tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga dengan tulisan. Bukankah para ulama terdahulu di samping mengajarkan ilmu agama dengan berceramah juga mengarang kitab dengan berbagai karamah yang Allah berikan dalam proses menulis kitab seperti imam Nawawi, jemarinya menyala saat mati lampu.
Apalagi kita berada di zaman digital, tulisan di media sosial harus update terus menyampaikan informasi secara aktual dan faktual. Tentunya kita membutuhkan seni dalam menulis. Ini yang menjadi PR bagi para santri, selain membaca buku untuk menambah ilmu dan wawasan.
“teruslah berbuat baik, sekecil apa pun itu.” lebih kurang begitulah kutipan dari pembicaraan beliau yang saya jadikan sebagai dalil dalam sosial literasi. Ya. Sekecil apa pun benih kebaikan yang kita tebar, jika konsisten dalam merawatnya, Insya Allah kita akan memetik hasil yang memuaskan.
Silaturahmi dengan durasi lebih kurang 20 menit menjelang magrib telah memantapkan niat saya untuk merintis gerakan “Literasi Dayah”. Karena dakwah itu banyak bentuknya, tak hanya lisan tetapi juga tulisan. Insya Allah.
“Allahu Akbar…. Allahu Akbar.” lantunan azan muazzin menutup silaturahmi kami untuk bergegas menuju ke tempat ibadah.
Terima kasih banyak atas waktunya pak Tabrani Yunis . Terima kasih kasih telah berbagi ilmu kepada kami.
Muhammad Ikbal 
Uleglee, 4 Oktober 2018
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Pidie Jaya Semakin Bergelora Menyiapkan Penulis Andal Sejak Dini

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com