• Latest
Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

Januari 19, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Januari 19, 2026
Reading Time: 3 mins read
Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Untuk menangkap seorang koruptor, negara biasanya harus melakukan ritual panjang yang melelahkan. Tahun demi tahun dihabiskan, anggaran disedot seperti es kopi susu ukuran liter, tenaga penyidik diperas sampai kepala berdenyut, dan pikiran dipaksa menembus labirin bukti, saksi, serta alibi yang lebih berliku dari jalan tol proyek siluman. Semua itu demi satu kalimat sakral, “terbukti secara sah dan meyakinkan.”

Namun pada 19 Januari 2026, di Sidang Tipikor Jakarta Pusat, sejarah kecil tapi absurd tercipta. Untuk pertama kalinya, ada orang yang memotong semua proses itu dengan santai, lalu berkata di hadapan publik, saya gembong korupsi. Luar biasa pengakuannya, jujur dan tak bertele-tele. Siapkan Koptagul, simak narasinya, wak!

Immanuel Ebenezer alias Noel, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, hadir di ruang sidang bukan sebagai terdakwa yang mukanya pucat seperti habis disedot bank, melainkan sebagai aktor utama sebuah drama epik berbalut satire. Ia tidak sekadar mengaku, tapi menambahkan bumbu kelas dewa. Ia menyebut dirinya gembong korupsi yang memerintahkan seluruh kementerian melakukan korupsi massal. Bukan untuk kaya, katanya, tapi biar keren. Pengakuan ini terdengar seperti lelucon, tapi ia diucapkan di ruang pengadilan, di bawah lambang negara, dengan majelis hakim lengkap. Kalau ini fiksi, editor mungkin sudah menolaknya karena terlalu tidak masuk akal.

Padahal perkara yang menyeret Noel bukan cerita kecil. KPK mencatat kerugian negara Rp 81 miliar. Dengan nada dingin KPK menambahkan, angka itu berpotensi membengkak sampai Rp 201 miliar sejak 2020. Dari gunung uang itu, Noel disebut menerima Rp 3 miliar. Angka konkret, data konkret, bukan asumsi. Namun di lidah Noel, Rp 81 miliar terdengar seperti uang kembalian beli gorengan. Ia menyebut perkara ini hal kecil, terlalu sepele sampai-sampai tidak pantas menyeret Presiden. Definisi kecil versi ini sungguh istimewa, di negeri biasa, Rp 81 miliar bisa membangun jalan, sekolah, atau rumah sakit; di panggung ini, ia hanya footnote.

Sidang itu sendiri terasa seperti festival karakter. Noel tidak sendirian. Ada sepuluh terdakwa lain yang duduk bersama, termasuk Fahrurozi, mantan Dirjen Binwasnaker dan K3, plus nama-nama seperti Temurila, Miki Mahfud, dan Hery Sutanto. Majelis hakim pun hadir lengkap dan formal: Nur Sari Baktiana sebagai ketua, didampingi Fajar Kusuma Aji dan Alfis Setiawan. Semua unsur hukum terpenuhi. Tapi atmosfernya aneh. Dengan gaya bicara Noel, ruang sidang terasa lebih mirip panggung monolog politik daripada tempat orang mempertaruhkan nasib puluhan tahun hidupnya.

Tak berhenti di situ, Noel juga mengarahkan senjata kata-kata ke KPK. Ia menuduh lembaga antirasuah membangun hukum lewat “narasi kebohongan.” Dalam ceritanya, KPK bukan lagi penegak hukum, melainkan penulis sinetron yang rajin meracik konflik agar tayangannya laku. Noel menempatkan dirinya sebagai tokoh antagonis yang dipaksa jahat demi rating. Tapi alih-alih menolak peran itu, ia memeluknya dengan penuh ironi. Kalau ini cerita, katanya, ia akan membalas cerita dengan parodi.

Sebagai penutup yang sempurna, Noel melempar bom narasi. Ada satu partai politik dan satu organisasi kemasyarakatan yang ikut bermain dalam kasus sertifikat K3. Nama tidak disebut, janji disimpan untuk sidang berikutnya. Publik langsung berubah jadi penonton serial. Kopi diaduk lebih pelan, media sosial ramai tebakan, dan semua menunggu episode lanjutan. Cliffhanger ini bekerja sempurna, hukum bercampur hiburan, fakta bercampur sensasi.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Maka lengkaplah tragedi sekaligus komedi ini. Ada data Rp 81 miliar, potensi Rp 201 miliar sejak 2020, aliran Rp 3 miliar ke terdakwa, sepuluh terdakwa lain, majelis hakim lengkap, tudingan narasi kebohongan, dan teaser partai plus ormas misterius. Di negeri yang koruptornya biasa mati-matian menyangkal, tiba-tiba muncul satu orang yang mengaku gembong korupsi dengan santai, nyaris bangga. Negara yang selama ini kelelahan mencari pengakuan, justru diberi pengakuan mentah-mentah. Tinggal satu hal yang belum jelas, apakah pengakuan ini akan dikenang sebagai kejujuran paling absurd dalam sejarah hukum, atau sekadar episode paling ironis yang paling enak dibaca sambil ngopi.

Foto Ai hanya ilustrasi

ADVERTISEMENT

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ulama, Keadilan, dan Jalan Dewasa Aceh di Abad ke-21

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com