• Latest

Munasabah dari Tanah yang Terendam: Iman, Amanah, dan Luka Ekologi Aceh

Januari 18, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Munasabah dari Tanah yang Terendam: Iman, Amanah, dan Luka Ekologi Aceh

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Januari 18, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Artikel, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Musibah, Puisi Bencana, Refleksi
Reading Time: 5 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dayan Abdurrahman

Ada saatnya kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Di tengah lumpur yang menutupi rumah-rumah, di antara tangis korban banjir bandang, dan di sela-sela azan yang tetap berkumandang dari meunasah-meunasah Aceh, pertanyaan itu datang pelan namun menghantam: di mana posisi iman kita ketika alam yang menopang ibadah kita justru runtuh oleh tangan kita sendiri?

Aceh bukan negeri yang miskin iman. Kita tahu itu. Salat berjamaah hidup, zikir tak pernah sepi, doa mengalir di setiap musibah. Tetapi bencana yang berulang, hutan yang habis, sungai yang dangkal, dan perencanaan pembangunan yang abai memberi isyarat lain: ada sesuatu yang terpisah dalam cara kita memahami agama dan cara kita memperlakukan bumi.

Tulisan ini bukan penghakiman. Ini munasabah—perenungan bersama—sebagai sesama Muslim, sebagai orang Aceh, sebagai manusia yang hidup dari dan di atas tanah yang sama.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Iman yang Vertikal, Kehidupan yang Horizontal

Dalam Islam, hubungan dengan Allah (hablun minallah) tidak pernah dimaksudkan untuk berdiri sendiri, terpisah dari hubungan dengan manusia dan alam (hablun minannas dan hubungan dengan makhluk). Al-Qur’an dengan sangat jelas mengingatkan:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Kata khalifah bukan gelar kehormatan tanpa konsekuensi. Ia adalah amanah. Amanah berarti tanggung jawab, dan setiap tanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban. Menjadi khalifah bukan berarti bebas mengeksploitasi, melainkan diwajibkan menjaga keseimbangan.

Namun, di sinilah kita sering terjebak. Kita menempatkan ibadah pada wilayah ritual semata—salat, puasa, zikir—sementara urusan hutan, sungai, tambang, dan tata ruang kita anggap sebagai urusan ekonomi atau teknis belaka. Seolah-olah agama berhenti di sajadah, dan tidak ikut hadir dalam keputusan tentang alam.

Padahal Al-Qur’an juga mengingatkan dengan nada yang tegas:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, tetapi juga diagnosis sosial-ekologis. Kerusakan bukan jatuh dari langit; ia lahir dari keputusan manusia—termasuk kebijakan yang tidak bertanggung jawab, perencanaan yang rakus, dan pembiaran yang disengaja.

Banjir dan Cermin Kejujuran Kita

Banjir bandang di Aceh hari ini bukan hanya bencana alam, tetapi cermin kejujuran. Ia memperlihatkan akumulasi kesalahan: hutan yang dibuka tanpa kendali, alih fungsi lahan tanpa kajian ekologis, izin yang diperdagangkan, dan pembangunan yang menyingkirkan daya dukung alam.

Di titik ini, munasabah kita menjadi lebih dalam. Kita rajin berdoa agar bencana diangkat, tetapi jarang bertanya: apakah perilaku kolektif kita sudah berhenti menjadi penyebabnya? Kita memohon perlindungan Allah, tetapi sering lupa bahwa perlindungan itu datang melalui hukum alam yang diciptakan-Nya.

Islam tidak memisahkan doa dan ikhtiar. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan itu dengan sangat konkret. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat tiba, hendaklah ia menanamnya.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini luar biasa. Di ambang kehancuran dunia sekalipun, Rasulullah menekankan tanggung jawab ekologis. Artinya, menjaga kehidupan dan alam bukan sekadar pilihan, tetapi ekspresi iman itu sendiri.

Hak dan Tanggung Jawab: Titik Keseimbangan Khalifah

Sering kali kita berbicara tentang hak—hak atas tanah, hak ekonomi, hak pembangunan—tanpa menempatkannya sejajar dengan tanggung jawab. Dalam konsep khalifah, hak tidak pernah berdiri sendiri. Setiap hak mengandung beban moral.

Manusia berhak memanfaatkan alam, tetapi tidak berhak merusaknya. Manusia berhak mencari nafkah, tetapi tidak berhak menghancurkan masa depan generasi berikutnya. Islam memberi ruang bagi pembangunan, tetapi menolak fasad—kerusakan yang disengaja atau dibiarkan.

Aceh hari ini membutuhkan cara pandang baru, atau lebih tepatnya: cara pandang lama yang kita hidupkan kembali. Cara pandang bahwa iman bukan hanya urusan langit, tetapi juga urusan tanah. Bahwa menjadi Muslim bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga adil terhadap alam.

Dari Kesalehan Ritual Menuju Kesalehan Ekologis

Kesalehan ritual tanpa kesalehan ekologis melahirkan paradoks: masyarakat yang taat, tetapi lingkungannya sekarat. Padahal, alam yang rusak akan kembali menyakiti manusia—mengganggu ekonomi, kesehatan, bahkan kekhusyukan ibadah.

ADVERTISEMENT

Bayangkan ketika air bersih sulit didapat untuk wudu, ketika masjid terendam banjir, ketika sawah rusak dan kemiskinan meningkat. Di titik itu, kita sadar bahwa menjaga alam bukan isu pinggiran; ia adalah syarat dasar keberlangsungan hidup beragama.

Kesadaran inilah yang perlu dibangun ulang di Aceh: bahwa melindungi hutan, sungai, dan ruang hidup bukan agenda asing, bukan pula proyek luar, tetapi bagian dari amanah keislaman kita sendiri.

Penutup: Kembali dengan Kesadaran Baru

Banjir bandang yang melanda Aceh hari ini adalah luka, tetapi juga pelajaran. Ia mengajak kita kembali—bukan hanya kepada Allah dalam doa, tetapi juga kepada nilai-nilai Islam yang utuh: keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab.

Munasabah ini bukan untuk melemahkan iman, melainkan untuk memurnikannya. Sebab iman yang matang bukan hanya takut kepada Tuhan, tetapi juga takut menyakiti ciptaan-Nya.

Jika Aceh ingin bangkit, bukan hanya infrastrukturnya yang harus direformasi, tetapi juga cara berpikir kita tentang agama dan alam. Dari kesalehan yang berhenti di ritual, menuju kesalehan yang hidup dalam tindakan. Dari doa yang lirih, menuju kebijakan dan perilaku yang bertanggung jawab.

Mungkin di situlah makna sejati khalifah: bukan mereka yang paling lantang mengaku beriman, tetapi mereka yang paling berhati-hati menjaga bumi tempat mereka bersujud.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com