Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Orang yang mengatakan dia tahu arti sebuah buku, tanpa membacanya dengan saksama, sama seperti orang yang mengaku mengenal sebuah negara yang belum pernah dia kunjungi.” — Mortimer J. Adler(1902-2001) & Charles Van Doren(1926-2019), How to Read a Book(1972).
Disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara generasi muda, khususnya Gen Z, mengakses informasi.
Segala bentuk pengetahuan kini tersedia dalam genggaman, dari artikel ilmiah hingga tulisan populer, dari karya bermutu hingga konten dangkal yang diproduksi secara massal.
Namun, kemudahan akses ini tidak serta merta melahirkan keterampilan membaca yang mendalam atau kreativitas yang tumbuh dengan sendirinya.
Justru muncul paradoks: di satu sisi informasi melimpah, di sisi lain tradisi literasi manual melemah, penerbitan buku cetak menurun, dan kebiasaan membaca panjang tergantikan oleh konsumsi cepat konten digital.
Menurut laporan CEOWORLD Magazine 2024 berjudul Ranked: Countries That Read the Most Books, survei terhadap 6,5 juta partisipan dari 102 negara menunjukkan Indonesia berada di peringkat 31 dunia dalam minat baca.
Posisi ini menandakan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun budaya membaca, meski tidak berada di posisi terbawah seperti yang sering diasumsikan.
Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia masih “haus buku”, tetapi haus yang sering kali dipenuhi oleh bacaan digital instan, bukan oleh tradisi membaca mendalam yang membentuk daya pikir kritis.
Kekeliruan pendidikan literasi antara manual dan digital terletak pada anggapan bahwa akses mudah sama dengan keterampilan membaca.
📚 Artikel Terkait
Padahal, membaca bukan sekadar mengonsumsi informasi, melainkan melatih analisis, sintesis, dan refleksi.
Sains digital berbasis high-tech memang membuka peluang besar, tetapi sekaligus menantang manusia untuk tidak kehilangan kedalaman berpikir.
Tradisi membaca yang baik harus tetap dipelajari, sebagaimana Amerika yang sejak 1970-an telah memiliki panduan membaca otoritatif dari Montime J. Adler Montimer, filsuf, edukator, dan penulis, terlibat dalam proyek Great Books of the Western World dan mendirikan Institute for Philosophical Research dan Charles Van Doren, penulis, editor, dan akademisi, lama bekerja di Encyclopaedia Britannica, melalui buku How to Read a Book.
Panduan ini memperkenalkan model pembacaan analitis (analytical reading) dan sintopikal (syntopical reading), serta lebih ringkas lagi indexical reading, yang menekankan pentingnya keterampilan memahami, membandingkan, dan menghubungkan bacaan.
Tradisi literasi juga diperkuat dengan kebiasaan meringkas bacaan melalui resensi dan kritik buku, serta daftar bacaan klasik seperti “100 buku dibaca sepanjang masa” atau “100 karya sastra dibaca hingga hari ini” yang bahkan dialihwahanakan ke dalam film dan komik.
Di antaranya, yang klasik dari closed drama, Romeo and Juliet, terus dibaca bahkan sudah alihwahana dalam film sebanyak empat kali dan yang paling menghentak diproduksi tahun 1968 oleh sutradara Franco Zeffirelli(1923-2019) dengan artis mendiang Olivia Hussey(1951-2024) ketika itu berusia 17 tahun dan aktor Leonard Whiting 18 tahun dan kini berusia 75 tahun.
Demikian di Indonesia pada 2018, serial novel Dilan 1990, telah terbit sebanyak 14 kali dan difilmkan dengan bintang Gen Z, Iqbal Ramadhan(Dilan) dan Vanessa Prysillia(Milea) dengan penonton lebih dari enam juta.
Semua ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas individual, melainkan bagian dari ekosistem budaya yang membentuk kualitas masyarakat.
Di era AI, haus buku tidak boleh sekadar diartikan sebagai keinginan mengonsumsi informasi digital yang melimpah.
Haus buku harus dimaknai sebagai dorongan untuk mencari bacaan bermutu, melatih keterampilan membaca mendalam, dan menjaga tradisi literasi agar tidak tergantikan oleh algoritma.
Dengan demikian, Indonesia yang berada di peringkat 31 dunia memiliki peluang besar untuk memperbaiki budaya membaca, asalkan haus buku diarahkan pada literasi yang kritis, kreatif, dan berkelanjutan.
coversongs:
Lagu “Love Theme (From Romeo and Juliet)” versi André Rieu & Johann Strauss Orchestra versi rilis pada 2016, dan masuk dalam album kompilasi bertema romantis berjudul Romantic Moments.
“Love Theme (From Romeo and Juliet)” awalnya adalah komposisi musik karya Nino Rota untuk film Romeo and Juliet (1968) arahan Franco Zeffirelli. Musik ini kemudian menjadi salah satu tema cinta paling ikonik dalam sejarah perfilman.
creatordigital: Foto di ruang ReO Bibliothek Kokima Hill Manado diubah sedikit versi AI.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






