POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Era AI

Haus Buku (Di) Era AI

Redaksi by Redaksi
Januari 16, 2026
in #Era AI, #Gerakan Menulis, Budaya membaca, Buku
0
Haus Buku (Di) Era AI - c40d08e7 6d32 4dec 8ad7 630d20cab45e | #Era AI | Potret Online

Oleh ReO Fiksiwan

“Orang yang mengatakan dia tahu arti sebuah buku, tanpa membacanya dengan saksama, sama seperti orang yang mengaku mengenal sebuah negara yang belum pernah dia kunjungi.” — Mortimer J. Adler(1902-2001) & Charles Van Doren(1926-2019), How to Read a Book(1972).

Disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara generasi muda, khususnya Gen Z, mengakses informasi.

Baca Juga
  • Haus Buku (Di) Era AI - 2025 05 04 06 43 26 | #Era AI | Potret Online
    Buku
    Tgk. Khaidir Ali El-Sawanji Tulis Buku Miftahul Khairat
    04 Mei 2025
  • Haus Buku (Di) Era AI - de621aad 499f 4058 a0d4 fbcc23073f59 | #Era AI | Potret Online
    Buku
    Bacaan Menjelang Lebaran.
    26 Mar 2025

Segala bentuk pengetahuan kini tersedia dalam genggaman, dari artikel ilmiah hingga tulisan populer, dari karya bermutu hingga konten dangkal yang diproduksi secara massal.

Namun, kemudahan akses ini tidak serta merta melahirkan keterampilan membaca yang mendalam atau kreativitas yang tumbuh dengan sendirinya.

Baca Juga
  • Haus Buku (Di) Era AI - IMG_7082 | #Era AI | Potret Online
    #Era AI
    Tantangan Sarjana Komunikasi Sebagai Agen Perubahan di Era Digital 
    06 Sep 2025
  • Haus Buku (Di) Era AI - EE039887 4BA1 4BA2 BD0F F20DC0B8941B | #Era AI | Potret Online
    Buku
    Guru MTsN 6 Aceh Utara, Putra Buloh Menulis Buku “Problematika Fiqhiyah dan Solusinya”
    25 Agu 2022

Justru muncul paradoks: di satu sisi informasi melimpah, di sisi lain tradisi literasi manual melemah, penerbitan buku cetak menurun, dan kebiasaan membaca panjang tergantikan oleh konsumsi cepat konten digital.

Menurut laporan CEOWORLD Magazine 2024 berjudul Ranked: Countries That Read the Most Books, survei terhadap 6,5 juta partisipan dari 102 negara menunjukkan Indonesia berada di peringkat 31 dunia dalam minat baca.

Baca Juga
  • Haus Buku (Di) Era AI - 2025 05 08 18 49 21 | #Era AI | Potret Online
    #Era AI
    Menghukum atau Mendidik? Menimbang Ulang Relevansi Hukuman Menulis Ratusan Kali di Era AI
    21 Mei 2025
  • 02
    Artificial Intelligence
    Menumbuhkan Minat Baca Anak Lewat E-Book Digital Berbasis AI
    05 Mei 2025

Posisi ini menandakan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun budaya membaca, meski tidak berada di posisi terbawah seperti yang sering diasumsikan.

Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia masih “haus buku”, tetapi haus yang sering kali dipenuhi oleh bacaan digital instan, bukan oleh tradisi membaca mendalam yang membentuk daya pikir kritis.

Kekeliruan pendidikan literasi antara manual dan digital terletak pada anggapan bahwa akses mudah sama dengan keterampilan membaca.

Padahal, membaca bukan sekadar mengonsumsi informasi, melainkan melatih analisis, sintesis, dan refleksi.

Sains digital berbasis high-tech memang membuka peluang besar, tetapi sekaligus menantang manusia untuk tidak kehilangan kedalaman berpikir.

Tradisi membaca yang baik harus tetap dipelajari, sebagaimana Amerika yang sejak 1970-an telah memiliki panduan membaca otoritatif dari Montime J. Adler Montimer, filsuf, edukator, dan penulis, terlibat dalam proyek Great Books of the Western World dan mendirikan Institute for Philosophical Research dan Charles Van Doren, penulis, editor, dan akademisi, lama bekerja di Encyclopaedia Britannica, melalui buku How to Read a Book.

Panduan ini memperkenalkan model pembacaan analitis (analytical reading) dan sintopikal (syntopical reading), serta lebih ringkas lagi indexical reading, yang menekankan pentingnya keterampilan memahami, membandingkan, dan menghubungkan bacaan.

Tradisi literasi juga diperkuat dengan kebiasaan meringkas bacaan melalui resensi dan kritik buku, serta daftar bacaan klasik seperti “100 buku dibaca sepanjang masa” atau “100 karya sastra dibaca hingga hari ini” yang bahkan dialihwahanakan ke dalam film dan komik.

Di antaranya, yang klasik dari closed drama, Romeo and Juliet, terus dibaca bahkan sudah alihwahana dalam film sebanyak empat kali dan yang paling menghentak diproduksi tahun 1968 oleh sutradara Franco Zeffirelli(1923-2019) dengan artis mendiang Olivia Hussey(1951-2024) ketika itu berusia 17 tahun dan aktor Leonard Whiting 18 tahun dan kini berusia 75 tahun.

Demikian di Indonesia pada 2018, serial novel Dilan 1990, telah terbit sebanyak 14 kali dan difilmkan dengan bintang Gen Z, Iqbal Ramadhan(Dilan) dan Vanessa Prysillia(Milea) dengan penonton lebih dari enam juta.

Semua ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas individual, melainkan bagian dari ekosistem budaya yang membentuk kualitas masyarakat.

Di era AI, haus buku tidak boleh sekadar diartikan sebagai keinginan mengonsumsi informasi digital yang melimpah.

Haus buku harus dimaknai sebagai dorongan untuk mencari bacaan bermutu, melatih keterampilan membaca mendalam, dan menjaga tradisi literasi agar tidak tergantikan oleh algoritma.

Dengan demikian, Indonesia yang berada di peringkat 31 dunia memiliki peluang besar untuk memperbaiki budaya membaca, asalkan haus buku diarahkan pada literasi yang kritis, kreatif, dan berkelanjutan.

coversongs:

Lagu “Love Theme (From Romeo and Juliet)” versi André Rieu & Johann Strauss Orchestra versi rilis pada 2016, dan masuk dalam album kompilasi bertema romantis berjudul Romantic Moments.

“Love Theme (From Romeo and Juliet)” awalnya adalah komposisi musik karya Nino Rota untuk film Romeo and Juliet (1968) arahan Franco Zeffirelli. Musik ini kemudian menjadi salah satu tema cinta paling ikonik dalam sejarah perfilman.

creatordigital: Foto di ruang ReO Bibliothek Kokima Hill Manado diubah sedikit versi AI.

Previous Post

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Next Post

Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami

Next Post
Haus Buku (Di) Era AI - cfe1c6e7 1edf 4712 9e7b effa31ab8ffa | #Era AI | Potret Online

Banjir Bandang Itu adalah Derita Panjang Kami

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah