Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Pendahuluan
Ketika menyaksikan cuplikan video TikTok yang menampilkan Wawancara
Ichsanuddin Noorsy seorang ahli ekonomi, berdiskusi dengan presenter Kompas TV, saya berhenti sejenak dan merenung cukup lama. Pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitatif dan eksploratif terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Pernyataan tersebut seakan merangkum perjalanan panjang ekonomi nasional sejak masa Orde Baru hingga hari ini. Bukan hanya tentang angka pertumbuhan atau stabilitas makro, melainkan tentang cara pandang, paradigma, dan desain ekonomi yang dibangun di atas eksploitasi sumber daya alam serta eksplorasi tenaga kerja dan ruang hidup rakyat.
Ekonomi Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dirancang, dipengaruhi, dan diarahkan oleh kepentingan politik global, elite domestik, serta paradigma pembangunan tertentu. Untuk memahami mengapa eksploitasi menjadi watak dominan, kita perlu menelusuri akar sejarahnya, terutama pada masa Orde Baru ketika arah ekonomi nasional dikonsolidasikan oleh sekelompok teknokrat yang dikenal sebagai Mafia Berkeley.
Lahirnya Paradigma Ekonomi Orde Baru
Setelah pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru pada akhir 1960-an, Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh. Inflasi tinggi, utang luar negeri menumpuk, dan kepercayaan internasional terhadap Indonesia berada pada titik nadir. Dalam situasi tersebut, Presiden Soeharto membuka pintu lebar-lebar bagi para ekonom lulusan Amerika Serikat, khususnya dari University of California, Berkeley.
Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Mafia Berkeley. Mereka menawarkan resep pembangunan berbasis stabilitas makroekonomi, keterbukaan terhadap modal asing, dan integrasi Indonesia ke dalam sistem ekonomi global. Secara teknis, pendekatan ini berhasil menekan inflasi dan memulihkan kepercayaan investor internasional. Namun, keberhasilan jangka pendek tersebut menyimpan persoalan struktural yang kelak menjadi beban berkepanjangan.
Paradigma ekonomi Orde Baru menempatkan pertumbuhan sebagai tujuan utama. Pertumbuhan dianggap sebagai prasyarat bagi kesejahteraan, sementara distribusi dan keadilan sosial diletakkan sebagai efek turunan yang akan terjadi secara otomatis. Dalam praktiknya, logika ini membuka jalan bagi eksploitasi besar-besaran sumber daya alam dan eksplorasi wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di luar jangkauan pasar.
Mafia Berkeley dan Desain Ekonomi Eksploitatif
Mafia Berkeley bukanlah organisasi formal, melainkan jejaring teknokrat yang memiliki pengaruh besar dalam pengambilan kebijakan ekonomi negara. Mereka percaya pada mekanisme pasar, efisiensi, dan rasionalitas ekonomi ala Barat. Negara diposisikan sebagai fasilitator bagi pertumbuhan, bukan sebagai pelindung utama kepentingan rakyat kecil.
Dalam kerangka ini, eksploitasi sumber daya alam dianggap sebagai strategi rasional untuk mengejar pertumbuhan cepat. Hutan ditebang, tambang dibuka, dan tanah-tanah adat dialihfungsikan demi kepentingan investasi. Negara memberikan konsesi besar kepada korporasi, baik nasional maupun multinasional, dengan dalih pembangunan dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, eksploitasi ini tidak pernah benar-benar berorientasi pada keberlanjutan. Kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan pemiskinan struktural masyarakat lokal dianggap sebagai biaya yang harus dibayar. Logika ekonomi yang digunakan adalah logika ekstraktif, bukan logika pemulihan atau restorasi.
Eksplorasi Sumber Daya Alam dan Krisis Ekologis
Salah satu dampak paling nyata dari paradigma ekonomi eksploitatif adalah krisis ekologis. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut justru menjadi sasaran eksploitasi tanpa kendali. Hutan tropis ditebang untuk perkebunan monokultur, tambang dikeruk tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, dan wilayah pesisir dieksplorasi untuk kepentingan industri ekstraktif.
Laporan dan kajian dari organisasi lingkungan menunjukkan bahwa eksploitasi sumber daya alam di Indonesia telah melampaui batas keberlanjutan. Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga memperparah krisis iklim, banjir, dan longsor. Dalam konteks ini, ekonomi eksploitatif tidak hanya merugikan generasi sekarang, tetapi juga mengorbankan masa depan.
Paradigma eksploratif yang diwariskan Orde Baru masih terasa hingga kini. Meskipun istilah pembangunan berkelanjutan sering digunakan, praktik di lapangan menunjukkan bahwa logika ekstraksi tetap dominan. Restorasi lingkungan sering kali menjadi slogan, bukan kebijakan nyata yang dijalankan secara konsisten.
Eksploitasi Tenaga Kerja dan Ketimpangan Sosial
Selain sumber daya alam, ekonomi Indonesia juga bersifat eksploitatif terhadap tenaga kerja. Upah murah dijadikan daya tarik utama bagi investor. Buruh diposisikan sebagai faktor produksi yang harus ditekan biayanya demi menjaga daya saing. Dalam jangka pendek, strategi ini memang menarik investasi, tetapi dalam jangka panjang menciptakan ketimpangan sosial yang tajam.
Kebijakan ketenagakerjaan sering kali lebih berpihak pada kepentingan modal daripada perlindungan buruh. Fleksibilitas pasar tenaga kerja diterjemahkan sebagai kemudahan pemutusan hubungan kerja dan minimnya jaminan sosial. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa ekonomi nasional dibangun di atas pengorbanan kelompok rentan.
Ketimpangan yang dihasilkan bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari desain ekonomi yang eksploitatif. Ketika pertumbuhan menjadi tujuan , maka manusia dan alam direduksi menjadi instrumen.
📚 Artikel Terkait
Warisan Orde Baru dalam Ekonomi Kontemporer
Reformasi 1998 memang mengakhiri kekuasaan politik Orde Baru, tetapi tidak sepenuhnya mengubah desain ekonomi yang telah mengakar. Banyak kebijakan ekonomi pascareformasi masih beroperasi dalam kerangka yang sama. Privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi tetap menjadi arah kebijakan.
Krisis ekonomi 1998 justru memperlihatkan rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun secara eksploitatif. Ketergantungan pada modal asing dan utang luar negeri membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak global. Namun, alih-alih melakukan koreksi mendasar, banyak kebijakan pascakrisis justru memperdalam integrasi Indonesia ke dalam sistem ekonomi global yang sama.
Dalam konteks inilah pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitasi dan eksplorasi menjadi relevan. Ia bukan sekadar kritik moral, melainkan diagnosis struktural terhadap arah pembangunan nasional.
Menuju Paradigma Ekonomi Restoratif
Jika ekonomi eksploitatif telah membawa Indonesia pada krisis ekologis dan ketimpangan sosial, maka pertanyaannya adalah ke mana arah perubahan harus dilakukan. Beberapa kalangan mulai mendorong paradigma ekonomi restoratif, yaitu pendekatan yang menempatkan pemulihan lingkungan dan keadilan sosial sebagai tujuan utama.
Ekonomi restoratif menuntut perubahan cara pandang. Alam tidak lagi diperlakukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra hidup yang harus dijaga keberlanjutannya. Pertumbuhan ekonomi tidak diukur semata-mata dari angka PDB, tetapi dari kualitas hidup manusia dan kesehatan ekosistem.
Perubahan ini tentu tidak mudah, karena menyentuh kepentingan besar yang telah lama diuntungkan oleh sistem lama. Namun, tanpa keberanian untuk mengoreksi paradigma, Indonesia berisiko terus terjebak dalam siklus eksploitasi yang merusak.
Penutup
Pernyataan bahwa ekonomi Indonesia bersifat eksploitasi dan eksplorasi bukanlah tudingan kosong. memiliki dasar historis, struktural, dan empiris yang kuat. Desain ekonomi yang dibangun sejak Orde Baru oleh Mafia Berkeley telah membentuk watak pembangunan nasional yang berorientasi pada pertumbuhan cepat dengan mengorbankan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Memahami sejarah ini bukan untuk menolak seluruh capaian masa lalu, melainkan untuk belajar dari kesalahan yang telah terjadi. Indonesia membutuhkan paradigma ekonomi baru yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada manusia serta alam. Tanpa perubahan mendasar, eksploitasi akan terus menjadi harga yang harus dibayar atas nama pembangunan.
Daftar Pustaka.
1. Forest Watch Indonesia. Dari Eksploitasi Menuju Restorasi.
2. TB Buruh Membaca. Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia.
3. Antara News. Mafia Berkeley Gagal Bangun Ekonomi Indonesia.
4. Indonesiana. Mafia Berkeley, Kelompok Elit yang Pernah Membentuk Wajah Ekonomi Indonesia.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Mencintaimu dalam diamku
Pençipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi mencintaimu dalam diamku karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





