• Latest
Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses - 8A204BB8 81B6 42EC 9B6D 68A507C2CB6A | Aceh | Potret Online

Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses

Juni 26, 2022
Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Aceh | Potret Online

Kala Ketua PGRI Dijabat Oleh Kadisdikbud

April 24, 2026
a9276262-5409-4972-ad75-9088a989f214

Mengenal Suratno, Ketua DPRD Magetan yang Menangis Saat Ditangkap Kejari

April 24, 2026
ab563845-de3b-41dc-9e33-c186ab123d81

Kartini: Pelopor Perempuan untuk Indonesia.

April 24, 2026
825dc53a-9479-4a3d-9c57-553e51642f7e

Hari Pertama yang Terakhir

April 24, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Gencatan Senjata Perang Iran yang Penuh Pelanggaran

April 24, 2026
085066ea-362a-46bd-8029-20b521d85ccd

Nama JK Semakin Berkibar Usai Nyenggol Ijazah Jokowi dan Dilaporkan Kader PSI ke Polisi

April 24, 2026
IMG_0518

Aceh Bisa Merdeka Tanpa GAM

April 24, 2026
Ilustrasi ayah dan anak bermain bersama menunjukkan peran ayah dalam perkembangan anak

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Sabtu, April 25, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses

Redaksi by Redaksi
Juni 26, 2022
in Aceh, Banda Aceh
Reading Time: 5 mins read
0
Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses - 8A204BB8 81B6 42EC 9B6D 68A507C2CB6A | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Banda Aceh – Potretonline.com, 26/06/22. Acara bedah buku antologi puisi ‘Kulukis Namamu di Awan’ karya Tabrani Yunis, Pemred Majalah POTRET berlangsung sukses. Sebagai pembedahnya Drs.Mukhlis Hamid, M.Hum yang pemerupakanndosen Bahasa Indonesia di FKIP USK, Banda Aceh. Kegiatan yang berlangsung sukses ini dilaksanakan oleh lembaga Satupena Aceh di Balee Al-Ihsan, Pango Raya Banda Aceh, Sabtu (25/6/22) sore sukses.

Acara yang dimoderatori Saiful Bahri, cerpenis dan juga teaterawan Aceh belangsung cair dan hangat, sehingga peserta hanyut dalam gelak tawa karena sang moderator mampu menghidupkan suasana di tengah cuaca dingin karena dihembus angin kencang yang disertai hujan.

Baca Juga
  • Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?
  • 🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Dalam acara perdana Satupena Aceh paska dikukuhkan kepengurusan 18 Mei 2022 lalu, dihadiri sekitar 40-an sastrawan, teaterawan dan penulis termasuk guru dan wartawan. Tetamu dijamu dengan makanan tradisional rebusan, seperti kacang tanah, pisang, ketela dan goreng pisang yang digoreng langsung di tempat acara serta disuguhkan minuman bandrek dan kopi.

Ketua Satupena Aceh, D Kemalawati mengatakan, lembaga yang dipimpinnya akan rutin  melaksanakan berbagai acara yang ringan-ringan tapi memiliki nilai dalam mengembangkan karya, kreativitas kekaryaan untuk menyemarakkan literasi di Aceh.

Baca Juga
  • Dari Karisma ke Arsitektur Sistem: Reposisi Ulama dalam Membangun Negara yang Kuat dan Bermartabat
  • Baitul Mal Salurkan Rp 3.4 Miliar lebih Zakat Konsumtif Fakir Miskin

“Mudah-mudahan Satupena Aceh bisa melaksanakan rutin acara seperti ini. Kali ini bedah buku puisi dan  ke depannya bisa jadi buku selain fiksi yang kita bedah. Sebab Satupena merupakan wadah penulis fiksi dan non fiksi. Jadi saya yakin sekali akan ada banyak buku yang bisa kita bedah nantinya .”katanya optimis.

Keinginan yang sama juga disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana, Nurdin F Joes, sehingga karya-karya penulis Aceh bisa terus terpublikasikan dengan berbagai ruang dan media yang ada di Aceh, Indonesia dan dunia luar.

Baca Juga
  • Geliat POTRET dari Medio 2017-2025
  • Memotret ‘Majalah POTRET

Sementara pembedah buku, Drs Mukhlis Hamid, M.Hum, dosen sastra Universitas Syiah Kuala mengatakan, gaya menulis Tabrani Yunis  mengalir dan tidak banyak menggunakan simbol membuat puisi-puisi tersebut menjadi puisi diafan (puisi polos), mudah dipahami, sehingga pembaca langsung larut di dalamnya. Penggunaan homologues (perulangan bentuk atau larik sejajar) dalam puisi yang terkumpul dalam himpunan puisi ini sangat membantu dalam memberikan tekanan pesan dan membentuk rima yang kuat saat dibacakan secara oral.

 

Menurut Mukhlis, pemilihan puisi ‘Kulukis Namamu di Awan’ sebagai judul antologi ini sangat tepat karena puisi ini merupakan salah satu puisi yang kuat di antara 62 puisi yang terhimpun dalam antologi ini. Cuma  Satu puisi “Menebus Rindu pada Puisi” terketik 2 kali, pada halaman 53 dan halaman 75.  

Berikut dikutip utuh puisi Kulukis Namamu Di Awan

KULUKIS NAMAMU DI AWAN

Dik

Izinkan kuukir namamu di awan biru

Kuwarnai dengan warna pelangi

Kubingkai dalam goresan raut wajahmu

Kutaburi biji-biji cinta yang pernah kauberi

Sembari kusemai dengan rindu nan menggebu

 

Dik

Izinkan aku menuliskan sebait puisi di atas awan biru

Agar semua tahu seluas apa cinta yang kumiliki

Agar semua bisa menyaksikan bukti kasihku

Itulah cinta yang tak selebar daun kelor yang hanya satu senti

 

 

Dik

Biarkan aku menabur warna kesukaanmu

Di setiap sisi bingkai yang menjadi tali cinta

Sesungguhnya cinta kita bukan hanya sebatas diksi pemuas nafsu

Sekadar memancing cinta antara kita

 

Dik

Lihatlah lukisan namamu

Terbentang di langit biru

Ya, semua orang tahu dan menikmati wajah cinta kau dan aku

Kita jadikan semua agar cinta tak berwujud bisu

 

Banda Aceh, 12 April 2019

 

Puisi lirik ini, kata Mukhlis, mengungkapkan luapan rasa si aku terhadap seseorang yang sangat istimewa dalam kehidupannya. Ia ingin seluruh dunia tahu bahwa ia memendam kerinduan, cinta kasih, dan harapan untuk bertemu kembali dengan  orang-orang tercintanya itu.

Penggunaan diksi warna pelangi, awan biru, langit birumenunjukkan tinggi, indah, dan besarnya cinta kasih dan harapan itu.

 

Hal ini dikontraskan dengan penggunaan larik /Itulah cinta yang tak selebar daun kelor yang hanya satu senti, Sesungguhnya cinta kita bukan hanya sebatas diksi pemuas nafsu, dan Kita jadikan semua agar cinta tak berwujud bisu/ pada akhir bait pertama, kedua, dan ketiga.

 

“Cinta kasih memang sebuah misteri yang tak pernah habis,” kata Mukhlis panjang lebar.

 

Di sela-sela acara yang menghangat dengan tiori, suasana dicairkan dengan pembacaan puisi. Pembaca puisi pertama, moderator langsung menodong, Amri M Ali, penulis yang juga politikus untuk membacakan puisi karya Tabrani Yunis yang ada dalam buku tersebut dan pembaca puisi lain, tampil Mahdalena (Dekna), teaterawan yang juga penyair dan membaca puisi ‘Kutulis Namamu di Awan.

 

Acara yang berlangsung hingga menjelang magrib itu, di antaranya hadir selain pengurus dan Pembina Satupena Aceh adalah, Helmi Hass, Zulfikar Sawang, Fauzi Umar, Thaib Loh Angen, Zulkifli Abdy, Qamaruzzaman Haqny, Irma Yani, Muhrain, Rianda dan lain-lain.[]

 

 

 

 

 

 

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Bedah Buku ‘Kulukis Namamu di Awan’ Satupena Aceh Sukses - 7BA1C155 AA4E 4FA2 B630 C266F8AEB104 | Aceh | Potret Online

DEMOKRASI IBARAT POMPA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com