HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

Redaksi by Redaksi
Januari 9, 2026
in Artikel, komunikasi
Reading Time: 3 mins read
0
Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Kita hidup di dunia yang semakin bising. Bukan oleh mesin atau kendaraan, melainkan oleh manusia yang berlomba-lomba bicara. Semua ingin didengar, namun sedikit yang benar-benar bersedia mendengarkan.

Baca Juga

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026

Di usia 20-an, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan broadcasting. Saat itu, menjadi seorang penyiar radio, adalah profesi yang terasa sangat keren.

Sebelum datangnya era tiktok, dulu radio menjadi pilihan setia kawula muda, dari pagi, siang, hingga larut malam, suara penyiar mampu menemani orang jatuh cinta, patah hati, bahkan menemani sopir angkot melawan kantuk. Tak heran, banyak anak muda bermimpi duduk di balik mikrofon, berbicara lantang, percaya diri, dan bisa dikagumi banyak orang dengan kemampuan publik speaking yang jago.

Saya pun ikut terpesona. Ada kekaguman pada keberanian orang-orang yang mampu berkomunikasi, berceloteh panjang lebar, dan menguasai ruang publik hanya dengan suara. Bicara, saat itu, terasa seperti kekuatan. Seolah siapa yang paling lantang, dialah yang paling berarti.

Namun pengalaman hidup pelan-pelan mulai mengajarkan hal lain. Saya mulai memahami bahwa kemampuan berbicara yang tidak diimbangi dengan kemampuan mendengar adalah sebuah cacat komunikasi. Ia bukan keahlian, melainkan ketimpangan. Sebab komunikasi sejatinya bukan monolog yang memuja ego, melainkan dialog yang menuntut kesadaran akan keberadaan orang lain.

Ada kalanya kita harus berbicara. Ada saatnya kita berhenti. Memberi jeda. Memberi ruang. Memberi waktu pada suara-suara lain yang juga ingin didengar.

Mari kita berkaca pada fenomena yang terjadi di sebuah negara, yang tentu saja bukan negara kita. Negara yang katanya didirikan atas nama suara rakyat. Demokrasi dijunjung tinggi, kebebasan berpendapat diagungkan. Namun dalam praktiknya, suara yang paling sering terdengar justru suara para petingginya.

Rakyat memang diberi hak untuk bersuara, tetapi ketika suara itu keluar, mereka harus berhadapan dengan aparat, intimidasi, bahkan kekerasan. Demokrasi perlahan bergeser menjadi paradoks: kebebasan yang diawasi, suara yang dibungkam dengan dalih ketertiban.
Kita bebas bersuara, tapi tidak benar-benar didengar.

Keputusan pun akhirnya bukan lagi hasil musyawarah atau kehendak bersama, melainkan bentuk hegemoni wacana, di mana yang lebih kuat, lebih dominan, dan lebih vokal memaksakan tafsirnya sebagai kebenaran tunggal.

Demokrasi kehilangan ruhnya dan berubah menjadi kepatuhan yang dipoles dengan narasi partisipasi.
Tentu saja, ini terjadi di negeri orang. Negeri yang jauh di sana. Bukan negeri kita—negeri yang katanya menjamin kebebasan bersuara. (Setidaknya, begitu bunyi kalimat resminya.)

Namun jika kita berkaca lebih dekat, pola serupa sering kita jumpai di lingkungan paling sederhana: di rumah, di ruang kerja, di komunitas, bahkan di lingkar pertemanan. Kemampuan mendengar adalah keterampilan mahal yang semakin langka, terutama di tengah budaya konfrontatif dan hasrat eksistensi yang terus menuntut pengakuan. Semua ingin paling vokal dan dianggap paling benar, namun semakin sedikit yang ingin paham.

Bersuara memang penting. Tetapi ketika terlalu sibuk berbicara, kita kerap lupa bahwa di sekitar kita ada suara-suara lain yang tertahan, tercekik, atau sengaja dipendam karena tak pernah diberi ruang. Ada cerita yang tak selesai karena selalu dipotong. Ada luka yang tak pernah sembuh karena tak pernah didengar.

Mungkin, sesekali, kita perlu mengubah pola itu. Diam. Duduk sejenak. Menunda keinginan untuk cepat-cepat menanggapi dan mulai membiasakan diri mendengarkan, bukan untuk membalas, bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk lebih memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Sebab dari mendengarkan, empati akan tumbuh. Dari empati, kemanusiaan bisa dijaga. Dan dari sanalah komunikasi kembali menemukan maknanya: ketika kata-kata tidak lagi dipakai untuk mendominasi, melainkan untuk lebih memahami.

POTRET Gallery

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 153x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 127x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post
Jangan Salahkan Hujan

Ketika Jeritan Korban Bencana Dianggap Berisik: Peran Akademisi sebagai Jembatan dari Desa ke Donor

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com