Artikel · Potret Online

Ketika yang Tak Viral, Tak Penting

Penulis  Redaksi
Januari 1, 2026
5 menit baca 101
Ketika yang Tak Viral, Tak Penting - IMG_9200 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiKetika yang Tak Viral, Tak Penting

Pengantar Buku Puisi Esai Ririe Aiko: Suara Kecil dari Balik Algoritma (2025)

Oleh Denny JA

Kita hidup di zaman ketika dunia bergerak lebih cepat daripada kemampuan hati manusia untuk mencerna luka.

Informasi beredar tanpa henti, namun empati sering tertinggal. Bukan karena penderitaan berkurang, melainkan karena perhatian kita habis dibagi.

Yang tidak viral dianggap tidak mendesak. Yang tidak menggelegar dianggap tidak penting.

Buku Suara Kecil dari Balik Algoritma lahir dari kegelisahan itu. Ia tidak sekadar menghimpun puisi esai, melainkan menyusun kesaksian tentang suara-suara yang kalah bersaing dengan kebisingan digital.

Itu suara anak-anak yang berbicara pelan. Suara korban yang ragu untuk bercerita. Suara luka yang tidak tahu cara menembus layar. Karena mereka tidak viral, mereka kerap luput dari perhatian.

-000-

Judul buku ini mengandung ironi yang tajam. Algoritma diciptakan untuk mengatur informasi, tetapi tanpa disadari ia juga mengatur empati.

Ia menentukan mana yang layak dilihat, mana yang pantas didengar. Dalam logika itu, penderitaan anak sering kali berada di posisi paling rentan. Ia tidak dramatis. Ia tidak sensasional. Ia hanya nyata.

Pemahaman ini sejalan dengan analisis The Age of Surveillance Capitalism karya Shoshana Zuboff, yang menunjukkan bahwa algoritma modern tidak bekerja demi kebenaran atau kemanusiaan, melainkan demi perhatian dan keuntungan.

Dalam sistem semacam ini, penderitaan yang tidak menghasilkan klik akan tersingkir secara sistemik.

Bukan karena ia tidak penting, melainkan karena ia tidak menguntungkan. Maka empati pun berubah menjadi komoditas yang hanya hidup sejauh ia bisa dimonetisasi.

Puisi-puisi dalam buku ini memperlihatkan bagaimana tragedi baru dianggap penting setelah berubah menjadi ledakan, kematian, atau tontonan viral.

Sebelum itu, jeritan hanya dicatat sebagai keluhan. Air mata dianggap fase. Luka dipandang kenakalan. Dunia orang dewasa terlalu sibuk menjaga ritme sistem, hingga lupa mendengarkan manusia di dalamnya.

-000-

Buku ini ditulis oleh Ririe Aiko, seorang penulis dan pegiat literasi yang selama ini konsisten menjadikan media sosial bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi ruang kesaksian.

Dalam Suara Kecil dari Balik Algoritma, ia menghadirkan dua belas puisi esai, seluruhnya berangkat dari peristiwa nyata yang pernah viral, lalu perlahan dilupakan.

Tema-tema yang diangkat tidak ringan. Kekerasan pada anak, perundungan, kemiskinan, kelaparan, eksploitasi, serta kegagalan institusi keluarga, sekolah, dan negara.

Namun buku ini tidak jatuh menjadi laporan dingin. Ia memilih jalan yang lebih sunyi, tetapi lebih dalam, karena justru di ruang sunyi itulah nurani manusia diuji.

-000-

Di sinilah pentingnya bentuk puisi esai. Puisi esai adalah puisi yang berakar pada realitas faktual.

Ia berpijak pada peristiwa nyata, dilengkapi catatan kaki, konteks, dan tanggung jawab moral, namun diolah dengan bahasa sastra yang menghidupkan empati.

Puisi esai tidak mengejar keindahan semata, tetapi keberanian untuk bersaksi atas peristiwa yang benar-benar terjadi.

Dalam bentuk ini, fakta tidak berdiri kaku. Ia diberi napas. Angka diberi wajah. Statistik diberi suara. Puisi esai menjadi jembatan antara data dan nurani, antara apa yang terjadi dan apa yang seharusnya kita rasakan.

Di titik inilah pemikiran Algorithms of Oppression karya Safiya Umoja Noble menjadi relevan. Noble menunjukkan bahwa algoritma tidak pernah benar-benar netral.

Ia mewarisi bias sosial, kelas, dan kekuasaan. Kelompok yang paling rentan, termasuk anak-anak korban kekerasan dan kemiskinan, sering kali menjadi yang paling tak terlihat.

Puisi esai dalam buku ini bekerja sebagai koreksi moral atas ketimpangan itu, menghadirkan kembali mereka yang disisihkan oleh mesin pencarian dan linimasa.

Buku ini menunjukkan mengapa puisi esai relevan di zaman algoritma. Karena data sering kali gagal membuat kita peduli, sementara cerita yang jujur mampu mengganggu kenyamanan batin.

Puisi esai tidak membiarkan pembaca netral. Ia memaksa kita memilih posisi moral.

-000-

Salah satu puisi paling mengguncang dalam buku ini adalah “Memoar Sunyi dari Solihul”, yang mengisahkan kematian seorang anak enam tahun akibat kekerasan di dalam rumahnya sendiri.

Yang membuat puisi ini begitu kuat bukan ledakan emosinya, melainkan kesenyapan yang mengelilinginya. Dunia tetap berjalan. Lampu lalu lintas menyala.

Orang-orang bekerja seperti biasa. Seorang anak mati perlahan tanpa disadari.

Puisi ini memiliki kedekatan gagasan dengan puisi dunia “Ballad of Birmingham” karya Dudley Randall.

Dalam puisi tersebut, seorang ibu menyuruh anaknya pergi ke gereja agar aman dari kekerasan jalanan, namun justru di sanalah sang anak tewas akibat bom rasial.

Keduanya berbicara tentang ironi perlindungan, tentang tempat yang seharusnya aman tetapi justru mematikan, dan tentang penyesalan yang datang terlambat.

Kesamaan paling mendalam dari kedua puisi ini adalah keberanian menyingkap kegagalan kolektif.

Bukan sekadar menyalahkan pelaku, tetapi mempertanyakan sistem nilai yang membiarkan tragedi terjadi. Puisi semacam ini penting karena ia tidak membiarkan sejarah berlalu sebagai angka.

Ia mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa, ada kehidupan yang seharusnya bisa diselamatkan.

-000-

Pada akhirnya, Suara Kecil dari Balik Algoritma bukan hanya buku tentang anak-anak yang menjadi korban. Ia adalah cermin bagi kita semua.

Tentang bagaimana kita hidup di tengah kemudahan teknologi, tetapi sering gagal hadir secara manusiawi.

Tentang bagaimana empati berubah menjadi reaksi sesaat, lalu lenyap bersama guliran layar.

Hikmah paling penting dari buku ini sederhana sekaligus menyakitkan. Anak-anak tidak pernah gagal pada dunia.

Dunialah yang berulang kali gagal pada anak-anaknya. Dan kegagalan itu akan terus berulang selama kita lebih takut pada keheningan daripada pada luka yang tersembunyi.

Buku ini tidak meminta kita menangis lebih keras. Ia meminta kita mendengar lebih awal.

Dalam tiap puisi, rujukan faktual tak berhenti sebagai latar, tetapi diaktifkan sebagai ajakan bertindak: mengingat nama, menelusuri kasus, dan mempertanyakan peran kita dalam rantai pembiaran.

Karena sering kali, tragedi terbesar bukan pada saat ledakan terjadi, melainkan pada saat suara kecil itu pertama kali diabaikan.

Jakarta, 27 Desember 2025

REFERENSI

1.  The Age of Surveillance Capitalism

Penulis: Shoshana Zuboff
Penerbit: PublicAffairs
Tahun Terbit: 2019

2.  Algorithms of Oppression

Penulis: Safiya Umoja Noble
Penerbit: New York University Press
Tahun Terbit: 2018

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...