Dengarkan Artikel
Oleh: Isya Fakriani Kelas X APAT SMK Negeri 1 Jeunib, Bureun, Aceh
Banjir lumpur bukan sekadar bencana alam yang datang tanpa sebab. Di balik derasnya air bercampur lumpur yang merusak rumah, sawah, dan jalan, tersimpan pesan kehidupan yang patut direnungkan bersama. Salah satu pesan terpenting adalah tentang kelalaian manusia dalam bersyukur atas nikmat alam yang telah Allah titipkan. Ketika rasa syukur memudar, keserakahan sering kali mengambil alih, dan alam pun kehilangan keseimbangannya.
Allah telah menganugerahkan bumi dengan hutan yang hijau, sungai yang mengalir jernih, serta tanah yang subur. Semua itu seharusnya dijaga sebagai amanah. Namun, demi kepentingan sesaat, manusia kerap menebang hutan secara liar, menutup daerah resapan air, membuang sampah sembarangan, dan mengeksploitasi alam tanpa kendali. Perilaku tersebut mencerminkan kelalaian dalam bersyukur, karena nikmat alam tidak lagi dijaga, melainkan dirusak.
Banjir lumpur yang terjadi di berbagai daerah menjadi bukti nyata akibat ulah manusia sendiri. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap dengan baik karena hutan gundul dan tanah rusak. Akibatnya, air meluap membawa lumpur, menenggelamkan permukiman, merusak fasilitas umum, bahkan merenggut mata pencaharian masyarakat. Pada saat itulah manusia sering mengeluh dan menyalahkan keadaan, padahal akar masalahnya adalah kelalaian kita sendiri.
Dalam perspektif religi, bencana dapat menjadi teguran dari Allah agar manusia kembali sadar dan bersyukur. Al-Qur’an mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, nikmat akan ditambah, tetapi jika kufur, azab Allah sangatlah pedih. Banjir lumpur seharusnya menjadi cermin untuk introspeksi diri, bukan sekadar peristiwa yang disesali tanpa perubahan sikap.
📚 Artikel Terkait
Rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga lingkungan, mengelola sampah dengan baik, menanam pohon, serta menggunakan sumber daya alam secara bijak adalah bentuk syukur yang sesungguhnya. Selain itu, kepedulian sosial juga penting, seperti saling membantu korban bencana dan bergotong royong memulihkan lingkungan.
Akhirnya, banjir lumpur mengajarkan bahwa alam memiliki batas kesabaran. Ketika manusia lalai bersyukur dan terus merusak, alam akan “berbicara” dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, marilah kita kembali menumbuhkan rasa syukur, menjaga alam sebagai amanah, dan menjadikannya warisan yang lestari bagi generasi mendatang. Jika tidak, bencana serupa akan terus berulang, menjadi pengingat pahit atas kelalaian manusia sendiri.
Penulis: Taruni SMKN 1 JEUNIEB
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






