POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membaca Tragedi Sumatera Lewat Lensa Analisis AI

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
December 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Sejak bangku sekolah dasar, kita sudah diajarkan tentang reboisasi dan pentingnya menanam kembali hutan yang gundul. Tetapi pelajaran itu seakan hanya menjadi hafalan wajib untuk ujian sekolah yang tak mampu mengubah kebijakan yang justru membiarkan deforestasi dinormalisasi.

Bencana besar di Sumatera yang menelan ratusan jiwa dan memusnahkan permukiman membuat saya tertarik untuk meminjam sudut pandang AI—sebuah sistem tanpa empati, tanpa kepentingan politik, dan tanpa hubungan dengan konsesi atau keuntungan siapa pun. Karena itulah, apa yang ia tampilkan terasa telanjang. Namun justru melalui ketelanjangan data itulah, kita yang awam terhadap dinamika alam dapat melihat lebih jelas bahwa apa yang terjadi saat ini tidak bisa dianggap sebagai bencana alam murni.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada AI: mengapa banjir dahsyat di Sumatera bisa terjadi? Dalam hitungan menit, AI menampilkan data historis dan citra satelit yang menunjukkan jejak deforestasi yang terus merambat. Dari tahun 2001–2024, lebih dari 4,4 juta hektare hutan hilang di Sumatra.

Di banyak provinsi seperti Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, tutupan hutan yang dulu menjadi penyangga alam kini tinggal sebagian kecil. Tanah kehilangan daya serap, sungai kehilangan vegetasi penahan, dan wilayah hulu kehilangan fungsi utamanya. Ketika curah hujan ekstrem datang, ramuan bahaya itu meledak: air meluap, pemukiman tenggelam, korban berjatuhan. Tidak ada variabel mistis, hanya sebab-akibat yang terlalu jelas.

Dari sana AI menyimpulkan bahwa bencana ini bukan sekadar masalah cuaca, tetapi akumulasi keputusan manusia selama puluhan tahun: pembukaan lahan, izin konsesi, dan pengabaian fungsi ekologis.

📚 Artikel Terkait

Warga Banda Aceh Lansia dan Sakit Bisa Perekaman KTP di Rumah

Majelis Wilayah Lantik Pengurus Forhati Se-Aceh

Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Lalu saya mengajukan pertanyaan kedua pada AI: mengapa pemerintah memberi izin padahal dampaknya jelas? AI tidak memahami politik, tetapi ia melihat adanya pola kepentingan yang berulang, dorongan ekonomi, kepentingan korporasi, tumpang-tindih perizinan, lemahnya pengawasan, hingga adanya faktor korupsi. Setiap hektare hutan yang hilang selalu memiliki dokumen legal. Bagi mesin, hal ini tampak kontradiktif: bagaimana sesuatu yang merusak daya dukung lingkungan bisa terus diberi jalan legal?

Ketika pemerintah menghitung pemasukan, alam membayar kerusakan yang lebih mahal: tanah rusak, keanekaragaman hayati hilang, risiko banjir dan longsor meningkat. Akibatnya, masyarakatlah yang paling menderita, kehilangan rumah, penghidupan, bahkan nyawa.

Dan pertanyaan terakhir yang saya ajukan: mengapa bencana sebesar ini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional? Dengan korban lebih dari 750 jiwa, bukankah itu sudah memenuhi kriteria? Penetapan bencana nasional bukanlah keputusan teknis; itu keputusan politis. AI tidak memahami lobi kekuasaan atau perhitungan elektoral, tetapi ia bisa membaca ketidakkonsistenan. Ketika bencana lain yang skalanya setara pernah ditetapkan sebagai bencana nasional, sementara yang ini tidak, mesin hanya menandai adanya faktor non-teknis. AI hanya menyodorkan data dan kesenjangan logika.

Ironinya, bahkan mesin yang tidak punya empati bisa melihat ketidakseimbangan antara skala tragedi dan respons negara. AI tahu lebih dari 750 jiwa bukan sekadar angka statistik. Tetapi di dunia manusia, hal sederhana bisa berubah menjadi perdebatan panjang, mengaburkan fakta bahwa ada keteledoran dalam keputusan. AI sebuah mesin kecerdasan yang hanya menunjukkan satu hal: data memang tidak berbohong, tapi yang sering berbelok justru keputusan manusianya.

Pada akhirnya refleksi ini menunjukkan kenyataan getir: ketika AI bisa membaca bahwa bencana ini lahir dari ulah manusia dan secara logis layak menjadi bencana nasional, manusia yang punya nurani, justru terjebak dalam kesulitan mengakui kesalahan dan mengambil keputusan dengan bijak. Mesin tidak punya empati, tetapi ironinya, manusia yang memilikinya justru membuat keputusan yang tak mencerminkan nurani.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami

Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00