• Latest
Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy - 027a22e7 0a05 4b3b 99ec 12a1d9ae313e | Analisis | Potret Online

Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy

Juli 13, 2024

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Analisis | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy

Redaksi by Redaksi
Juli 13, 2024
in Analisis, Beban Utang, Diskusi Publik, Ekonomi, Kabinet Prabowo, Utang Indonesia
Reading Time: 5 mins read
0
Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy - 027a22e7 0a05 4b3b 99ec 12a1d9ae313e | Analisis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Jakarta- Potretonline.com- Universitas Paramadina, Kamis 11 Juli 2024 mengadakan diskusi publik yang mengangkat tema “ Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Besar”.’Diskusi tersebut berlangsung di ruang Granada, Kampus Gatsu, Universitas Paramadina secara hybrid melalui Zoom meeting. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Alia Ramatulummah, mahasiswa Universitas Paramadina dengan menghadirkan 3 pembicara, masing-masing Wijayanto Samirin,MPP, adalah ekonom Universitas Paramadina,

Dr. Handi Risza, M.Econ (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Paramadina) dan Esther Sri Astuti, Ph.D (Direktur Eksekutif Indef/Pengajar Universitas Diponegoro)

Dalam pengantar kegiatan tersebut Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini menyampakan bahwa “ Market politik untuk menentukan utang sangat serampangan dan berbahaya, bukan apple to apple dengan pembiayaan yang sangat jauh berbeda. Indonesia tidak memiliki kapasitas mesin ekspor yang besar”.

Baca Juga
  • Hidup Cuma Sekali. Nikmatilah!
  • PENGESAHAN PERPPU CIPTA KERJA MENJADI UU SEBAGAI PELECEHAN HUKUM SECARA KOLOSAL

“Pada 2024 utang SBY 2600 Ttriliun, kemudian utang periode sekarang 8.300 T/  Yang patut menjadi pertanyaan adalah atas dasar apa utang bisa naik sedemikian tinggi? Rupanya, dasarnya berdasar pada defisit APBN, sehingga kemudian dihitung-hitung menjadi dasar dari menaikkan anggaran utang satu atau dua persen dengan tanpa evidence” tegas Didik.

Selain itu ada 3 triliun untuk nikel, 80% devisa habis untuk bayar utang investasi pabrik nikel di indonesia. Bunga utang menguras anggaran publik, dengan yield tinggi dan dinikmati oleh investor golongan atas. “UU APBN diotoritas oleh ibu Sri Mulyani dan tidak memiliki legitimasi dalam membuat APBN yang baik. Check and balances tidak ada, di mana melupakan syarat dari dalam melakukan berbagai hal” paparnya.

Baca Juga
  • Perlukah Kami Memperingati 25 Tahun Reformasi?
  • Dunia Islam Di Tengah Disrupsi Kapitalisme Global

Korupsi yang meluas karena politik dianggap mahal, hingga pandemi Covid dijadikan sebagai alasan. “Pada 2019, perencanaan sebelum ada covid 19, utang SBN dianggarkan 650 T, tapi karena ada pandemi covid 19 dibuat menjadi 1541 T. Padhal 2/3 pemerintahan tidak bisa berjalan karena wabah. Jadi ‘’pesta’’ paling besar dari birokrasi justru di era covid 19.  Bahkan Presiden paling sial menurut Faisal Basri adalah Jokowi” pungkasnya.

“Pada masa pemerintahan Pak Jokowi sangat solid, sedangkan Pak Jokowi mewarisi kepada Pak Prabowo pemerintahan di masa yang sulit” kata Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.

Baca Juga
  • LOGIKA TERBALIK
  • Ahlan Wa Sahlan Perubahan

Hal ini diperparah dengan ekonomi yang sangat sulit. “Ada empat krisis yang akan dihadapi yaitu krisis fiskal, krisis industri, krisis lapangan kerja dan krisis rupiah. Hal ini merupakan hal yang paling krusial, tetapi sering diabaikan” tuturnya.

Data dari Oxford University mencatat mengenai jumlah menteri di tiap negara. Efective governance ada kaitannya dengan jumlah menteri yang dimiliki tiap negara. Makin banyaknya menteri, makin tidak efektif pemerintahan tersebut. Indonesia menempati 10% terbanyak jumlah menteri dalam pemerintahan.

Dalam orde reformasi ada 15 tersangka korupsi, sebanyak 11 dari 15 tersangka merupakan menteri berlatar belakang partai politik. Wijayanto Samirin membaginya menjadi tiga analisis 1) biaya politik mahal, 2) penugasan dari partai untuk mencari dana, 3) karakter politisi lebih risk-taker.

Ia mengusulkan Menko untuk mengurusi urusan tertentu dan memiliki pekerjaan rutin yang memiliki tupoksi di bawahnya. “Usulan nomenklatur kabinet yang inti adalah urusan manusia; urusan kawasan dan infrastruktur; urusan ekonomi; serta urusan hukum dan politik” papar Wijayanto.

Adapun rekomendasi yang disampaikan oleh Wijayanto Samirin yaitu Kabinet diisi oleh sosok yang memiliki kredibilitas dan integritas, guna meminimalisir unsur nepotisme dalam pemilihan menteri, menggunakan pola semi matrix dengan menggantikan pendekatan sektoral yang menimbulkan silo dan koordinasi yang buruk, meminimal perubahan jumlah kementerian yang drastis. Idealnya 30-34 menteri dengan orientasi pada efektivitas dan efisiensi. Unsur partai dan non-partai, tidak terlalu berpengaruh, tetapi perlu diantisipasi fakta bahwa sosok partai lebih rentan terlibat dalam korupsi, serta pembentukan badan penerimaan negara, perlu dilakukan secara terencana dan hati-hati.  Idealnya direalisasikan pada pertengahan masa jabatan.

Direktur Eksekutif Indef/Pengajar Universitas Diponegoro, Esther Sri Astuti mengungkapkan persoalan dalam negeri perekomian Indonesia terletak pada fundamental ekonomi yang masih lemah. “Makanya daya tahan terhadap guncangan yang terjadi sebagai dampak dari tekanan global tidak kuat. Oleh karena itu menyalahkan tekanan global sebagai penyebab lemahnya perekonomian domestik” tuturnya.

Berdasarkan analisisnya, perlambatan perdagangan dunia turut membuat turun selisih antara ekspor dengan impor atau neraca perdagangan. Pada kuartal 1-2023, Indonesia mengalami surplus perdagangan sejumlah 14 miliar USD. Sedangkan pada kuartal pertama tahun 2024, surplus tersebut menurun jadi 9,8 miliar USD. Sementara harga komoditas ekspor utama Indonesia mulai menurun di pasar global.

“Tren utang Indonesia terus meningkat, bukan hanya dalam USD, tapi juga dalam Rupiah yang dapat dilihat dari SBN. Sehingga membuat ketergantungan terhadap USD sebagai alat pembayaran semakin meningkat. Hal tersebut tidak diimbangi oleh generate income dalam bentuk USD, karena kapasitas ekspor terus mengalami penurunan” kata Esther.

Esther memandang program makan siang gratis malah akan mendorong impor lebih tinggi. Melihat kondisi fiskal Indonesia sedang tidak baik-baik saja, karena dari tahun ke tahun ratio utang punya tren meningkat, sementara income negara meturun sehingga membuat defisit fiskal melebar.

“Keberlanjutan fiskal berkelanjutan harus dibatasi, dengan stabilitas harga, PPN naik, BBM naik akan menggerus daya beli masyarakat. Kemudian stabilitas nilai tukar harus diperhatikan dengan mengembangkan pariwisata, daya beli masyarakat harus di jaga agar tidak terjadi caos” pungkasnya.

Ratio utang terhadap PDB yang mencapai sekira 40%, jelas akan membawa persoalan sendiri bagi Presiden terpilih Prabowo. “Hal itu akan menyebabkan efektivitas jalannya pemerintahan ke depan menjadi sangat riskan” papar Direktur Eksekutif Indef/Pengajar Universitas Diponegoro itu.

“Semakin ‘gemoy’ kabinet, maka akan semakin besar belanja rutinnya. Hendaknya kabinet dibuat seramping mungkin agar efektif. Walaupun koalisi partainya besar, tapi kabinet cukup rasional dan ramping saja” tegas Esther.

Handi Risza Idris, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Paramadina melihat kondisi geopolitik global yang tidak berkesudahan, konflik Timur Tengah, dan memberikan dampak yang luar biasa kepada ekonomi global. Seluruh negara lumpuh aktivitas ekonominya selama kurang lebih 2 tahun, ketika sudah mulai luluh dihadang dengan konflik geopolitik yang menyebabkan dampak dari ketidakpastian

Di mana pertumbuhan ekonomi stagnan, memberikan efek hambatan yang kuat terhadap ekonomi global. “Ternyata kita punya sensitivitas yang kuat terhadap harga komoditas, yang mana penerimaan pajak mengalami perlambatan dengan capaian 44,5% terhadap APBN, penurunan pajak terutama disebabkan PPh Badan akibat moderasi harga komoditas dan posisi utang penetintah meningkat mencapai angka 8.338,43 triliun pada April 2024” tuturnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan Handi, terjadi peningkatan angka kemiskinan dari tahun 2019 sebesar 25,14 juta menjadi 25,9 jura pada tahun 2023, kemudian tingkat pengangguran juga menungkat dari 6,82 juta tahun 2019 menjadi 7,2 juta tahun 2024.

Ada kompromi politik koalisi besar Revisi Undang-Undang Kementerian Negara mengubah jumlah keseluruhan 34 kementerian menjadi disesuaikan dengan kebutuhan Presiden. Di mana partai pendukung Pemerintah diperkirakan sekitar 12-13 partai politik, gabungan antara partai parlemen dan non-parlemen.

“Presiden terpilih diyakini akan mengakomodir semua partai pendukung mendapat jatah Menteri di Kabinet. Kekuatan partai penyeimbang di luar kabinet akan makin kecil, sehingga terganggunya proses demokrasi chek and balance” kata Handi.

Handi menganggap zaken kabinet merupakan konsep yang paling efektif dan efisien. Di mana konsep zaken kabinet melahirkan zona ekonomi eksklusif, maka dibutuhkan kabinet yang memiliki keahlian dan kecakapan. Konsep kabinet zaken bukan hal baru dalam dunia politik di Indonesia. Kabinet zaken yang muncul pada awal 1955 merupakan kabinet ekstra parlementer yang dibentuk berdasarkan keahlian atau kecakapan dari menteri yang ditunjuk.

“Pemerintahan baru nanti punya beban yang berat untuk mengembalikan kepercayaan publik agar mampu bekerja secara efektif dan efisien. Presiden baru tidak boleh lagi dibebani dengan permasalahan moral hazard yang dimiliki para menterinya. Kabinet baru nanti harus mencerminkan profesionalitas dan dedikasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan bangsa” tegas Handi.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy - ad139194 6ed7 4e6f a893 a4801c703a64 | Analisis | Potret Online

PERTUNJUKAN TEATER DAN PAMERAN FOTO DIGELAR DI ISI PADANGPANJANG

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com