• Latest
Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi - IMG_0082 | #Perang | Potret Online

Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi

Maret 1, 2026

Agama yang Meninabobokan atau Menggerakkan? Dari Mimbar ke Realitas, Mencari Kembali Ruh Peradaban

April 16, 2026
Mahasiswa menunda tugas sambil bermain ponsel di depan laptop

Mengapa Kita Menunda Tugas Penting? Memahami Academic Self-Handicapping

April 16, 2026
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Bertanya Soal Kartu Aceh Carong

April 16, 2026
Ilustrasi remaja menggunakan TikTok dengan ekspresi reflektif, menggambarkan pencarian informasi kesehatan mental di media sosial.

Ketika TikTok Menjadi “Psikolog”: Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Gen Z

April 16, 2026
Ilustrasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah dengan latar peta dan simbol energi global

Konflik Amerika Serikat–Iran 2026: Sejarah Panjang dan Kebuntuan Diplomasi

April 16, 2026
Ilustrasi kecemasan orang dewasa yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil

Kecemasan Tanpa Sebab? Bisa Jadi Berasal dari Luka Masa Kecil

April 16, 2026
e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a

Proses (yang) Kreatif

April 16, 2026
4add8591-3107-4510-963e-05d84dc12c4e

Politik, Tradisi Intelektual, dan Krisis Arah Kepemimpinan

April 15, 2026
Kamis, April 16, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Maret 1, 2026
in #Perang, Amerika, Analisis, Iran, Israel
Reading Time: 3 mins read
0
Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi - IMG_0082 | #Perang | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
(Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh)

LHOKSEUMAWE – Dunia hari ini tidak sedang menunggu ledakan besar untuk menandai dimulainya Perang Dunia III. Jika kita jujur membaca data lapangan sejak 2014, perang itu sebenarnya sudah berlangsung. Dimulai dari palagan Suriah, melintasi gurun Afghanistan, hingga memuncak di genosida Gaza dan konflik Sudan, kita sedang menyaksikan sebuah Perang Dunia III yang Terfragmentasi.
Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di tengah bara konflik Iran-Israel-AS, bukanlah titik akhir. Ia adalah akselerator bagi benturan kekuatan darat dan laut yang akan mendefinisikan ulang peta dunia.

  1. Pertarungan “Land Power” vs “Sea Power”
    Secara geopolitik klasik, konflik ini adalah manifestasi modern dari teori Halford Mackinder dan Alfred Thayer Mahan. Iran sebagai Land Power: Teheran sedang berupaya menguasai Rimland Timur Tengah melalui kedalaman strategis darat, membangun koridor pengaruh dari Teheran hingga Mediterania. AS-Israel sebagai Sea Power: Kekuatan ini mengandalkan kontrol atas jalur laut (sea lines of communication) dan teknologi untuk membendung ekspansi darat Iran. Wafatnya Khamenei tidak akan mengubah doktrin ini. Iran telah bertransformasi menjadi entitas yang tidak lagi bergantung pada satu figur, melainkan pada infrastruktur ideologis-militer yang sangat cair dan terdesentralisasi.
  2. Geopolitik Energi dan “Chokepoints” Global
    Timur Tengah bukan sekadar soal ideologi; ia adalah jantung energi dunia. Konflik Iran-Israel adalah pertarungan memperebutkan kendali atas tiga titik sempit (chokepoints) yang menentukan nasib ekonomi global:
  3. Selat Hormuz: Jalur 20% minyak dunia.
  4. Bab el-Mandeb & Laut Merah: Jalur vital menuju Terusan Suez.
  5. Mediterania Timur: Arena baru cadangan gas besar.

Bagi Iran, mengancam titik-titik ini adalah “senjata orang lemah” (weapons of the weak) yang sangat efektif untuk menekan hegemoni Barat.

Unsur Geopolitik Posisi Iran Posisi AS – Israel
Kekuatan Utama Kedalaman Teritorial (Darat) Mobilitas & Teknologi (Laut)
Tujuan Strategis Memutus Unipolaritas AS Menjaga Tatanan Pro-Barat
Instrumen Jaringan Milisi (Proksi) Aliansi Regional & Intelijen

  1. Fenomena “Negara Paranoid”
    Dalam tesis yang sedang saya kembangkan, kita melihat kemunculan “Negara Paranoid”. Di satu sisi, AS dan Israel merasa terancam oleh setiap gerak lokalitas yang menolak tunduk pada standarisasi global. Di sisi lain, negara-negara seperti Iran membangun pertahanan di atas rasa curiga yang permanen terhadap intervensi asing.
    Wafatnya Khamenei akan mempertebal paranoia ini. Iran mungkin akan menjadi lebih tertutup dan agresif dalam menjaga warisan revolusinya, sementara Israel akan berusaha memanfaatkan masa transisi ini untuk menghancurkan fasilitas militer Iran. Ini adalah resep sempurna bagi eskalasi yang tak terkendali.
  2. Respons Lokal: Antara Solidaritas dan Realitas
    Di Indonesia, khususnya di Aceh yang memiliki memori kolektif perlawanan yang panjang, isu ini akan direspon melalui “Ekonomi Moral” dan “Ritualisasi Solidaritas”. Gerakan boikot dan doa Qunut Nazilah bukan sekadar ekspresi keagamaan, melainkan pernyataan politik bahwa lokalitas menolak menjadi penonton dalam perang global ini.
    Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, menghadapi dilema besar. Bergabung dalam forum-forum keamanan Barat seperti Board of Peace bisa dianggap sebagai “blunder” oleh masyarakat bawah jika tidak dibarengi dengan keberpihakan yang jelas terhadap nasib umat Muslim di Timur Tengah.

Masyarakat Aceh, melalui “Parlemen Warung Kopi”, akan terus membedah setiap gerak di Timur Tengah. Kita harus menyadari bahwa konflik Iran-Israel bukan sekadar berita luar negeri. Ia adalah bagian dari narasi besar Globalisasi vs Lokalitas.
Wafatnya Khamenei adalah tanda bahwa tatanan dunia lama sedang runtuh. Apakah kita akan menjadi korban dari “Negara Paranoid” global, atau kita mampu memperkuat ketahanan identitas kultural-ideologis kita sendiri? Jawabannya ada pada seberapa mampu kita membaca tanda-tanda zaman yang kian memanas ini. []

Share234SendTweet146Share
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Next Post
Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi - 9c39d99d 2f99 4f96 82b4 1d56f6b2b7a4 | #Perang | Potret Online

Mengajarkan Anak Berpuasa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com