POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jeddah, Di Sini Mimpi Itu Dikubur

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
October 12, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya memang sengaja tak nonton tadi malam. Takut kalah. Eh, akhirnya kalah dan gagal total. Mimpi ke Piala Dunia akhirnya terkubur di Jeddah. Mari kita ungkap tragedi memilukan ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Malam itu, 12 Oktober 2025, langit Jeddah seolah ikut berduka. Angin gurun berhembus pelan, seperti sedang mengusap bahu bangsa yang baru kehilangan mimpinya. Di King Abdullah Sports City, stadion megah yang biasanya jadi panggung keajaiban, Timnas tersungkur dalam sunyi. Satu gol dari Zidane Iqbal di menit ke-75 menjadi epitaf atas perjuangan panjang, menjadi pisau kecil yang menusuk dada 280 juta jiwa yang menatap layar dengan dada bergetar, berharap keajaiban yang tak pernah datang.

Indonesia kalah 0-1 dari Irak. Sebelumnya, 2-3 dari Arab Saudi. Dua kekalahan, dua luka yang menutup semua pintu ke Piala Dunia 2026. Tak ada lagi hitung-hitungan peluang. Tak ada lagi skenario ajaib. Yang tersisa hanya hening. Di klasemen Grup B, Indonesia terbaring di dasar, tanpa poin, tanpa asa, tanpa puisi kemenangan.

Padahal malam itu, Garuda bermain seolah melawan takdir. Mereka menguasai bola 55 persen, menari di tengah padang pasir Jeddah dengan elegan, mencoba menulis ulang sejarah. Enam kartu kuning jatuh ke tangan kita, Rizky Ridho, Miliano Jonathans, Ole Romeny, Mauro Zijlstra, Ricky Kambuaya, dan Calvin Verdonk, bukan karena kasar, tapi karena terlalu bernafsu mempertahankan harapan. Setiap tekel adalah doa, setiap benturan adalah perlawanan terhadap nasib yang sudah digariskan. Tapi bola, seperti hidup, hanya mencintai mereka yang lebih tenang. Dan malam itu, ketenangan berpihak pada Irak.

Patrick Kluivert, pelatih yang datang membawa nama besar dan harapan baru, berdiri di tepi lapangan dengan mata kosong. Ia seperti sedang memandangi reruntuhan mimpi yang dibangunnya dengan bahasa yang tak dimengerti tanah ini. Di ruang ganti, katanya suasana hening, hanya isak pelan yang terdengar. “Mereka sudah berjuang,” ujar Kluivert lirih. Tapi di dunia sepak bola, perjuangan tanpa kemenangan hanyalah cerita yang tak akan dikenang lama.

Nama Shin Tae Yong kembali menggema di antara desah kecewa. Orang-orang yang dulu menghujatnya kini merindukan tangan kerasnya. Begitulah bangsa ini. Baru mengerti nilai seorang pelatih setelah kehilangan arah. Kluivert mungkin datang dengan filosofi Eropa, tapi ia lupa bahwa di negeri ini, sepak bola bukan sekadar taktik, ia adalah doa, air mata, dan pengharapan.

📚 Artikel Terkait

Elegi Perut Bumi

Bunda Siapa Meminta – Minta?

Nyanyian Gerimis

Adakah Perempuan Sejati?

Analis mencoba menenangkan luka dengan angka. Mohamad Kusnaeni berkata, “Timnas main bagus kali ini. Lebih baik dari melawan Arab Saudi.” Statistik menulis, penguasaan bola 55%, peluang setara. Bola.net menyebutnya “pil pahit yang harus ditelan.” Tapi bagaimana menelan pil pahit ketika tenggorokan bangsa ini sudah penuh dengan kekecewaan bertahun-tahun?

Di tribun, beberapa suporter tak sanggup beranjak. Seorang anak kecil, mengenakan jersey merah bertuliskan “Garuda di Dadaku”, menangis di pelukan ayahnya. Ia belum mengerti arti tersingkir, tapi ia tahu arti kehilangan. Di tanah air, ribuan orang menatap layar kosong setelah peluit panjang berbunyi. Tak ada suara. Hanya detak jantung yang pelan, seperti ikut berhenti.

Kita kalah. Bukan hanya dari Irak atau Arab Saudi, tapi dari nasib yang belum mau berpihak. Namun di balik semua air mata itu, ada cinta yang tak bisa mati. Karena bangsa ini, entah mengapa, selalu menemukan alasan untuk percaya lagi.

Jeddah, malam itu, bukan sekadar kota di Arab Saudi. Ia berubah menjadi makam tempat dikuburnya mimpi Piala Dunia yang terlalu indah untuk jadi nyata. Di atas makam itu, Garuda berdiri dengan sayap patah, menatap langit yang sama, karena di langit yang sama pula, harapan suatu hari mungkin akan hidup kembali.

Tiba-tiba ingat petugas SPBU, “Dari nol ya, Pak!”

Foto Ai, hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Senja Kala Hujan Turun

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00