Rabu, April 22, 2026

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691
Ilustrasi: Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

Oleh Novita Sari Yahya

Saya membaca kisah seorang putri yang bahkan sebelum ia cukup umur untuk memilih menu makan siangnya sendiri, sudah dipersiapkan untuk memilih arah sejarah bangsanya. Ia tidak sekadar belajar, ia ditempa. Tidak sekadar membaca buku, ia membaca dunia. Tidak sekadar berdiri di podium, ia dilatih agar kata-katanya yang tidak sekedar menjadi hiasan, melainkan keputusan.

Di titik itu, saya berhenti sejenak. Bukan karena kagum semata, tetapi karena muncul pertanyaan yang agak mengganggu: apakah pendidikan seperti itu hanya milik mereka yang lahir dengan mahkota, atau sebenarnya dan seharusnya menjadi milik siapa saja, termasuk perempuan Indonesia?

Kita ini bangsa yang gemar merayakan simbol. Kita punya hari-hari besar yang dipenuhi kebaya, pidato, dan foto-foto penuh senyum. Namun, sering kali kita lupa bahwa sejarah tidak pernah berubah hanya karena pakaian seragam dikenakan serentak. Ia berubah karena keberanian berpikir, ketegasan bertindak, dan ketahanan ditempa.

Maka ketika saya menggagas platform seperti Miss Nusantara Archipelago, Miss Hijab Heritage International, dan Miss Zamrud Khatulistiwa, saya tidak sedang merancang panggung kecantikan. Saya sedang, dengan segala keterbatasan dan mungkin sedikit kenekatan, mencoba menciptakan ruang pendidikan alternatif. Ruang di mana perempuan tidak hanya dinilai dari cara berjalan, tetapi dari cara berpikir. Tidak hanya dari cara berbicara, tetapi dari isi yang dibicarakan.

Namun, tentu saja, pertanyaan klasik langsung datang seperti tamu yang tidak diundang tetapi selalu hadir: apakah ini sekadar retorika?

Saya memahami keraguan itu. Di negeri ini, retorika sering kali lebih subur daripada padi. Kata-kata tumbuh di mana-mana, tetapi tidak semuanya bisa dimakan. Banyak program lahir dengan slogan besar, tetapi mati sebelum sempat menjadi kebijakan. Banyak gagasan terdengar heroik, tetapi ternyata hanya cukup kuat untuk bertahan di media sosial.

Di situlah saya merasa perlu jujur, setidaknya kepada diri sendiri: jika ini hanya tentang mahkota, maka ia tidak lebih dari hiburan. Tetapi jika ini tentang kepemimpinan, maka ia harus berani menjadi tidak populer.

Mari kita lihat dengan jernih. Perempuan Indonesia hari ini tidak kekurangan panggung. Mereka ada di televisi, di parlemen, di perusahaan, bahkan di jalanan sebagai penggerak ekonomi keluarga. Tetapi apakah mereka mendapatkan pendidikan kepemimpinan yang sistematis? Itu pertanyaan yang jawabannya sering kali kita hindari.

Kita masih percaya bahwa kepemimpinan itu bakat. Bahwa seseorang “terlahir” sebagai pemimpin. Padahal, jika kita mau sedikit jujur, sebagian besar pemimpin itu dibentuk oleh sistem, oleh pengalaman, dan oleh disiplin

Di sinilah saya melihat relevansi model pendidikan yang terstruktur, ketat, dan lintas disiplin. Bukan untuk meniru, apalagi mengimpor mentah-mentah, tetapi untuk menyadari bahwa kepemimpinan tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari latihan yang panjang, sering kali membosankan, dan kadang menyakitkan.

Bayangkan jika perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang mendapatkan akses pada pelatihan kepemimpinan yang serius. Mereka belajar ekonomi bukan sekadar teori, tetapi praktik. Mereka memahami geopolitik bukan sebagai istilah asing, tetapi sebagai realitas yang memengaruhi harga beras. Mereka dilatih berbicara bukan untuk memenangkan lomba, tetapi untuk memengaruhi kebijakan.

Dan ya, mungkin mereka juga dilatih disiplin. Sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit dipraktikkan.

Namun, saya juga tidak naif. Indonesia bukan kerajaan. Kita tidak sedang menyiapkan ratu, kita sedang berjuang membentuk warga negara yang berdaulat. Maka pendekatan kita harus berbeda. Lebih inklusif, lebih adaptif, dan ini penting harus lebih membumi.

Platform yang saya gagas bukanlah solusi tunggal. Ia hanyalah pintu kecil di antara tembok besar persoalan. Kita masih menghadapi ketimpangan pendidikan, kekerasan berbasis gender, akses ekonomi yang terbatas, dan budaya yang kadang lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Di tengah semua itu, membicarakan pelatihan kepemimpinan perempuan bisa terdengar seperti kemewahan. Seolah-olah kita sedang membahas dekorasi rumah, padahal fondasinya belum selesai.

Tetapi justru di situlah letak ironi yang ingin saya soroti. Kita sering menunda hal-hal strategis karena sibuk dengan hal-hal yang mendesak. Kita memadamkan api, tetapi lupa membangun sistem agar kebakaran tidak terulang. Kita membantu hari ini, tetapi tidak mempersiapkan esok.

Maka, apakah gagasan ini retorika? Bisa saja, jika kita berhenti di konsep. Tetapi ia menjadi substansi jika kita berani melangkah lebih jauh: menyusun kurikulum, membangun jaringan mentor, menciptakan standar, danyang paling penting adalah menjaga konsistensi.

Saya percaya bahwa perempuan Indonesia tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil dan sistem yang mendukung. Mereka tidak perlu dipuji karena kuat, mereka perlu didukung agar tidak harus selalu kuat sendirian.

Dalam konteks itulah, pendidikan kepemimpinan menjadi penting. Bukan untuk menciptakan elit baru, tetapi untuk memperluas akses terhadap kemampuan memimpin. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Ia hanya kekurangan orang yang siap memikul tanggung jawab dengan integritas.

Satire terbesar kita hari ini mungkin adalah ini: bahwa kita sering berbicara tentang masa depan, tetapi enggan berinvestasi pada proses yang membentuknya. Kita ingin hasil yang cepat, tetapi tidak sabar dengan latihan yang lama.

Maka jika ada yang bertanya, apakah saya serius dengan gagasan ini, jawabannya sederhana bahwa saya cukup serius untuk tidak menganggapnya sebagai acara seremonial. Saya ingin ia menjadi proses. Panjang, melelahkan, tetapi bermakna.

Dan jika suatu hari nanti, dari platform kecil ini lahir perempuan-perempuan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang sulit maka mungkin, hanya mungkin, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar kontes.

Kita sedang menyaksikan lahirnya kepemimpinan. Bukan karena mereka memakai mahkota, tetapi karena mereka siap menanggung beban yang tidak terlihat oleh kamera.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Novita Sari Yahya
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist