HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Savana dan Gagahnya Sumba dalam Keberagaman Indonesia

Redaksi by Redaksi
Oktober 3, 2025
in #Sumba, Artikel, Catatan Perjalanan, NTT, Walhi, WALHI Aceh
Reading Time: 5 mins read
0
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Khairul Hasni

Baca Juga

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Maret 19, 2026

Efisiensi Fiskal Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis

Maret 19, 2026

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
ADVERTISEMENT

Berdimisili di Lhokseumawe, Aceh

Keberagaman Indonesia di Pulau Sumba sebagai dimensi budaya, sosial, dan sejarah. Sumba sebagai pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didiami oleh Suku Sumba, yang merupakan campuran ras Melanesia-Papua dan Austronesia-Melayu, sebagai suku yang mampu mempertahankan kebudayaan asli mereka di tengah arus pengaruh modern dengan kuatnya pengaruh global. 

Pulau Sumba terbagi menjadi empat kabupaten yaitu Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, jumlah penduduk Pulau Sumba diperkirakan sekitar 843.047 jiwa dengan luas wilayah sekitar 11.244 km². Pulau Sumba bagian penting dari keberagaman Indonesia dengan budaya dan tradisi yang unik. 

Daerah Sumba terkental dengan tradisi dan keunikan budaya, masyarakatnya yang menjaga kebersamaan suku serta dalam masyarakat marga sebagai simbol persatuan. Rumah besar adat di berbagai kampung menjadi lambang akar sejarah mereka. Semua ini menjadikan Sumba sebagai bagian yang gagah dan berwarna dalam mosaik keberagaman budaya Indonesia. 

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Sumba memiliki struktur strata bangsawan (maramba), pemuka agama (kabihu), dan rakyat jelata (ata), walaupun perbedaan ini kini tidak terlalu tajam. Budaya mereka tercermin melalui upacara adat pernikahan, kematian, dan tradisi unik seperti pasola (permainan kuda tradisional), dan upacara yang dapat mencerminkan hubungan mereka dengan alam. 

Masyarakat Sumba dikenal mempertahankan kebudayaan aslinya dengan kepercayaan tradisional Marapu  yang menjadif alsafah hidup mereka. Kepercayaan tersebut membantu dalam sejumlah keselamatan dan ketentraman dalam kehidupan, khususnya masyarakat asli Sumba. 

Dalam konteks kehidupan social Sumba, Marapu berarti “sesuatu yang sakral atau tersembunyi”, mengacu pada roh leluhur yang dihormati. Budaya Marapu yang dapat dilihat pengunjung di Sumba mencakup berbagai kebiasaan tradisional dan ritual sakral yang masih dijalankan masyarakat setempat. Yang mengajarkan nilai-nilai utama seperti penghormatan kepada leluhur, keseimbangan antara manusia dengan alam, dan semangat gotong royong serta solidaritas antar masyarakat. 

Setiap aktivitas penting dalam masyarakat Sumba, mulai dari membangun rumah adat, bertani, menggelar upacara adat, hingga pemakaman dilakukan dengan memperhatikan aturan dan permohonan restu dari Marapu sebagai cara menjaga harmoni dan kelangsungan hidup bersama. 

Selain aspek spiritual, Marapu juga mengatur tata kelola sumberdaya alam sehingga tidak boleh sembarangan menggunakaan alam seperti menebang pohon atau mengambil hasil alam tanpa ritual dan izin dari Marapu, ini untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan. 

Konsep hidup selaras dengan alam ini tercermin dalam pola hidup dan tradisi masyarakat yang menjaga savana dan hutan sebagai tempat hidup ternak dan sumber kehidupan. Dalam budaya Sumba merefleksikan nilai-nilai Pancasila sebagai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Hal ini diperankan melalui syair adat dan perilaku budaya Marapu. 

Keberlanjutan kesimbangan dalam alam juga dibuktikan dengan keindahan alam dan budaya yang terjaga ini membuat Sumba terpilih sebagai Destinasi Impian Asia 2025 versi Time Out, yang telah mendapatkan perhatian global atas keasrian alam, kekayaan budaya, dan kehidupan masyarakat lokal yang ramah. 

Dengan nyata Sumba memberikan sebuah wisata memadukan keindahan alam Savana dan sabana, kearifan budaya tradisional yang menyeimbangkan hubungan manusia dengan lingkungan, serta lanskap eksotis yang mencakup padang rumput, bukit-bukit, dan pantai dengan keindahan dan unik di Indonesia. 

Ini dibuktikan dengan touris asing menikmati berbagai wisata alam dan keunikan berbagai ritual adat. Salah satu tempat yang paling popular Savana Puru Kambera yang terletak di Sumba Timur. Daerah yang menawarkan panorama alam yang memukau dengan rumput hijau subur yang berubah warna menjadi keemasan di musim kemarau, serta dikelilingi bukit-bukit kecil. 

Savana memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi karena adanya pohon-pohon besar yang menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi berbagai spesies hewan. Savana ini merupakan padang rumput yang luas, keberadaan kuda dan kerbau Sumba yang berkeliaran bebas menambah kesan alami yang kental, menciptakan ekosistem yang hidup dan menarik bagi pecinta fotografi alam. 

Savana merupakan tempat yang sering dipakai untuk ritual adat masyarakat Sumba Timur yang hidup harmonis dengan alam yang telah menghubungan kuatnya antara budaya dan lingkungan di wilayah.

Piarakuku Sumba juga sebagai kawasan perbukitan Sabana yang indah yang dikenal sebagai Bukit Piarakuku (PiarakukuHills). Lokasinya berada di Desa Persiapan Hawurut, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur. Sabana sebagai keanekaragaman hayatinya lebih rendah karena ketiadaan pohon yang mendukung kehidupan hewan yang didominasi oleh rumput dan semak-semak. 

Tempat ini terkenal dengan lanskap Sabana hijau bergelombang dan juga berubah warna menjadi kuning kecokelatan pada musim kemarau, serta patung-patung batu karya seniman lokal yang menambah nilai artistik dan budaya di puncak bukit. 

Pemandangan eksotis mirip padang sabana Afrika, sebagai pemandangan alam yang spektakuler. Tempat ini semakin populer di kalangan wisatawan local dan asing karena keindahan alamnya yang menenangkandan suasana yang jauh dari keramaian, serta menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Sumba Timur. Lokasi lain dapat ditemukan sabana luas di Sumba Bukit Tenau dan Bukit Warinding, pemandangan bukit bergelombang dan padangrumput yang dapat berubah warna sesuai musim, serta suasana yang tenang dan damai bagi pengunjung.

Ancaman Ekosistem Sumba

Sabana di Sumba, merupakan ekosistem essential (penting) yang erat kaitannya dengan kearifan lokal dan kehidupan masyarakat. Savana memiliki fungsi ekologis penting seperti penyimpanan air, penyerapan karbon, dan perlindungan    keanekaragamanhayati.  Savana mendukung beragam aspek kehidupan, seperti ekologi, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, adat, dan spiritualitas, menjadikannya bagian fundamental daripembangunan berkelanjutan. 

Namun, ekosistem ini menghadapi ancaman dari investasi skala besar seperti perkebunan monokultur dan proyek lumbung pangan yang mengubah

Savana menjadi lahan pertanian di daerah itu, yang berpotensi meminggirkan masyarakat adat setempat dan mengganggu keseimbangan ekologi.

Pemerintah daerah dan kelompok lingkungan menekankan Savana sebagai warisan ekologi yang harus dilindungi bersama dengan pembangunan modern. 

Ada dorongan untuk mengakui Savana dan sabana sebagai kategori ekosistem esensial yang dilindungi oleh negara, serupa dengan lahan gambut, bakau, dan kawasan karst (batuan kapur). Langkah ini bertujuan untuk melestarikan integritas ekologi dan tradisi budaya yang terkait dengan Savana bagi generasi mendatang. 

Upaya itu sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman ilmiah tentang ekosistem Savana, dengan tetap menghormati dan mengintegrasikan pengetahuan dan praktik lokal. Perjuangan ini melibatkan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi untuk memastikan bahwa Savana tetap menjadi warisan hidup masyarakat Sumba.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendeklarasikan 20 September 2025 sebagai “Hari KeadilanEkologis” dalam Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup ke-14 (PNLH XIV) yang diselenggarakan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Deklarasi ini penting karena Sumba masih menyimpan unsur-unsur penting peradaban dan keharmonisan lingkungan Nusantara, terutama ekosistem Savana yang luas. 

Acara ini telah mempertemukan sekitar ratusan aktivis dari jaringan Walhi untuk menekankan perlindungan dan keadilan lingkungan. Isu-isu kritis seperti ancaman terhadap Savana dari perkebunan industri seperti perkebunan tebu, dan mendesak pemerintah untuk menetapkan Savana sebagai ekosistem penting yang perlu dilindungi, seperti lahan gambut, mangrove, dan lainnya. 

Proyek investasi lahan Savana dan sabana menjadi perkebunan secara signifikan juga mengancam kelangsungan lingkungan dan berdampak pada masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 281x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 187x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Maret 19, 2026
Artikel

Efisiensi Fiskal Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis

Maret 19, 2026
Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam
#Sejarah Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026
​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Next Post

Milad ke 30 Baitul Qiradh Baiturrahman, Dimeriahkan dengan Donor Darah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com