Dengarkan Artikel
Pelajaran Untuk Masa Depan
Oleh Rifa Faiza
Peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu catatan paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dalam tragedi itu, anggota PKI melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.
Mereka adalah putra terbaik bangsa yang gugur dalam pengabdian, menjadi saksi nyata betapa besar ancaman yang pernah dihadapi Indonesia. Aksi keji tersebut tidak hanya sekadar sebuah tindak kekerasan, melainkan sebuah upaya perebutan kekuasaan yang berambisi mengganti dasar negara Pancasila dengan ideologi komunisme, suatu paham yang sama sekali bertentangan dengan jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia.
Walaupun gerakan tersebut akhirnya dapat digagalkan, dampaknya begitu besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Rakyat kala itu dicekam rasa takut, muncul kecurigaan di antara sesama, serta terjadinya perpecahan sosial yang sulit dipulihkan. Trauma sejarah yang ditinggalkan tidak hanya terasa pada masa itu, melainkan masih membekas hingga kini. G30S/PKI menjadi bukti bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan cara kekerasan, makar, dan pengkhianatan hanya akan meninggalkan luka yang mendalam serta mengancam persatuan nasional yang susah payah dibangun sejak Indonesia merdeka.
Lebih dari sekadar tragedi, peristiwa ini menjadi titik balik yang menegaskan pentingnya kewaspadaan bangsa Indonesia terhadap setiap ideologi asing yang mencoba masuk dan menggantikan dasar negara. Komunisme dengan doktrin pertentangan kelas dan penolakan terhadap nilai ketuhanan jelas bertolak belakang dengan kepribadian bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong, nilai kekeluargaan, serta keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dari sinilah dapat dipahami bahwa Indonesia hanya bisa bertahan dan berkembang, jika tetap berpegang teguh pada jati diri bangsa, menjaga persatuan dalam kebhinekaan, serta tidak memberi ruang bagi paham-paham yang merusak kedaulatan.
Bagi generasi muda, tragedi 1965 bukan sekadar kisah lama yang ditulis dalam buku sejarah. Lebih dari itu, peristiwa ini harus dijadikan pelajaran berharga bahwa sejarah selalu memberi pesan dan peringatan.
Sejarah bukan hanya untuk diingat, tetapi untuk dipahami, direnungkan, dan dijadikan pedoman agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi. Generasi muda perlu menyadari bahwa ancaman terhadap persatuan, bisa datang kapan saja, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Oleh karena itu, penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, memperkuat nasionalisme, dan menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peristiwa G30S/PKI juga mengajarkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi mempertahankan keutuhan bangsa. Para Pahlawan Revolusi yang gugur tidak hanya menjadi korban, tetapi juga teladan pengabdian dan keberanian. Semangat mereka dalam menjaga bangsa harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai pengorbanan para pahlawannya dan belajar dari sejarahnya.
📚 Artikel Terkait
Pada akhirnya, tragedi G30S/PKI menjadi pengingat bahwa persatuan dan kesetiaan terhadap Pancasila adalah benteng kokoh yang menjaga bangsa Indonesia tetap tegak berdiri. Keutuhan bangsa tidak bisa dijaga hanya oleh segelintir orang, melainkan harus menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.
Dengan memahami sejarah ini, kita dapat memperkuat rasa cinta tanah air, menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, serta memastikan bahwa bangsa ini tidak akan pernah lagi diguncang oleh perpecahan akibat ideologi yang menyimpang.
Sejarah berbicara dengan caranya sendiri, mengingatkan kita bahwa pengkhianatan dan kekerasan tidak akan pernah menang melawan persatuan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dari peristiwa G30S/PKI, kita belajar bahwa hanya dengan kebersamaan, kewaspadaan, dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur bangsa, Indonesia akan mampu melangkah maju, berdiri tegak, dan tetap berdaulat di tengah segala tantangan zaman.
Tentang Penulis
Rifa Faiza, lahir di Banda Aceh pada 23 Februari r
Rifa Faiza, lahir di Banda Aceh pada 23 Februari 2009. Saya telah menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 9 Kota Banda Aceh pada tahun 2021.Dan saya telah menyelesaikan Pendidikan di SMP Pesantren Teknologi MSBS Jantho, Aceh Besar pada tahun 2025. Saat ini, saya sedang melanjutkan (SMK ) Sekolah Menengah Kejuruan di SMK Negeri 3 Banda Aceh.
Sejak kecil, saya sudah tertarik dengan dunia menulis. Pada saat kelas 4 SD, saya mulai menulis cerita pendek dan puisi. Menulis memberi saya kesempatan untuk menuangkan ide dan perasaan yang sulit saya ungkapkan dalam percakapan sehari-hari. Sejak masuk SMP, saya mulai bergabung di ClubJurnalis MSBS dan aktif mengikuti kegiatan pelatihan menulis. Sejak di SMK saya bergabung di tim literasi.
Hingga saat ini, saya sudah menulis puluhan cerpen, artikel,dan puisi, yang dapat dibaca di blog pribadi saya. Selain menulis, saya juga sangat suka membaca, yang sering kali memberi inspirasi bagi tulisan saya.
Saya berharap dengan terus berlatih dan belajar, saya bisa menjadi penulis yang lebih baik dan menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang di masa depan.
Yuk berteman dan berbagi inspirasi!
Blogger: RIZA.FAIZA ( https://rifafaiza.blogspot.com/ )
Instagram: @rifa.faiza23
Facebook : @rifa Faiza Raf
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






