POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 7

Redaksi by Redaksi
Agustus 23, 2022
in Jalan-jalan
0
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 00C69E49 97E0 4154 ADC6 A78A56AF089E | Jalan-jalan | Potret Online

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

Memulai kehidupan di lingkungan pesantren, kebiasaanku berubah total. Tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma. Kalau dulu terkadang waktu subuh sering terlewati di tempat tidur, sejak aku menjadi warga Pesantren Ashabul Yamin tak pernah lagi waktu subuhku terlewati. Setiap tiba waktu shalat subuh, aku sudah berada di aula bagian atas gedung induk pesantren. Di sanalah tempat berlangsungnya shalat berjamaah, baik bersama Nek Abu, maupun bersama Teungku-teungku yang lain.

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    ECPAT Indonesia dan Institute for Criminal Justice Reform (ICJR)
    20 Mar 2017
  • 02
    Jalan-jalan
    Pembangunan Pijay Dinilai Lamban
    15 Mei 2017

 

Setiap subuh Nek Abu selalu lebih cepat datang ke aula dari pada kami. Biasanya, jika Nek Abu datang Beliau selalu memukul lonceng tiga kali. Lonceng yang berupa besi yang lebar sepuluh senti dan panjang sekitar lima puluh senti itu tergantung di bagian teras aula tingkat dua di mana kami shalat berjamaah, tidak jauh dari pintu tangga aula. Setiap subuh aku tak pernah luput dari suara lonceng itu. Jika aku sudah mendengar bunyi lonceng berdentang-dentang tiga kali, aku segera bergegas menuju aula. Sebelum naik ke aula, aku membersihkan diri dulu sambil berwuduk di bak besar yang terletak di bawah tangga aula. Suara gemericik air dari tangan-tangan kami yang berwudhuk, seakan musik simponi alam rohani yang sangat merdu di pagi buta itu.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - IMG 20250223 WA0016 | Jalan-jalan | Potret Online
    Cerpen
    Kisruh Nurani
    23 Feb 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    SEULAWAH
    26 Apr 2024

Usai berwudhuk kami bergegas naik ke aula. Siapa yang duluan sampai di aula dialah yang menggemakan azan subuh. Tetapi jarang sekali orang lain dapat kesempatan azan subuh, karena sudah sejak bunyi lonceng satu kali aku sudah bergegas bangun, berwudhuk, lalu naik ke aula mengumandangkan azan.

Ada kebahagiaan tersendiri setiap aku selesai mengumandangkan azan. Hatiku terasa nyaman, tenteram, dan damai setiap selesai melantunkan azan. Apalagi ketika selesai shalat, Nek Abu langsung memimpin tasbih, tahmid, dan takbir. Kemudian dilanjutkan dengan tahlil yang bergema di seantero aula di subuh yang syahdu itu. Dan akhirnya Nek Abu sendiri yang memimpin doa, memohon rahmat dan karunia dari Allah Subhanahuwata’ala.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 063e5185 6511 44b2 ab94 11f0fbcac2e2 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Aspirasi Emak-emak Indonesia Untuk Memperingati Hari Anti Islamophobia ke-3 pada 15 Maret 2025
    16 Jan 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    PAH Cetuskan Gerakan Politik Hijau
    29 Mei 2017

Selesai berdoa, berarti rutinitas shlalat subuh berjamah kami pagi itu selesai. Tetapi tidak berarti bahwa kegiatan mengisi waktu subuh kami sudah selesai pula. Antara usainya shalat subuh dengan jadwal kami ke sekolah masih ada tersisa waktu satu setengah jam lagi. Nah, nah waktu yang tersisa satu setangah jam itu harus kami manfaatkan secara maksimal sebelum berangkat ke sekolah. Satu jam kami memanfaatkannya dengan kegiatan mengaji. Guru ngaji kami kala itu adalah Abati (salah seorang putra Nek Abu) yang waktu itu baru pulang mengaji dari Pulau Jawa. Beliau mengajarkan kami kitab-kitab dasar seperti fiqih, tauhid, tasauf, nahu, saraf, mantiq, bayan, dan lain-lain.

Ada kesan tersendiri yang sulit kami lupakan saat kami mengaji pada Abati dulu, karena Beliau memiliki beberapa keistimewaan. Beberapa keistimewaan Beliau yang masih aku ingat dengan terang benderang antara lain adalah suara Beliau yang sangat merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lucu ketika menyurah kitab sehingga terkadang kami tertawa terpingkal-pingkal, sangat detil saat menjelaskan, dan sangat mudah memahami apa yang Beliau sampaikan. Makanya aku sangat merasa rugi jika suatu ketika Beliau berhalangan mengajar kami mengaji.

Apalagi kalau malam Jumat, saat Beliau mengajarkan kami ber-dalail khairat atau barjanzi. Tak terasa bagi kami waktu berlalu. Terkadang sudah tengah malam baru pulang ke kamar.

Usai mengaji pagi, kami buru-buru ke kamar atau ke rangkang masing-masing. Berkemas-kemas untuk ke sekolah. Aku sendiri selalu mandi, sedingin apapun udara di pagi itu. Ini menyangkut pesan ibuku sebelum aku mondok dulu. Pesan ibuku yang pertama adalah selalu mandi sebelum ke sekolah. Pesan yang kedua adalah selalu sarapan pagi walau hanya sedikit; walau hanya dengan nasi dingin dan bertemankan garam atau ikan asin. Tapi ibu selalu membekali aku sepuluh butir telur ayam kampung setiap minggu, manakala aku pulang kampung. Jika aku tidak pulang, Beliau kirim telur ayam kampung itu melalui teman-temanku yang mudik ke kampung.

Begitulah, usai sarapan dan mandi, aku berkemas-kemas menyiapkan diri berangkat ke sekolah. Terkadang kami bergerombol menuju SMP Negeri yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari kompleks pesantren tempat kami menuntut ilmu akhirat itu.

(Bersambung)    

Previous Post

Merdeka Menulis

Next Post

Tim Penilai Adipura Lakukan Penyisiran ke Titik Pantau

Next Post
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 2F19A2F2 5353 4BEF 9113 2FBC537C9CF0 | Jalan-jalan | Potret Online

Tim Penilai Adipura Lakukan Penyisiran ke Titik Pantau

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah