• Latest

Munculnya Kelas Baru Prekariat

September 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Munculnya Kelas Baru Prekariat

Redaksiby Redaksi
September 12, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

„The precariat is the new dangerous class.“ — Guy Standing(77), The Precariat: The New Dangerous Class(2011).

Dalam perkembangan sosial kontemporer yang ditandai oleh meluasnya aksi protes dan ketidakstabilan politik — seperti yang disoroti oleh Denny JA dalam artikelnya „Meluasnya Aksi Protes dan Munculnya Kelas Baru yang Rawan“ — kita menyaksikan kemunculan sebuah kelas sosial baru yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kerangka klasik borjuis-proletariat.

Kelas ini adalah prekariat—sebuah kelompok yang hidup dalam ketidakpastian kerja, identitas, dan masa depan.

Mereka bukan borjuis yang memiliki alat produksi, bukan pula proletariat yang stabil dalam relasi kerja.

Mereka adalah pekerja kontrak, freelancer, buruh informal, lulusan perguruan tinggi yang menganggur, dan migran yang terjebak dalam sistem kerja fleksibel tanpa jaminan sosial.

Dalam teori kelas sosial klasik, Karl Marx lazim diacu dalam Das Kapital membagi masyarakat kapitalis ke dalam dua kutub utama: borjuis sebagai pemilik modal dan alat produksi, dan proletariat sebagai kelas pekerja yang menjual tenaga kerja demi upah.

Relasi antara keduanya bersifat antagonistik, dan kesadaran kelas menjadi kunci dalam perjuangan kelas menuju transformasi sosial.

Namun, prekariat tidak sepenuhnya masuk dalam kategori proletariat karena mereka tidak memiliki stabilitas kerja, tidak terorganisir dalam serikat, dan sering kali tidak memiliki kesadaran kelas yang terarah.

Mereka hidup dalam fragmen sosial yang tercerai, terjebak dalam sistem meritokrasi palsu dan janji mobilitas sosial yang tak kunjung tiba.

Ralph Dahrendorf(1929-2008) dalam mengkritik pandangan Marx yang terlalu menekankan konflik ekonomi dan menawarkan pendekatan konflik sosial yang lebih luas.

Menurutnya, konflik tidak hanya terjadi antara kelas ekonomi, tetapi juga dalam struktur otoritas dan peran sosial.

Lanjut ia katakan dalam Class and Class Conflict in Industrial Society(1959; Terjemahan, 1986): „Konflik kelas bukanlah peninggalan masa lalu, tetapi merupakan ciri permanen masyarakat modern.”

Prekariat adalah manifestasi dari konflik baru ini—mereka tidak hanya mengalami eksploitasi ekonomi, tetapi juga alienasi sosial dan politik.

Mereka tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan, dan sering kali menjadi objek kebijakan, bukan subjek yang menentukan arah perubahan.

Sementara Georg Lukacs(1885-1971), dalam History and Class Consciousness(1923; Terjemahan, 2012), menyoroti pentingnya kesadaran kelas sebagai bentuk refleksi terhadap posisi sosial dalam struktur kapitalisme. Namun, prekariat hidup dalam kabut kesadaran yang terfragmentasi.

Mereka tahu bahwa sistem tidak adil, tetapi tidak memiliki alat analisis atau organisasi untuk mengartikulasikan ketidakadilan itu secara kolektif.

Mereka terjebak dalam individualisme neoliberal, di mana kegagalan dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, bukan sebagai akibat dari struktur sosial yang timpang.

Demikian hal sosiolog Jerman mutakhir, Ulrich Beck(1944-2015), dalam Risikogesellschaft: Auf dem Weg in eine andere Moderne(1986; Terjemahan, 2015), menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak lagi dibagi berdasarkan distribusi kekayaan, tetapi berdasarkan distribusi risiko.

Prekariat adalah kelas yang paling rentan terhadap risiko: kehilangan pekerjaan, tidak memiliki akses kesehatan, pendidikan, dan keamanan sosial.

Mereka hidup dalam ketidakpastian yang terus-menerus, dan ketidakpastian itu menjadi sumber kecemasan kolektif yang mudah meledak dalam bentuk protes, populisme, atau bahkan radikalisasi.
Guy Standing, seperti dikutip Denny menyebut: prekariat sebagai kelas baru yang rawan sekaligus ancaman.

ADVERTISEMENT

Bukan karena mereka secara inheren berbahaya, tetapi karena ketidakpastian yang mereka alami dapat menjadi bahan bakar bagi ketidakstabilan sosial.

Tanpa jaminan, tanpa identitas yang jelas, dan tanpa representasi politik, prekariat bisa menjadi kekuatan destruktif jika tidak diberi ruang untuk artikulasi dan pemberdayaan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Solusinya bukan sekadar bantuan sosial atau pelatihan kerja, tetapi penciptaan sistem baru yang mengakui keberadaan mereka sebagai kelas sosial yang sah.

Ini mencakup jaminan pendapatan dasar, hak kerja yang adil, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta ruang politik untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Munculnya kelas baru prekariat menantang kita untuk merevisi teori kelas klasik dan membuka ruang bagi analisis baru yang lebih kompleks dan reflektif.

Mereka bukan sekadar korban dari sistem, tetapi juga cermin dari kegagalan kita memahami perubahan struktur sosial dalam era globalisasi dan digitalisasi.

Jika tidak direspons dengan kesadaran kolektif dan kebijakan yang transformatif, prekariat akan terus menjadi kelas yang rawan—dan dalam kerawanan itu, benih-benih konflik sosial akan terus tumbuh. Kapan saja dan berpotensi meledak.

coversongs: Lagu “Revolution” oleh The Beatles dirilis pada tahun 1968. Tapi menariknya, ada tiga versi berbeda dari lagu ini yang muncul dalam konteks berbeda: Revolution (Single; Side B single Hey Jude); Revolution 1, 9(White Album).

Lagu ini ditulis oleh John Lennon, dan mencerminkan pandangannya terhadap perubahan sosial dan politik di akhir 1960-an. Versi singel lebih “garang” dan langsung, sementara versi album lebih kontemplatif dan eksperimental.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Untaian Puisi-Puisi Dzakwan Ali 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com