• Latest

Puisi yang Menyentuh dan Lukisan yang Berbicara di Pundensari

September 10, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi yang Menyentuh dan Lukisan yang Berbicara di Pundensari

Redaksi by Redaksi
September 10, 2025
in # Tadarus Puisi, Baca Puisi, Esai, Essay, Lesson Learned
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 Oleh Fileski Walidha Tanjung

Di sebuah desa bernama Gunungsari, Wisata Pundensari, Madiun, malam sederhana pada tanggal 9 September 2025 berubah menjadi pengalaman kebudayaan yang menggugah. Festival Desa Creative Hub menghadirkan sebuah acara yang dinamakan Puitisasi Seni Rupa: puisi, lukisan, dan masyarakat bertemu dalam ruang yang cair, akrab, tanpa sekat. 

Apa yang tampak sekilas sebagai hiburan desa, sesungguhnya adalah peristiwa yang jauh lebih mendalam: sebuah percobaan estetis dan sosial yang menantang cara kita memahami seni.

Walter Benjamin, dalam esainya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, menyebut setiap karya seni memiliki aura—sebuah kehadiran yang lahir dari keunikan keberadaannya di ruang dan waktu tertentu. 

Apa yang terjadi di Gunungsari malam itu membuktikan bahwa aura tidak hanya milik museum besar atau panggung prestisius, tetapi bisa lahir di halaman rumah warga, di bawah lampu desa, ketika goresan cat basah segera diberi suara oleh bait-bait puisi. Aura yang lahir dari momen itu bukan aura yang berjarak, melainkan aura yang justru mendekat, karena merasuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kita perlu mengakui, selama ini seni kerap dikurung dalam menara gading. Ia dipamerkan di galeri yang sepi, dibicarakan dalam forum intelektual yang terbatas, atau dibaca dalam buku yang hanya menyentuh kalangan tertentu. Seni terkesan milik mereka yang terdidik, berpunya, atau punya akses pada ruang-ruang eksklusif. 

Padahal, Jacques Rancière dalam The Politics of Aesthetics mengingatkan, “Emansipasi estetis adalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk merasakan, menafsir, dan mencipta.” Acara di Gunungsari adalah bukti hidup dari pernyataan itu. Seni tidak hanya dipersembahkan untuk ditonton, melainkan dibagikan, dialami, bahkan ikut diciptakan secara kolektif.

Perupa Dwi Kartika Rahayu menyebut setiap goresan sebagai jejak rasa, setiap warna sebagai cerita. Dua pelukis muda, Anis Marhayu dan Shal Shalihah, melukis langsung di tengah masyarakat, membiarkan atmosfer sosial mempengaruhi intuisi mereka. Lalu saya merespons karya lukisan yang baru saja lahir itu dengan bait-bait puisi. 

Hubungan lintas medium ini bukan sekadar eksperimen artistik, tetapi juga metafora tentang hakikat kehidupan itu sendiri: bahwa realitas tak pernah selesai dimaknai, selalu menunggu tafsir baru.

Martin Heidegger dalam The Origin of the Work of Artmenyebut karya seni sebagai peristiwa “terbukanya kebenaran.” Kebenaran di sini bukanlah dogma yang final, melainkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi lalu tiba-tiba menyingkap. 

Di Gunungsari, kebenaran yang terungkap bukan sekadar tentang teknik melukis atau menulis puisi, melainkan tentang manusia sebagai makhluk yang saling berbagi imajinasi. Di sana, seni berhenti menjadi benda mati, ia menjadi dialog yang hidup, jembatan antara individu dan komunitas.

Namun, pertanyaan penting tetap tersisa: apakah ruang semacam ini hanya akan menjadi catatan indah sebuah festival, atau mampu bertahan sebagai praktik yang berkelanjutan? Demokratisasi seni mudah dirayakan, tetapi sulit dijaga. Kita tahu betapa kuat arus kapitalisasi seni di kota-kota besar, di mana pameran sering lebih dipandang sebagai investasi ketimbang perjumpaan. 

Apakah ruang-ruang alternatif seperti Gunungsari bisa menandingi arus besar ini, atau perlahan tenggelam dalam romantisme sesaat? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab sekali jadi, tetapi harus terus dipertaruhkan.

Meski demikian, penting untuk melihat momen seperti ini bukan sekadar “acara,” melainkan sebuah metode berpikir baru. Ia menantang batas kategoris antara seni tinggi dan seni rakyat, antara seniman profesional dan masyarakat awam, antara galeri eksklusif dan halaman rumah. Jika puisi bisa lahir dari lukisan yang baru ditorehkan, dan warga desa bisa larut dalam imajinasi bersama seniman, maka bukankah setiap ruang dapat menjadi galeri, setiap waktu bisa menjadi panggung puitik?

Albert Camus pernah berkata, “Seni adalah satu-satunya yang membuat kita tidak menyerah pada absurditas dunia.” Pernyataan ini memberi kita sudut pandang lain: seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan cara untuk melawan absurditas kehidupan modern yang sering menekan manusia agar hanya produktif, efisien, dan utilitarian. 

Gunungsari malam itu menunjukkan alternatif: seni sebagai perjumpaan, sebagai jeda, sebagai ruang yang membebaskan manusia dari logika kering angka dan fungsi.

Namun, apa arti semua ini bagi kita yang hidup di luar Gunungsari? Barangkali makna terdalam dari Puitisasi Seni Rupa justru terletak pada keberanian untuk membayangkan ulang seni dalam kehidupan kita masing-masing. Jika desa bisa menjadi pusat kreativitas, bukankah kota juga bisa belajar meruntuhkan sekat-sekatnya? Jika masyarakat bisa merasakan seni sebagai bagian dari kehidupan, bukankah pendidikan pun seharusnya memberi ruang serupa bagi ekspresi, bukan sekadar hafalan?

Pada akhirnya, seni tidak pernah selesai ditafsirkan. Ia selalu menantang kita untuk menanyakan ulang siapa kita, apa makna kebersamaan, dan bagaimana kita ingin hidup. Perjumpaan di Gunungsari hanyalah satu fragmen, tetapi fragmen yang mampu memantulkan cermin besar: bagaimana kita memperlakukan seni dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ia akan terus kita asingkan dalam ruang elitis, atau kita berani mengembalikannya ke tengah kehidupan, agar menjadi milik semua orang?

ADVERTISEMENT

Pertanyaan reflektif ini layak kita bawa pulang: di tengah dunia yang semakin utilitarian, masihkah kita berani merayakan kehidupan dengan cara puitis? Masihkah kita mampu menghadirkan seni sebagai ruang dialog yang hidup, bukan sekadar benda mati untuk dipamerkan? Jawaban itu mungkin sederhana, namun menuntut keberanian: keberanian untuk terus merawat perjumpaan puitis, di desa maupun di kota, di ruang kecil maupun besar, demi kehidupan yang lebih manusiawi.

***

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Beberapa bukunya yang terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Kapalku Laut Kita, Interludium Kapibara, dan Cara Penghilang Duka.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Transformasi Kompetensi Guru di Era AI

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com