Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh
Aku melangkah, pelan tapi pasti,
menyusuri lorong waktu yang tak henti berdetak.
Di setiap denyut, aku menemukan diriku,
kadang rapuh, kadang kokoh,
seperti batu yang dipahat ombak,
seperti pohon yang diguncang angin.
Langkahku panjang,
bukan sekadar perjalanan jasmani,
tetapi arak-arakan jiwa
yang terus mencari arti.
Aku menatap bintang di malam hening,
mereka seakan berbicara dengan bahasa cahaya,
bahwa hidup bukan sekadar singgah,
melainkan ziarah yang mengantar ruh
kepada keabadian.
Aku pernah jatuh,
dalam jurang kekecewaan,
namun aku pun pernah terbang,
dengan sayap harapan yang kusulam
dari doa-doa ibuku.
Aku pernah menangis
di tengah sunyi tanpa teman,
namun aku pun pernah tertawa,
dalam pelukan hangat sahabat
yang tak letih menyalakan api semangat.
Setiap luka adalah guru,
setiap senyum adalah penyembuh.
Dan di antara keduanya,
aku belajar:
bahwa keabadian bukan tentang tidak mati,
melainkan tentang jejak
yang tak hilang meski waktu berlari.
Aku ingin meninggalkan langkah panjang,
yang disambung oleh generasi berikutnya.
Seperti sungai yang tak pernah kering,
meski musim berganti.
Seperti kata bijak yang diwariskan,
meski bibir yang mengucap telah sunyi.
Langkahku bukan milikku semata,
ia adalah warisan yang kutitipkan
kepada dunia.
Semoga bumi merasakan teduhnya,
semoga langit mendengar syukurnya.
Seribu doa mengiringi perjalananku,
seribu harap menyinari jalanku.
Aku tahu,
tak semua jalan mudah,
tak semua malam terang.
Namun aku percaya,
tak ada langkah yang sia-sia
bila diniatkan untuk kebaikan.
Keabadian bukan tentang tubuh,
ia adalah ingatan,
ia adalah karya,
ia adalah cinta
yang tak lekang oleh waktu.
📚 Artikel Terkait
Aku berjalan,
melewati musim gugur yang menanggalkan daun,
melewati musim semi yang menumbuhkan tunas.
Aku berjalan,
melewati badai yang menampar wajahku,
melewati pelangi yang memeluk mataku.
Setiap langkah adalah cerita,
setiap cerita adalah pelajaran,
setiap pelajaran adalah cahaya
yang membimbingku semakin dekat
kepada arti sejati perjalanan.
Di tepi senja aku duduk,
merenungi garis cakrawala.
Langit berwarna jingga,
seakan melukis kisah manusia
yang lahir, tumbuh, lalu kembali.
Aku sadar,
hidup ini bukan soal panjangnya waktu,
tetapi tentang kedalaman makna.
Aku tak ingin hanya menjadi bayangan
yang hilang ditelan gelap.
Aku ingin menjadi cahaya,
meski kecil,
yang tetap bersinar
menuntun langkah orang lain.
Di malam yang sepi,
aku mendengar bisikan hatiku sendiri:
“Teruslah berjalan,
jangan berhenti di tengah ragu.
Setiap jejakmu adalah saksi,
bahwa engkau pernah berjuang
meski dunia kadang tak mengerti.”
Aku pun bangkit,
menguatkan kaki yang letih,
menghapus air mata yang jatuh,
menyulam kembali harapan yang sempat koyak.
Aku tahu,
keabadian bukan tentang berdiri di puncak,
tetapi tentang berjalan tanpa henti
meski tanah licin,
meski jalan terjal.
Keabadian bukan tentang dipuji,
tetapi tentang meninggalkan jejak
yang membuat orang lain tersenyum,
yang membuat dunia sedikit lebih indah.
Langkah panjang ini
kadang sepi, kadang ramai.
Ada yang datang,
ada yang pergi.
Ada yang menyalakan lentera di sisiku,
ada pula yang memadamkannya.
Namun aku belajar,
tak semua yang padam berarti gelap,
kadang gelap hanya mengajarkanku
bagaimana menemukan cahaya dari dalam.
Aku ingin saat aku tiada nanti,
angin tetap mengingat suaraku,
air tetap merasakan sentuhanku,
bumi tetap merasakan langkahku.
Bukan karena aku besar,
tetapi karena aku pernah tulus
mencintai kehidupan.
Aku ingin saat aku terbaring nanti,
nama kecilku tetap hidup
dalam doa mereka yang kutolong,
dalam tawa mereka yang pernah kusayangi,
dalam karya kecil yang kutinggalkan
untuk dunia yang masih berputar.
Aku tak ingin abadi sebagai raga,
aku ingin abadi sebagai makna.
Seperti buku tua yang masih dibaca,
seperti lagu lama yang masih dinyanyikan,
seperti doa kuno yang masih dikumandangkan
di bibir manusia.
Keabadian itu,
bukan rahasia yang jauh,
ia ada di sini,
dalam setiap langkah panjang
yang kita ambil dengan cinta.
Aku berjalan,
kadang dengan percaya diri,
kadang dengan gemetar.
Namun aku berjalan.
Karena berhenti adalah mati,
dan aku ingin hidup
bahkan setelah mati.
Maka langkah panjangku
akan terus kujalani,
hingga akhirnya aku tiba
pada pintu keabadian.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






