POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RUU Perampasan Aset Tak Kunjung Dibahas, Rakyat Sendiri Merampasnya

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
August 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Mungkin jutaan kali rakyat mendesak, “Segera sahkan RUU Perampasan Aset!” Tapi tak pernah digubris wakil rakyat di Senayan. Ketika rumah Ahmad Sahroni dijarah, rakyat berujar “Itulah definisi nyata perampasan aset koruptor oleh rakyat.” Who is the next? Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!

Aksi penjarahan rumah Ahmad Sahroni seakan jadi trailer resmi sebuah film yang sudah lama ditunggu rakyat. “Perampasan Aset, the Real Action.” Bayangkan, wak! Rakyat berbondong-bondong datang bukan untuk selfie, bukan untuk minta tanda tangan, tapi untuk mengambil hak mereka yang dirampok selama bertahun-tahun. Adegan itu seolah menjawab pertanyaan lama, kalau negara tidak sanggup merampas harta koruptor, ya biarlah rakyat turun tangan, sekalian latihan sebelum RUU Perampasan Aset benar-benar disahkan.

Ironinya, yang disebut “ilegal” justru terlihat paling logis. Saat rakyat merangsek masuk rumah mewah yang berdiri seperti istana Versailles di tengah Jakarta, itu hanyalah bentuk spontan dari sebuah undang-undang yang mangkrak. RUU Perampasan Aset sudah diusulkan sejak zaman kuda gigit besi, sudah masuk Prolegnas berkali-kali, tapi sampai hari ini nasibnya mirip drama Korea 300 episode, panjang, berbelit, dan ending-nya entah kapan. DPR bilang nanti, pemerintah bilang segera, hasilnya nol besar.

Di jalanan, demonstrasi meluas dari Jakarta ke Surabaya, dari Medan sampai Makassar, dari Pontianak hingga Jayapura. Poster-poster absurd bermunculan: “Segera Sah-kan RUU Perampasan Aset, atau biar kami yang merampas duluan.” Ada juga yang lebih sadis, “Lebih baik rumah koruptor jadi museum rakyat dari jadi sarang kemewahan.” Lalu ada pula yang nyinyir, “Kalau bisa rakyat nunggak pajak ditarik secepat kilat, kenapa merampas aset koruptor malah nunggu kiamat?”

Lihat betapa ironisnya. Negara begitu gesit ketika rakyat tak bayar pajak, listrik telat dibayar, atau motor telat pajak lima hari. Tapi ketika koruptor menimbun uang hingga triliunan, negara mendadak berubah jadi kura-kura pikun. Semua alasan keluar, belum sinkron, belum harmonisasi, belum ada political will. Padahal rakyat sudah lama paham, alasan sebenarnya adalah takut menyentuh kantong teman sendiri.

📚 Artikel Terkait

Rame Rame Merundung “Veritas, Probitas, Iustisia”

Puisi – Puisi Muslimin Lamongan

Mewujudkan Masyarakat Ideal dengan Akhlaqul Karimah

Sedihku Dalam Dosa

Maka ketika massa menjarah rumah Sahroni, itu bukan sekadar emosi, itu adalah kuliah hukum jalanan. Rakyat mendemonstrasikan prinsip in rem tanpa perlu toga hakim, yang jadi terdakwa bukan orangnya, tapi rumahnya, mobilnya, rekeningnya. Kalau kekayaan itu tak masuk akal, rampas, titik! Justru rakyat lebih cepat belajar logika hukum dibanding legislator yang sibuk berdebat sambil ngopi di ruang rapat.

Demo yang awalnya menuntut keadilan kini berubah jadi karnaval nasional perampasan simbolik. Di Bandung, mahasiswa berbaris sambil membawa miniatur rumah mewah dari kardus, lalu membakarnya sebagai satire. Di Makassar, nelayan menuliskan nama-nama koruptor di layar tancap, menonton sambil tertawa getir. Di Yogyakarta, seniman menulis mural dengan kalimat, “Sahkan RUU Perampasan Aset, atau rakyat akan jadi juru sita paling setia.”

Gelombang protes ini menjelma jadi orkestra gila. Rakyat menabuh panci, mahasiswa meniup terompet, ibu-ibu membawa sapu sebagai simbol pembersihan. Semua tertawa sekaligus marah, semua geram sekaligus bergembira. Inilah absurdnya demokrasi, rakyat harus turun ke jalan untuk mengajarkan DPR cara menulis undang-undang yang sebenarnya sudah mereka tahu jawabannya.

Pada akhirnya, penjarahan rumah Sahroni bukanlah klimaks, melainkan prolog. Prolog untuk sebuah revolusi hukum yang menunggu disahkan. RUU Perampasan Aset kini bukan lagi sekadar teks di atas kertas, melainkan nyawa demo yang berdenyut di seluruh provinsi. Bila DPR masih menunda, jangan salahkan bila rakyat akan menjadikan setiap rumah mewah hasil korupsi sebagai kampus, sebagai panggung, sebagai laboratorium hukum paling absurd di republik ini.

Bila suatu hari nanti RUU itu akhirnya diketok, rakyat akan tersenyum sinis sambil berkata: “Lihat kan, ternyata lebih mudah merampas rumah koruptor dengan undang-undang dari pada dengan tangan kosong. Tapi sayang, negara baru sadar setelah rakyat mengajarkannya dengan darah, keringat, dan sedikit humor tragis di jalanan.”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Negara Gagal Ketika Anak Muda Turun ke Jalan dan Mati di Jalanan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00