• Latest

Ketika Uang Naik Pangkat MenJadi Tuhan

Agustus 25, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Uang Naik Pangkat MenJadi Tuhan

Hanif Arsyadby Hanif Arsyad
Agustus 25, 2025
Reading Time: 5 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Hanif Arsyad

Belakangan publik kembali dikejutkan dengan operasi tangkap tangan (OTT) Wakil Menteri Tenaga Kerja dari Kabinet Merah Putih yang diduga terjerat kasus pemerasan. Data yang dirilis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melalui hasil National Risk Assessment (NRA) bahkan mencatat angka fantastis.  

Sepanjang tahun 2024 saja, kerugian negara akibat praktik korupsi mencapai Rp 984 triliun. Angka ini menunjukkan betapa uang menjadi pusat dari berbagai skandal kekuasaan. Dalam kehidupan modern, hampir tak ada aktivitas manusia yang lepas dari peran uang—dari urusan makan, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga ongkos berhaji. 

Uang di satu sisi memudahkan banyak hal, namun di sisi lain ia kerap menuntut kesetiaan yang melampaui batas, seolah lebih tinggi dari ketaatan kita kepada Tuhan. Maka muncul pertanyaan mendasar: apakah uang masih sekadar alat, atau sudah menjelma menjadi “tuhan kecil” yang diam-diam disembah manusia?

Kisah fiksi Gerald Crowford memberi cermin tentang kenyataan ini. Gerald, tokoh miskin dalam cerita, diperlakukan rendah, bahkan dianggap hina hanya karena tidak memiliki uang. Sebaliknya, tokoh-tokoh kaya seperti Danny dan Yuri bisa mengatur orang lain sesuka hati, membeli loyalitas, bahkan menentukan arah hidup seseorang hanya dengan harta. Bahkan cinta, yang sejatinya urusan hati, dalam kisah itu ditakar dengan materi. 

Meski berangkat dari dunia fiksi, narasi ini sejatinya akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Di sekeliling kita, jabatan bisa dibeli, suara rakyat bisa ditukar dengan amplop, bahkan persahabatan atau hubungan keluarga bisa pecah hanya karena uang.

Inilah wajah kehidupan modern yang secara perlahan menempatkan uang bukan lagi sebagai sekadar alat tukar, melainkan ukuran nilai dan martabat manusia. Apa yang digambarkan Crowford selaras dengan analisis Max Weber, yang mengaitkan lahirnya kapitalisme modern dengan etika Protestan. 

Weber menyebut etika kerja keras, disiplin, dan akumulasi harta telah menjadikan kekayaan sebagai indikator moralitas. Kaya berarti sukses, miskin berarti gagal. Uang bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol keselamatan sosial.

Islam memandang arah ini sebagai penyimpangan. Bukan berarti Islam anti-harta, sebaliknya, Islam mengakui peran vital uang dalam kehidupan. Namun Islam menolak keras penuhanan uang. Nilai manusia tidak ditakar dengan saldo, melainkan dengan iman, ketakwaan, dan kontribusi sosial. Dalam pandangan Islam, uang hanyalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kepemilikan manusia bersifat sementara dan terbatas.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Al-Qur’an menegaskan hal itu dengan tegas: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanah atasnya” (QS. Al-Hadid: 7). Ayat ini jelas menyatakan bahwa hakikat harta bukanlah milik manusia, melainkan titipan dari Allah. 

Karena itu, setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana ia diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan. Rasulullah SAW pun memperingatkan bahaya orang yang menjadikan uang sebagai pusat hidup. “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham,” sabda beliau (HR. Bukhari). Begitu uang sudah menjadi tuan, manusia akan berubah status: bukan lagi hamba Allah, melainkan budak harta.

Bahaya ini terlihat nyata dalam kehidupan psikologis modern. Obsesi pada uang membuat manusia terus dihantui kecemasan. Takut miskin, takut kalah saing, takut kehilangan status sosial. Ketakutan itu berubah menjadi beban mental yang melahirkan stres, depresi, bahkan penyakit fisik. 

Lebih jauh lagi, obsesi ini merusak moralitas. Segala cara ditempuh demi uang, dari korupsi kecil-kecilan hingga skandal besar-besaran. Relasi sosial pun ikut hancur. Berapa banyak keluarga yang pecah hanya karena berebut warisan? Berapa banyak persaudaraan retak akibat hutang-piutang?

Al-Qur’an sudah mengingatkan sejak lama: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur” (QS. At-Takatsur: 1–2). 

Ayat ini mengingatkan betapa manusia bisa terlena oleh harta hingga lupa pada tujuan akhir hidupnya. Ketika ukuran kebahagiaan hanya ditentukan oleh banyaknya angka di rekening, maka lahirlah kegelisahan tanpa ujung. Padahal Islam sejak awal menuntun umatnya agar hidup dengan penuh kesederhanaan dan merasa cukup (qanâ‘ah), serta mensyukuri nikmat yang ada.

Islam juga memberi rambu-rambu jelas agar uang tidak berubah menjadi berhala. Larangan riba, misalnya, mencegah agar harta tidak tumbuh dengan menindas yang lemah. Larangan gharar atau transaksi yang tidak jelas mengajarkan transparansi dan keadilan. Larangan maysir, atau perjudian, menolak mental kaya instan yang menumpulkan etos kerja. 

Sebaliknya, Islam mendorong mekanisme ekonomi yang sehat: perdagangan yang adil, kerja sama bagi hasil, sewa yang transparan, serta filantropi melalui zakat, infak, dan wakaf. Semua ini bertujuan agar uang tetap mengalir secara adil di masyarakat, bukan menumpuk di segelintir tangan.

Justru di tangan orang beriman, uang bisa menjadi jalan ibadah. Dengan uang, seorang ayah bisa menafkahi keluarga dengan halal. Dengan uang pula kita bisa membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, membangun sekolah, masjid, atau rumah sakit. Instrumen zakat, infak, dan wakaf adalah sarana agar uang tidak berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan menjadi energi sosial yang menyejahterakan umat.

Namun, mari kita bercermin sejenak. Tidakkah kita sering menunda ibadah hanya demi pekerjaan, tapi jarang sekali menunda pekerjaan demi ibadah? Tidakkah keputusan moral kita sering kali tunduk pada kalkulasi untung-rugi semata? 

Tidakkah kita jauh lebih gelisah ketika saldo menipis daripada ketika kita lupa bersedekah? Jika iya, berarti ada tanda bahwa uang sudah naik pangkat dari alat menjadi “tuhan kecil” dalam hidup kita.

Lalu bagaimana agar uang tetap fitri, tetap pada posisinya sebagai alat? Islam memberi resep sederhana tapi mendalam: halalkan sumbernya, kelola dengan adil, dan gunakan untuk berbagi. Harta yang halal akan menumbuhkan keberkahan, sementara harta haram hanya akan menghapus nikmat. Mengelola dengan adil berarti mendahulukan kebutuhan, bukan gengsi. Membagi sebagian harta untuk orang lain akan membuat uang tidak menumpuk di hati, tetapi mengalir membawa manfaat.

Kuncinya adalah menempatkan uang di tangan, bukan di hati. Biarkan ia bekerja untuk membiayai pendidikan, menguatkan keluarga, menolong sesama, dan membangun peradaban. Jangan biarkan ia menguasai hati kita sehingga menggeser Allah dari pusat hidup. Pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya saldo, melainkan bersihnya niat, halalnya cara, adilnya pembagian, dan ikhlasnya berbagi.

ADVERTISEMENT

Al-Qur’an menutup peringatan itu dengan indah: “Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). 

Ayat ini menegaskan keseimbangan: gunakan harta untuk membangun dunia, tapi jangan lupa bahwa tujuannya tetap akhirat.

Maka, bila hari ini uang sering kali terlihat lebih berkuasa daripada nilai, lebih dihormati daripada iman, dan lebih ditakuti daripada Tuhan, inilah saatnya kita kembali menata. Uang hanyalah sarana. Tuhan tetap satu: Allah Yang Maha Kaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Menguatkan Pendidikan Praktik: Refleksi atas Penyerahan Mahasiswa Magang UNISAI ke Mahkamah Syar’iyah Bireuen

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com