• Latest
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

Agustus 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

Nurkhalis Muchtarby Nurkhalis Muchtar
Agustus 18, 2025
Reading Time: 3 mins read
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar,Lc, MA

Ulama nusantara yang bersinar dan memiliki keberuntungan di kota Mekkah adalah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Beliau merupakan guru besar di Masjidil Haram, Mufti resmi dalam Mazhab Imam Syafi’i, memiliki jaringan yang baik dengan pembesar kota Mekkah. Juga  menantu seorang hartawan yang dermawan Syeikh Saleh Kurdi. Bahkan menurut catatan Sejarawan Snouck, Syeikh Ahmad Khatib adalah seorang yang kukuh dalam prinsipnya serta benci kepada kaum penjajah Belanda. 

Bila ada seorang yang paling mempengaruhi pergerakan kemerdekaan, maka Syekh Ahmad Khatib adalah salah satu figur tersebut. Karena hampir seluruh pendiri organisasi keislaman di Indonesia merupakan murid-muridnya. 

Mulai dari Kiyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammaddiyah tahun 1912, Hadhratussyaikh Kiyai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdhatul Ulama tahun 1926, Syaikh Hasan Maksum pendiri al Washliyah tahun 1930, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang digagas oleh Syeikh Sulaiman al Rusuli Candung, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Abbas Qadhi Lawas (ayah dari KH Siradjuddin Abbas sang pengarang), dan gerakan kaum muda Padang yang di garda terdepan ada Syekh Abdul Karim Amrullah Inyiak Doktor (Ayah dari Buya Hamka) dan ulama lainnya yang tersebar di Nusantara kala itu adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. 

Syekh Ahmad Khatib juga sebagai ulama yang produktif dalam menulis. Beliau meninggalkan hampir 50 karya tulisnya, yang paling dikenal adalah Kitab Nafahat ulasan terhadap kitab al Waraqat dalam Ushul Fikih. 

Jika dirunut pada era kecemerlangan tersebut, maka di Aceh secara khusus dalam keadaan perang besar-besaran untuk mengusir para penjajah Belanda. Diperkirakan tahun 1881-1891 merupakan era yang paling kelam dalam sejarah perang Belanda. Karena di Aceh ketika itu ada Pemimpin yang gagah berani juga beliau seorang ulama besar yaitu Teungku Syeikh Muhammad Saman di Tiro atau yang dikenal dengan nama Teungku Chik di Tiro.

Beliau  juga lulusan dari Kota Mekkah setelah sebelumnya beliau belajar dari banyak para ulama Aceh seperti Teungku Chik Dayah Cut dan ulama lainnya. 

Pada masa Teungku Chik di Tiro ada beberapa figur kharismatik yang ikut andil dalam perjuangan, mereka adalah: Teungku Chik Dayah Cut di Tiro, Teungku Chik Tanoh Abee, Teuku Panglima Polem, Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Pante Geulima, Teungku Haji Muda Krung Kalee (Ayahdari Abu Hasan Krueng Kalee), Teungku Chik Buengcala, Teungku Fakinah, Teungku Muhammad Amin di Tiro, Teuku Umar Johan Pahlawan, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren, dan lain-lain. 

Maka tidak mengherankan bila orang sekelas Jenderal Kohler harus terbujur kaku di bumi Aceh, karena menghadapi para pejuang tersebut. Karena semboyan para pejuang ketika menghadapi penjajah Belanda “yang panyang takoeh Lhee, yang paneuk takoeh dua”. 

Saking takutnya para penjajah, mereka hanya bisa bersembunyi di balik benteng-benteng yang mereka bangun berlapis-lapis. 

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Kembali ke Syekh Ahmad Khatib, penulis lainnya yang juga karya-karyanya dicetak di Timur Tengah adalah Syeikh Mahfudz bin Abdullah Termas yang merupakan ahli Hadis kebanggaan nusantara. 

Saat penulis berkunjung ke Pustaka Masjidil Haram, penulis melihat langsung karyanya dalam beberapa jilid dan menjadi koleksi Perpustakaan Masjidil Haram. Ulama lainnya yang juga menulis kitab penting adalah Syekh Ihsan Jempes Kediri yang merupakan pengarang Kitab Sirajutthalibin dalam dua jilid tebal ulasan terhadap kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al Ghazali. 

Dan banyak lagi ulama lainnya sampai tahun 1916, ditandai dengan lahirnya Syekh Muhammad Yasin Padang, ulama Indonesia terakhir yang kiprah keulamaannya diperhitungkan di kancah Internasional.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Puisi-Puisi Zab Bransah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com