Dengarkan Artikel
Oleh Faril
Siswa SMK Negeri 1 Gandapura, Bireun, Aceh
Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Kenanga, yang terletak di lereng pegunungan dan dikelilingi hamparan sawah hijau, hiduplah dua sahabat karib sejak kecil: Bima dan Rehan. Mereka tumbuh bersama, bermain di sungai yang sama, memanjat pohon yang sama, dan bahkan bercita-cita untuk membangun masa depan di kampung tercinta.
Namun, takdir berkata lain. Setelah lulus SMP, Rehan harus ikut orang tuanya pindah ke kota karena ayahnya mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Hari itu, hujan turun perlahan seolah langit pun ikut menangisi perpisahan mereka. Bima mengantar Rehan hingga ke ujung jalan kampung sambil membawa payung reyot peninggalan kakeknya. Mereka berjabat tangan lama, dan janji pun diucap: “Suatu hari nanti, kita harus kembali ke kampung ini. Bersama-sama.”
Tahun demi tahun berlalu. Komunikasi mereka sempat terjalin melalui surat, lalu ponsel, tetapi perlahan memudar seperti kenangan yang mulai memudar di balik kesibukan hidup. Rehan tumbuh besar di kota, mengejar karier di dunia periklanan yang keras dan penuh tuntutan. Sementara Bima tetap di kampung, menjadi guru di sekolah dasar tempat mereka dulu belajar, menjaga sawah warisan orang tuanya, dan aktif membangun kegiatan pemuda di kampung.
Meski berbeda jalan, keduanya menyimpan satu hal yang sama: rindu. Rindu akan masa kecil, akan tawa tanpa beban, dan akan kampung yang penuh kenangan.
Suatu hari, dua puluh tahun sejak perpisahan mereka, Rehan mendapat kabar bahwa kampung halamannya akan dijadikan lokasi pembangunan pabrik besar yang akan menggusur sebagian lahan sawah dan hutan kecil di sekitarnya. Ia terkejut, sebab kampung itu adalah satu-satunya tempat yang memberinya rasa damai yang tak bisa ditemukan di kota mana pun. Tanpa pikir panjang, ia mengambil cuti panjang dari kantornya dan memutuskan kembali ke Kampung Kenanga.
📚 Artikel Terkait
Setibanya di kampung, Rehan merasa seperti kembali ke masa kecil. Udara segar, suara burung, dan aroma tanah basah menyambutnya. Namun yang paling mengejutkannya adalah sosok pria dengan kemeja batik sederhana yang menyapanya di jalan utama kampung: Bima.
Mereka saling terpaku sesaat, lalu tertawa dan berpelukan seperti anak kecil. Waktu memang telah mengubah mereka secara fisik, tapi tidak hati dan persahabatan mereka.
“Aku tahu kau pasti datang,” kata Bima.
“Aku juga tahu kau pasti masih di sini,” jawab Rehan.
Tanpa perlu banyak kata, mereka kembali menyatu dalam semangat yang dulu pernah mereka bangun. Bersama warga kampung, mereka mengadakan musyawarah, menyusun petisi, dan mendatangi kantor pemerintah setempat untuk memperjuangkan kampung mereka agar tetap lestari.
Rehan menggunakan koneksinya di kota untuk membantu kampung mempromosikan potensi wisata alam dan pertanian organik. Ia membuat video dokumenter tentang kehidupan desa yang sederhana tapi penuh makna, sementara Bima menjadi penggerak utama kegiatan pemuda dan pendidikan.
Perjuangan mereka tidak mudah, tapi membuahkan hasil. Pembangunan pabrik dibatalkan, dan sebagai gantinya, kampung didukung untuk menjadi desa wisata berbasis alam dan budaya.
Kini, Kampung Kenanga menjadi tempat yang tidak hanya menyimpan kenangan masa kecil mereka, tapi juga menjadi simbol kebersamaan dan perjuangan. Rehan memutuskan untuk tinggal di kampung dan membangun rumah di samping rumah Bima. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama, bukan lagi sebagai anak kecil, tapi sebagai dua pria yang pernah dipisahkan oleh waktu dan disatukan kembali oleh kampung tercinta.
Karena sejauh apapun langkah kaki membawa, kampung halaman adalah tempat di mana hati akan selalu kembali.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






