POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bung Hatta: Teguran Sunyi untuk Negeri yang Lupa Diri

RedaksiOleh Redaksi
August 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Elza Peldi Taher

Tujuh puluh tahun lalu, seorang wakil presiden menolak hadiah mobil mewah Cadillac dari seorang pengusaha. “Saya tidak bisa menerimanya. Kalau saya butuh mobil, negara akan membelikan. Kalau negara tak mampu, biar saya berjalan kaki,” katanya. Itulah Bung Hatta, pemimpin yang memilih kesederhanaan ketika godaan kemewahan mengulurkan tangan.

Pada 12 Agustus 2025, Bung Hatta genap berusia 127 tahun seandainya masih hidup. Usianya memang tak lagi bisa dihitung dengan kalender, tetapi pikirannya, teladannya, dan etikanya masih terasa relevan, bahkan semakin mendesak , di tengah Indonesia yang kini dilanda krisis integritas, kesenjangan ekonomi, dan kebisingan politik tanpa arah.

INTEGRITAS YANG TAK DINEGOSIASIKAN

Untuk negeri Indonesia, mencari pemimpin seperti Bung Hatta hanya seperti impian. Ia seorang pembaca buku yang rakus, seorang pejabat negara, tetapi tetap hidup sederhana. Kesederhanaannya bukan sekadar gaya hidup, tetapi buah dari prinsip: tidak korupsi, tidak memperkaya diri dari jabatan.

Di Indonesia kini, kesederhanaan seperti itu menjadi barang langka. Kekayaan sering dianggap sinonim dengan kekuasaan; jabatan nyaris selalu diasosiasikan dengan harta berlimpah. Bung Hatta membalik logika itu: punya jabatan, tapi tidak kaya; justru jabatan ia gunakan untuk menjaga martabat, bukan menggelembungkan rekening.

Bahkan ketika pensiun, ia harus meminjam uang untuk membeli mesin jahit demi menambah penghasilan. Kini, ketika kita melihat pejabat berfoto di depan supercar atau menggelar pesta mewah, pertanyaan sederhana Bung Hatta kembali mengetuk: “Untuk apa kekuasaan jika hanya untuk memuaskan diri?”

KAPAL BUKU BUNG HATTA


Bung Hatta bukan hanya seorang politikus dan ekonom, ia seorang pencinta ilmu sejati. Putrinya, Gemala Hatta, bercerita bahwa ketika ayahnya kembali dari Belanda ke Indonesia, diperlukan beberapa kali perjalanan kapal hanya untuk mengangkut koleksi bukunya.

📚 Artikel Terkait

Sastra Kearifan Lokal Aceh sebagai Materi Ajar Kurikulum Merdeka

Kopling (Kopi Keliling)

Memotret Alue Pineung

KITA BUTUH NEGERI YANG MERDEKA

Buku-buku itu mencakup ekonomi, sejarah, filsafat, hukum, hingga sastra—menandakan luasnya cakrawala pikir Bung Hatta. Ia membaca bukan sekadar untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk memperkuat fondasi berpikir dalam memimpin dan membela bangsanya.

Pernah ia berkata, “Saya rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku saya bebas.” Kata-kata ini bukan metafora kosong, melainkan refleksi hidupnya yang dibentuk oleh bacaan. Di masa ketika sebagian pejabat sibuk mengoleksi mobil mewah atau jam tangan mahal, Bung Hatta mengoleksi sesuatu yang tak bisa dinilai dengan uang: ilmu pengetahuan.

DEMOKRASI YANG MENDIDIK

Bagi Bung Hatta, demokrasi bukan sekadar pemilu lima tahunan, melainkan pendidikan politik rakyat. Ia percaya kebebasan harus disertai kesadaran, bukan hanya hak memilih.

Kini, Indonesia memang demokratis secara prosedural, tetapi minim oposisi yang berani dan minim pendidikan politik yang mencerdaskan. Yang berkembang justru politik transaksional dan perebutan kursi tanpa etika. Bung Hatta mengingatkan: “Kekuasaan tanpa moral adalah petaka bagi rakyat.”

Puncak integritasnya terjadi pada 1956, ketika ia mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Alasannya sederhana tetapi tajam: perbedaan prinsip dengan arah kebijakan negara yang tak lagi sejalan.

Hari ini, mengundurkan diri karena prinsip hampir seperti fosil politik: jarang ditemukan. Bung Hatta memilih meninggalkan jabatan daripada meninggalkan dirinya sendiri.

TEGURAN SUNYI

Bung Hatta seolah berdiri di tepi sejarah Indonesia hari ini, memandang dari jauh dengan senyum tipis dan tatapan prihatin. Bukan karena ia benci pada bangsanya, tetapi karena ia tahu bangsa ini bisa lebih baik jika mau kembali pada nilai-nilai yang ia perjuangkan: integritas, kesederhanaan, keadilan, dan gotong royong.

Mencari pemimpin seperti Bung Hatta kini bagaikan mencari semut hitam di malam yang kelam. Tapi bangsa ini tetap berharap, suatu saat akan lahir pemimpin seperti beliau.

Cisarua 13 Agustus 2025

Elza Peldi Taher

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Langkah" Sehat, Apis”

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00