Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Dalam setiap langkah yang kutempuh jauh dari kampung halaman, ada rindu yang diam-diam tumbuh di dada. Rindu yang tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika senyum tersungging dan tawa menggema di tengah keramaian kota. Rindu itu datang dari suara mamak yang mulai pelan saat menelepon, dari pesan ayah yang singkat, namun sarat makna, dan dari bayangan rumah di sudut selatan Aceh yang selalu hangat dalam ingatan.
Ada tawa juga—tawa yang terkadang muncul untuk menyembunyikan sepi. Tawa bersama kawan seperjuangan di perantauan, tawa di tengah lelah mengerjakan tugas, tawa getir karena sadar bahwa menjadi dewasa adalah memilih untuk tetap kuat ketika hati ingin pulang.
Tapi di balik tawa itu, air mata seringkali jatuh tanpa suara. Saat malam tiba dan pelukan orangtua hanya bisa diingat, bukan dirasakan. Saat makanan hangat buatan mamak hanya tersisa dalam ingatan, bukan di meja makan.
Aku berasal dari sebuah sudut sunyi di sebuah desa yang berada di Aceh Selatan. Tempat di mana suara azan terdengar lembut seperti bisikan mamak disaat membangunkan aku sahur, seperti suara ikhlas tapak kaki mamak yang beranjak dari kamar di saat aku pulang tengah malam untuk sekadar membuka pintu. Padahal ia sudah lelah dihantam lelah oleh dunia di siang hari , dan aroma kopi hitam terasa lebih dari sekadar minuman, ia adalah pengikat cerita, pelipur rindu, dan saksi percakapan paling jujur antara anak dan orangtua.
Dari sanalah aku melangkah, menjejak jalan panjang menuju ibu kota provinsi. Bukan untuk mengejar gemerlap kota, tapi untuk memenuhi sebuah janji yang tak terucap, yang diam-diam diselipkan mamak di balik doa dan pelukannya di pagi perpisahan itu.
📚 Artikel Terkait
Pergi dari kampung bukan perkara mudah. Setiap langkah yang kutempuh adalah tawar-menawar antara cita-cita dan air mata. Ada rindu yang menggantung di setiap helai baju yang tak sempat dicuci mamak sebelum aku pergi. Ada pesan-pesan sederhana yang terus mengiang: “Jangan lupa shalat nak, Jangan lupa jadi orang baik.” Dan yang paling sering, “Ingat, nak, ilmu itu penting, tapi lebih penting lagi cara kamu memperlakukan orang.”
Di kota, aku belajar banyak hal—tentang dunia, tentang sistem, tentang betapa manusia bisa begitu pintar, tapi juga begitu dingin. Aku melihat bagaimana ijazah bisa membuka pintu, tetapi hanya adab dan etika yang bisa membuat kita diterima di dalamnya. Di ruang kelas, aku menulis makalah tentang ekonomi dan ketimpangan sosial, tapi di jalanan dan lorong-lorong gelap aku belajar tentang anak-anak yang putus sekolah, tentang senyum yang dijual demi sesuap nasi, dan tentang bagaimana tidak semua orang punya kemewahan untuk bermimpi.
Semakin lama di sini, aku semakin mengerti pesan ayah saat mengantar ke halaman rumah sebelum aku berangkat: “Pulanglah nanti, bukan hanya membawa kertas, tapi bawalah sesuatu yang bisa membuatmu jadi cahaya di kampung halaman.” Dulu aku mengira itu hanya kalimat perpisahan. Tapi kini aku tahu, ia sedang menitipkan harapan agar aku tidak hanya jadi sarjana, tapi jadi manusia yang utuh—yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan harus berdiri di sisi yang benar meskipun sendirian.
Menempuh pendidikan jauh dari rumah adalah ujian yang lebih dari sekadar akademik. Ini tentang kesetiaan pada nilai, pada akar, dan pada mereka yang diam-diam selalu menyebut namaku dalam doanya. Aku ingin pulang, bukan sebagai orang yang sekadar pintar bicara soal teori, tapi sebagai seorang anak dari sebuah desa yang ada di Aceh Selatan yang tidak lupa jalan pulang, tidak lupa cara bersyukur, dan tidak lupa pada siapa ia pertama kali belajar kasih sayang—di rumah yang tak pernah megah, tapi selalu hangat.
Dan jika kelak aku berhasil, itu bukan semata karena kepintaranku, tapi karena rindu yang kujaga, air mata yang kutahan, dan doa yang tak pernah absen dari mereka yang selalu menungguku kembali.
Teruntuk ayah dan mamak terima kasih telah memberi bekal yang dibaluti dengan payung doa kalian yang selalu membersamaku setiap langkah ini, mereka pernah berucap ” Nak kami takut jika kelak kamu tak jadi apa-apa nak” sekarang aku jawab dengan lantang ” Mak, ayah, aku takut jika kelak aku sukses kalian tak dapat merasakannya”. Salam hangat dan penuh cinta dari anakmu Rivaldi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






